Home » Kolom SMILOKUI » PASAL PUJIAN UNTUK PRESIDEN

PASAL PUJIAN UNTUK PRESIDEN

JON LEBAY ngopi santai dengan Presiden Joko Widodo di sebuah kafe. Tidak perlu heran dan terburu-buru berkomentar nyinyir, ”Memangnya Jon Lebay itu siapa sih?”
Ini hanya percakapan imajiner. Dalam imajinasi, apa sih yang tidak mungkin?
”Apa kabar, Pak Presiden Joko Widodo,” sapa Jon begitu mereka berdua duduk.
”Baik dan sehat, Dik… Dik siapa?”
”Jon Lebay, Bapak Presiden.”
”Nah Dik Jon, kalau dengan saya ini ndak perlu formal-formalan, ah. Kita kan mau santai-santai sambil ngopi. Panggil Pak Jokowi saja. Apalagi ini saya sedang nyamar. Eh jangan salah, saya ini sering diam-diam keluar rumah, ngobrol dengan orang-orang di warung kopi atau lesehan tanpa pengawal. Saya ingin mencontoh cara Umar bin Khattab.”
”Wah hati-hati, Pak Jokowi. Kalau sampai ada apa-apa….”
Insyaallah saya aman-aman saja. Saya ini diuntungkan oleh orang-orang yang mirip saya. Kalau ada yang ngonangi, dia akan bilang, ‘Eh si Bapak ini mirip banget dengan Pak Jokowi.”’
Omongan itu terbukti saat gadis pramusaji datang. Sebelum bertanya pada kami hendak pesan apa, dia bilang, ”He Bapak mirip banget dengan Pak Presiden. Mau pesan apa, Pak Jokowi?”
Jon melihat Pak Jokowi tersenyum. ”Kopi hitam panas dua. Saya ini mirip dengan Pak Jokowi yang presiden ya, Mbak?”
”Banget, Pak.”
”Jadi saya pantas jadi presiden, Mbak?”
”Wah, kalau itu, saya nggak tahu, Pak. Wajah boleh mirip, tapi nasib nggak selalu sama. Iya kan, Pak?”
”Iya, iya, betul, Mbak.”
Setelah gadis pramusaji berlalu, Pak Jokowi berbisik pada Jon Lebay. ”Betul, kan? Tapi apa wajah saya ini pasaran, Dik Jon?”
”Dibandingkan yang mirip-mirip dan pernah ditayangkan televisi dan koran, Pak Jokowi lebih ganteng. Lebih berwibawa.”
”Ah apa iya? Kamu hanya hendak menyenangkan saya saja. Ingat Dik Jon, saya ini sudah kenyang pujian. Orang-orang di sekitar saya kerjanya memuji saja. Menjilat saja kerjanya.”
”Hmm, maaf Bapak, tapi kenapa tempo hari Bapak bilang kepada pers bahwa Bapak sudah biasa dihina? Bapak bilang sejak jadi wali kota, gubernur, dan sekarang presiden, Bapak sering dihina. Bapak malah sempat bilang, ‘Kalau mau, saya bisa memidanakan yang menghina itu. Tapi saya tidak melakukannya.’ Benar kan Bapak bilang begitu?”
”Sudahlah. Tunggu kopinya datang.”
”Maaf, saya ingin tahu alasan Bapak tidak memidanakan para penghina itu.”
”Ah, sebagai orang Jawa saya bilang itu hanya gurem ceceker. Hanya kutu di kaki ayam. Hanya kongkang mangungkung nang jero leng. Hanya suara katak di dalam lubang.”
”Tapi Bapak tidak ikhlas betul.”
”Kok Dik Jon bisa bilang begitu?”
”Lah Bapak malah mengusulkan mau menghidupkan kembali Pasal Penghinaan terhadap Presiden yang sudah dicabut Mahkamah Konstitusi (MK). Itu artinya Bapak ingin melindungi diri dari penghina.”
”Ya ndak begitu toh, Dik Jon. Pasal itu malah akan melindungi orang-orang yang memang ingin mengungkapkan pikiran tentang saya. Jadi, mereka akan mengkritik dengan proporsional dan rasional.”
”Tidak usahlah, Pak, pasal itu diungkit-ungkit lagi. Saya ini tidak banyak tahu soal hukum. Tapi kata para pakar hukum, keputusan MK mengenai pasal tersebut sudah final dan definitif. Nanti hanya kayak menggarami air laut atau kayak gelembung sabun. Hanya besar diwacanakan lalu plas, lenyap.”
”Begitu ya, Dik Jon. Punya saran bijak untuk saya?”
”Saya bukan orang bijak, Pak. Saya belum layak memberi saran bijak. Tapi saya punya ode untuk Bapak?”
”Ode? Makanan atau apa itu?”
”Masa Bapak tidak tahu? Jadi presiden katanya harus serbatahu. Payah! Presiden bodoh itu namanya.”
Jon melihat kening Pak Jokowi berkerenyit.
”Kamu menghina saya, Dik Jon.”
”Bapak akan memidanakan saya?”
”Eh….”
”Maafkan atas kelancangan saya, Bapak. Tapi saya tidak bermaksud menghina. Saya hanya ingin tahu reaksi Bapak secara langsung terhadap kata-kata penghinaan. Rupanya saya berhasil. Bapak temperamental. Padahal selama ini Bapak dikenal sebagai orang yang kalem dan penyabar, loh.”
”Oh, iya, yah. Maaf kalau begitu, Dik Jon. Tapi saya memang tidak tahu ode itu apa. Yah, presiden kan juga bukan superman atau Mister Know-all, si Tuan Serbatahu.”
”Tapi jangan salahkan rakyat yang ingin punya presiden kayak superman dan Tuan Serbatahu. Mereka kan dulu memilih Bapak karena harapan seperti itu. Baiklah, ode itu puisi puja-puji untuk seseorang. Saya punya untuk Bapak.”
”Puisi puja-puji?”
”Betul. Saya bacakan ya, Pak: O matahari bersinar lembut bersama bayangan Kawan Presiden/burung-burung bulbul pun takjub oleh kemerduan suara Kawan Presiden./Dunia terang, alam riang, orang bersenang-senang,/semua berkat Kawan Presiden./Mari kita gaungkan nama Kawan kita yang agung itu ke ujung horizon.”
”Sebentar, Dik Jon? Kawan Presiden? Sebutan ‘kawan’ itu kan sering dipakai untuk Lenin, Stalin, Kruschev, Breznev, dan Mao Tse Tung. Dan puisi seperti itu kan sering dipakai untuk menjilat-jilat para pemimpin di Uni Soviet almarhum dan Tiongkok dulu?”
”Betul. Terbukti Bapak tidak bodoh.”
”Saya ndak mau ode itu. Nanti saya malah dihina lagi. Orang-orang akan menghina saya sebagai komunis.”
”Puja-puji malah lebih berbahaya,Pak. Kalau Bapak ngeyel ingin menghidupkan lagi pasal penghinaan itu, saya akan mengusulkan ‘Pasal Pujian terhadap Presiden’. Banyak pujian menjerumuskan orang ke jurang kehinaan, Bapak.”
Percakapan imajiner itu jeda untuk beberapa saat ketika gadis pramusaji datang membawa dua cangkir kopi.(*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 9 Agustus 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: