Home » Kolom SMILOKUI » H(W)ARTAWAN

H(W)ARTAWAN

”APAKAH pekerjaan Anda sekarang ini benar-benar pilihan hidup Anda?”
Pertanyaan itu mudah dilemparkan tapi susah dijawab. Bilapun menjawab, nada kalimat sebagian dari kita berkesan tidak mantap, dan barangkali dilengkapi dengan aksi garuk-garuk kepala.
Saya pun demikian setiap ditanya apakah wartawan benar-benar pilihan hidup saya. ”Kayaknya sih begitu, tapi….”
Kalau yang bertanya anak-anak SMA saat saya memberi pelatihan jurnalistik untuk mereka, adakalanya saya harus ngeles. Maklum, tujuan pelatihan itu antara lain menarik minat mereka, ya siapa tahu di antara mereka ada yang tertarik jadi wartawan. ”Saya ini lulusan IKIP seperti guru-guru kalian. Tapi karena saya nggak berpotongan jadi guru, ya saya jadi wartawan saja. Menyenangkan kok jadi wartawan itu.”
Tentu saja dalam forum seperti itu saya harus menceritakan yang asyik-asyik. Mario Teguh atau Tung Desem Waringin atau siapapun orangnya yang lagi jadi motivator tentu saja lebih banyak bercerita yang bagus-bagus, yang sukses-sukses.
Betulkah menyenangkan menjadi wartawan? Namanya juga profesi atau pekerjaan, pasti ada yang menyenangkan dan yang tidak. Pertanyaan standar yang diajukan wartawan ketika mau menulis profil seseorang umumnya: bisa Anda ceritakan suka-duka Anda sebagai…?
Tapi di kolom ini saya tak hendak menceritakan suka-duka menjadi wartawan.  Selain ”jam terbang” saya belum seberapa lama, saya juga tidak sedang menulis profil diri sendiri, bukan? Saya hanya ingin membagi satu rahasia kecil kepada Anda, Pembaca nan bijak, bahwa kecuali untuk tugas-tugas jurnalistik, dalam keseharian saya lebih suka orang lain tidak mengetahui pekerjaan saya. Mohon dicatat: ini pendapat personal saya dan tidak mewakili kolega seprofesi.
Benar, awal-awal menjadi wartawan, dalam obrolan sambil lalu di lobi hotel, peron stasiun, kafe, warung angkringan, atau tempat-tempat umum lainnya, pertanyaan mengenai pekerjaan, saya jawab apa adanya. Sebagian hanya menjadi pertanyaan basa-basi. Tapi sebagian yang lain bisa membuat duduk saya tidak jenak, kopi yang memang pahit jadi terasa getir, rokok serasa tinggal racunnya saja tanpa kenikmatan.
Itu bila saya bertemu orang yang beranggapan seolah-olah wartawan itu haibat, Puan/Tuan Tahu Segala, dan sebagainya. Ada orang yang lantas mencerocos sembari memaki-maki dan menjelek-jelekkan orang atau kelompok tertentu sambil mengunjukkan telunjuk mendesis keras, ”Tulis itu, Mas!”
Ada orang yang dengan enteng bertanya, ”Mas kan wartawan, jadi pasti tahu informasinya, apakah benar Jendral (nama sengaja tidak saya sebutkan) itu impoten akibat disiksa musuh?”

***

DAN banyak lagi lainnya, termasuk semasa togel beredar. ”Wartawan itu kan sering pintar memperkirakan sesuatu. Kira-kira nomor buntutan yang akan keluar malam nanti berapa, Mas?” Alamakjah!
Saya tahu, semua itu harus saya terima sebagai bagian dari profesi. Lebih-lebih, dalam jurnalistik, sebuah berita bisa lahir dari yang sambil lalu dan basa-basi itu. Tapi saya juga punya hak duduk santai, minum kopi dengan nyaman, merokok dengan asyik, bukan?
Itulah, bila tidak untuk keperluan jurnalistik, saya lebih suka ”menyembunyikan” pekerjaan saya. Dan itu sering lebih mengasyikkan. Misalnya, kisah ini: suatu siang dalam perjalanan, hujan turun dan saya ngiyup di suatu gazebo kecil tempat tukang parkir duduk. Tukang parkir itu lelaki separo baya. Kami mengobrol. Tentu saja ketika dia bertanya pekerjaan, saya jawab, ”Swasta”. Dia lebih banyak bercerita tentang dirinya. Selain menjadi tukang parkir, dia punya pekerjaan lain. Apa?
Dia membuka dompet, dan dengan tersenyum, ”Ini!” Sebuah kartu pers. Saya baca nama media massanya dan setahu saya saat itu, tak ada koran atau majalah atau media online dengan nama yang tertera di kartu itu.
”Oh, Bapak wartawan, ya?” tanya saya (sengaja) dengan nada kagum. ”Tidak cuma saya, istri dan anak saya juga. Parkir ini nanti gantian sama anak saya. Dia lagi jalan. Saya gantian yang jalan, ya liputanlah….”
Setelah pergi dari situ, saya berpikir, percakapan kami perihal kewartawanannya itu begitu lancar sangat mungkin karena si bapak tidak tahu pekerjaan saya.
Oya, satu hal lagi, saya juga sering termehek-mehek tanpa pelampiasan ketika ada orang-orang yang dengan yakin bilang, ”Wartawan itu pasti kaya. Uangnya banyak.”
Nah, kalau orang banyak harta itu hartawan, beberapa orang kampung saya pernah menyematkan predikat itu untuk saya. ”Katanya jadi hartawan ya di Semarang?” Sungguh, saya tidak salah dengar, sebab ”h” bukan ”w” sebagai huruf pertama kata itu diulang beberapa kali dan oleh beberapa orang.
Saya memang membetulkan kata yang tepat, tapi dalam hati, sebutan itu saya anggap sebagai doa. Semakin banyak yang mendoakan, semoga bisa terkabul. Amin allahuma…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 23 Juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: