Home » Uncategorized » TANTANGAN RIZAL

TANTANGAN RIZAL

KENAPA kritik Menteri Rizal Ramli kepada Menteri Rini Soemarno dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menimbulkan kehebohan? Seperti sudah banyak diberitakan, sehari setelah dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal mengkritik Menteri BUMN Rini Soemarno agar Garuda Indonesia membatalkan pembelian sejumlah pesawat untuk penerbangan jarak jauh.

”Penerbangan jarak jauh itu hanya akan merugikan. Penerbangan Jakarta-Amerika Serikat dan Jakarta-Eropa tidak laku,” ujar Rizal.

Menteri Rini tak menanggapinya secara serius dan hanya berujar, ”Proyek Garuda bukan urusan Pak Ramli.”

Kemudian Rizal mengkritik agar Program Listrik 35 ribu megawatt itu direvisi. ”Target 35 ribu megawatt itu tidak realistis karena sedang terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi.”

Menteri ESDM Sudirman Said yang bertanggung jawab atas proyek listrik itu tak terlalu menanggapi ”omongan”koleganya itu. Yang bereaksi justru Wakil Presiden Jusuf Kalla. Intinya, Kalla menganggap Rizal asal kritik tanpa tahu duduk persoalannya. Dianggap tidak tahu, Rizal menantang Kalla untuk debat publik mengenai masalah tersebut. Inilah yang lalu jadi sumber kehebohan: ada menteri menantang wakil presiden berdebat di depan publik.

”Biasa saja tuh,” komentar singkat Jon Lebay dengan ekspresi muka dingin.

”Seorang menteri mengurusi urusan menteri lain dan menantang wakil presiden debat terbuka kok biasa,”sergah saya.

”Yang bikin heboh kan orang-orang seperti kalian yang selalu memburu nilai berita dari fakta tertentu. Kalau para menteri saling kritik, wah ini nilai beritanya tinggi. Kalau ada menteri nantang bosnya, wah ini baru berita. Sayang yang diberitakan cuma sensasinya doang, bukan inti kritikannya.”

Saya diam beberapa saat merenungkan ucapan kawan saya itu. Mungkin Jon benar, sebab berita yang lantas mengalir seputar kritik dan tantangan debat terbuka yang dilakukan Menteri Rizal Ramli memang baru potongan statemen yang lalu berkesan ada konflik di antara para pejabat negara tersebut. Dan memang, belum banyak media massa yang mengulas topik yang diperbalahkan.

”Makanya kalau ada debat terbuka kan bagus. Rakyat jadi paham apakah rencana pembelian pesawat itu perlu dan pembangunan listrik bertarget 35 ribu megawatt itu realistis.”

”Tapi apa etis seorang menteri mengajak atasannya berdebat secara terbuka?”

”Apakah ada peraturan yang melarang seorang menteri mengkritik menteri lainnya? Apakah ada larangan seorang menteri mengkritik presiden dan wakil presiden?”

”Saya ndak tahu, Jon. Tapi ini kan soal etis atau tidak. Masa seorang bawahan terang-terangan melawan bosnya dan itu disiarkan secara luas? Wibawa bos bisa terancam dong.”

”Di Inggris dan beberapa negara Eropa, yang kayak Pak Rizal itu biasa. Dulu saat Robin Cook jadi Menteri Luar Negeri Inggris, dia terang-terangan mengkritik PM Tonny Blair mengenai kebijakan terkait Irak. Biasalah itu.”

”Tapi ini Indonesia, Jon. Kalau ada yang berbeda pendapat, orang langsung menghubung-hubungkanya sebagai permusuhan antarpribadi. Kalau misalnya kau dan saya dalam suatu forum saling menyerang dan mengkritik, orang langsung membatin bahwa pertemanan di antara kita sedang dalam kondisi berbahaya. Akan muncul beberapa spekulasi, misalnya bahwa kau dan saya sedang rebutan sesuatu, rebutan proyek misalnya. Intinya, akan muncul anggapan bahwa kita sedang berkonflik, bukan semata perbedaan pendapat yang niscaya dalam alam demokrasi ini.”

”Gampang sebenarnya membuang kesan konflik di antara orang-orang yang berbeda pendapat. Caranya bahkan sederhana kok.”

”Maksudmu?”

”Katakan saja kita saling serang di dalam forum. Begitu selesai, kau akan aku ajak ngopi dan ngobrol hal-hal ringan seperti biasa. Kita bisa tertawa-tawa dan orang-orang yang menganggap ada konflik di antara kita bakal kecele. Bahkan kalau kita berdua ini orang top, yah katakan kita ini pejabat negara, undang para wartawan itu ngopi bersama kita.”

”Menarik juga ya, Jon.”

”Dulu M Natsir matian-matian mengkritik DN Aidit dalam banyak forum. Tapi setelahnya, mereka berdua asyik makan satai ayam. Ada juga menteri yang garang mengkritik menteri lain, eh pulangnya boncengan sepeda.”

”Tapi itu kan dulu, Jon.”

”Kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak? Jadi, setelah garang mengkritik Bu Rini, Pak Rizal bisa mengundang Bu Menteri untuk ngopi atau makan lesehan. Obrolannya bukan soal pesawat melainkan cerita keseharian atau pengalaman masa lalu yang heboh-heboh yang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kabinet. Jangan lupa undang wartawan.”

”Bagaimana bila ada wartawan yang malah menulis begini: ‘Perselingkuhan di Antara Menteri Kabinet Jokowi-JK?’Atau, ‘Ternyata Rizal Mantan Pacar Rini’. Atau, ‘Kritik Rizal Bermotif Dendam Asmara’….”

”Sudah, sudah, itu urusanmu. Suruh sekolah lagi wartawan yang begitu.” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 23 Agustus 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: