Home » Kolom SMILOKUI » SEBUAH PISANG

SEBUAH PISANG

SUATU malam, mobil Maria hampir menabrak Dante yang berdiri sembari mengelus-elus seekor anjing di jalanan yang sepi di Roma, Italia. Itulah kali pertama mereka berkenalan. Dan pada perkenalan itu, Maria melihat Dante seperti kembaran suaminya, Johnny Stecchino.
Johnny adalah mafia di Palermo yang sedang diburu mafia lain bernama Cozzamara sehingga harus selalu bersembunyi di bunker rumahnya. Dante adalah lelaki lugu yang sehari-hari bekerja sebagai sopir bus pengantar anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah di Roma. Wajah dan tubuh Dante yang begitu mirip Johnny memberi peluang Maria untuk menjadikan Dante sebagai sasaran Cozzamara. Jadi, bila Dante yang dikira Johnny itu terbunuh, si Johnny asli bersama Maria bisa bebas keluar sebelum pergi ke Argentina.
Maria mengundang Dante ke Palermo. Skenario yang dikembangkan Maria berjalan lancar sebelum perempuan itu merasa muak terhadap sang suami. Kemuakan itu membuatnya bersepakat dengan Cozzamara untuk menyerahkan Johnny asli. Dia diberondong tembakan di sebuah toilet. Dante yang selamat, lebih tepatnya diselamatkan Maria kembali ke Roma.
Saya menonton kisah itu dalam film Johnny Stecchino. Film lama garapan Roberto Benigni pada 1991. Seperti dalam beberapa film garapannya seperti La Vita e Bella (1997), Pinocchio (2002), dan La Tigre e La Neve (2005), Roberto menjadi pemain utama bersama istrinya, Nicoletta Braschi. Dan seperti seluruh film Roberto, baik sebagai aktor maupun sutradara merangkap aktor, Johnny Stecchino adalah film komedi. Aksi kekerasan gaya gangster atau mafia yang ada di dalamnya dibesut dengan cara-cara komedis. Jadi, dalam seluruh film, tak ada sama sekali adegan yang memperlihatkan darah muncrat.
Saya memang menyukai hampir semua film dan gaya akting Roberto. Dia benar-benar meyakinkan kita bahwa ”la vita e bella” (hidup itu indah) bila kita menjalaninya dengan penuh kegembiraan. Dalam La Vita e Bella, film yang mendapat banyak penghargaan di Festival Film Cannes dan Piala Oscar, kamp konsentrasi Nazi tempat dia dan anak istrinya disekap hanyalah wahana permainan petak umpat.

***

PALING menarik dalam Johnny Stecchino, menurut saya, adalah pencurian sebuah pisang yang menjadi bagian kisah. Bagi si lugu Dante, mencuri sebuah pisang di sebuah toko buah di Palermo adalah tindakan yang sangat riskan. Hanya untuk sebuah pisang, orang Palermo bisa memburunya dengan tembakan beruntun.
Begitulah simpulan Dante seperti yang dia ceritakan pada Lilo, temannya yang menyandang gangguan mental.
Se vai a Palermo, non toccare le banane. Non mangiarle perche sono permalosi. Ti ammazzano per una banana.” (Kalau pergi ke Palermo, jangan kau sentuh pisang. Jangan memakannya sebab orang-orangnya gampang marah. Mereka bisa membunuhmu hanya untuk sebuah pisang).
Membunuh hanya untuk sebuah pisang? Itu pendapat Dante sebab dia memang diberondong tembakan dari anak buah Cozzamara saat mengutil sebuah pisang di kios buah milik Nicola Travaglia. Dia memang tidak tahu bahwa pemberondong itu mengira dirinya Johnny Stecchino.
Tapi memang, banyak hal besar berasal dari sesuatu yang sepele. Kita juga punya kisah pencurian buah yang lalu besar penceritaaannya. Pada 2009, Nenek Minah di Banyumas dihukum satu bulan 15 hari karena mencuri tiga buah kakao. Di Kediri Jatim, Basar Suyanto dan Kholil dihukum 15 hari lantaran mencuri sebuah semangka.
Sudah sama-sama kita tahu, kedua kasus itu mengharu-biru media massa dan memunculkan reaksi keras dari banyak kalangan. Wacana mengenai ketidakadilan hukum berkumandang.
Satu lagi kasus yang rupanya luput dari pers, yaitu pencurian singkong oleh seorang nenek. Saya membacanya dari sebuah situs di internet. Nenek itu mencuri karena dia, anak lelakinya yang sakit, dan seorang cucunya kelaparan. Hakim Marzuki menjatuhi hukuman denda Rp 1 juta atau penjara selama 2,5 tahun.
Tapi sang hakim melakukan satu gebrakan sebelum mengetukkan palu. Dia membuka toga dan memasukkan Rp 1 juta yang dia ambil dari dompetnya. Selanjutnya, dia mendenda setiap orang yang hadir pada persidangan sebesar Rp 50 ribu. ”Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar 50 ribu rupiah, sebab menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya. Saudara Panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”
Andai banyak orang, hakim atau bukan, yang seperti Hakim Marzuki…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 16 Juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: