Home » Kolom SMILOKUI » SHAKESPEARE (JUGA) PUNYA NAMA

SHAKESPEARE (JUGA) PUNYA NAMA

DIA sudah menandai benda-benda di sekitarnya dengan nama-nama. Yang terbang di udara itu burung. Yang berenang-renang di dalam air itu ikan. Yang ada di atasnya itu langit. Di langit yang memancar panas pada hari terang itu matahari. Di langit yang bercahaya pada hari gelap adalah bulan. Bercak-bercak bercahaya yang berserakan di langit itu bintang-bintang. Dia juga sudah ditandai sebagai insan atau manusia.

Tapi andaikan saja Adam tak memiliki nama diri, tak tahu bahwa nama dirinya Adam, dan hanya memiliki sebutan sebagai insan, suatu situasi karut-marut bakal segera terjadi seturut kehadiran Hawa, yang ketika itu juga belum memiliki nama diri.

“Kalau dilihat bentuknya, kau hampir serupa diriku,” begitu ujar Adam mengawali percakapan, “Kau insan seperti diriku bukan burung atau ikan. Tapi sebagai insan, kau berbeda dariku. Jadi, kau insan yang berbeda.”

“Lantas, kau kusebut apa? Kau juga berbeda dariku. Apakah kau juga Insan yang Berbeda?”

Adam mengernyitkan kening, “Rasanya agak aneh. Dua insan yang berbeda memiliki sebutan sama, itu aneh.”

Adam lalu berpikir serius. “Aha, begini saja, sebut aku laki-laki dank aku perempuan.”

Sejak itu Adam memanggil Hawa “perempuan” dan Hawa memanggil Adam “laki-laki”.

“Hai Perempuan, mari melihat bintang-bintang. Hai Perempuan, mari menangkap ikan. Aduhai Perempuan, ayo kita petik bebuahan dan kembang-kembang.”

“Baik, Laki-laki. Oh bunga itu indah sekali. Maukah kau memetikkan untuk Perempuan ini?”

Karena mereka hanya berdua, sebutan itu belum memunculkan kekarut-marutan. Lalu lahir anak-anak mereka. Anak pertama laki-laki dan Adam membatin, “Ini insan serupa diriku tapi kecil.” Dia lalu memberinya sebutan “Laki-laki Kecil”. Anak kedua perempuan, Adam membatin, “Ini serupa Perempuan tapi kecil.” Si anak disebut “Perempuan Kecil”.

Sampai di situ belum pula muncul kekacauan. Tapi begitu anak-anak selanjutnya lahir, laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa mulai bingung. Ketika mereka tumbuh menjadi kanak-anak, remaja, dan beranjak dewasa, kekacauan sebutan itu sering memunculkan persoalan serius.

“Hai Perempuan, tolong panggilkan Laki-laki Kecil.”

“Yang mana, hei Laki-laki?”

Pembaca, kekacauan seperti itu tidak kita baca dalam cerita mengenai Adam, Hawa, dan anak-anak mereka. Selain Adam dan Hawa sudah memiliki nama, anak-anak mereka juga punya nama. Sebut saja Qabil (penganut Kristen dan Yahudi menyebutkan “Kain”) yang membunuh adiknya, Habil (Habel, Abel).

Tarzan, sosok fiktif legendaris ciptaan Edgar Rice Burrough juga punya nama Inggris John Clayton. Karena sejak bayi dipelihara seekor kera besar (ape), mana dia tahu namanya? Apalagi di dunia hewan, nama diri kemungkinan tak dibutuhkan. Dia juga tak bisa berbahasa verbal manusia. Kata-kata, atau lebih tepatnya onomatope atau tiruan bunyi, yang dia miliki hanya: auo-auo.

Dia baru punya nama Tarzan (sebelum diketahui bernama asli John Clayton) juga atas pemberian manusia yang menemukan dirinya. Manusia memang butuh nama untuk membedakan satu dari lainnya.

Ya, sejak kemunculan manusia pertama, nama diri sudah dibutuhkan. Dalam perkembangannya, orang membawa konsep-konsep tertentu ketika memberi nama seseorang atau sesuatu. “Asma kinarya japa” atau “asma kinarya pusaka”, begitu kata orang Jawa. Nama itu sebentuk doa. Nama itu sesuatu yang keramat. Karena itu nama seseorang bukan sesuatu yang kosong.

Biar saja William Shakespeare bilang, “What’s in a name?” Apa pentingnya nama itu? Mawar disebut dengan nama lain juga tak akan kehilangan keharumannya. Betul, esensi sesuatu tak akan hilang hanya lantaran perbedaan penyebutan nama. Si William itu pun bila semasa hidup mengganti nama, misalnya, dengan Jon Lebay, dan memakai nama pengganti itu untuk karya-karya selanjutnya, esensi karyanya tak akan lantas berubah menjadi buruk dan tidak legendaris. Tapi si William lupa, namanya juga dibebani makna oleh orang tuanya, orang yang memberi nama dia. William Si Penggoyang Tombak (shake spear). Yah, mungkin saja orang tua William ingin anaknya jadi serdadu kerajaan yang bersenjatakan tombak. Kalau ternyata anaknya justru jadi pengarang drama, apakah orang tua William menyesal?

“Namanya juga doa. Manusia berusaha, Tuhan yang mengabulkan,” begitu (mungkin) ucapan orang tua William.

Sama orang tua yang memberi nama anaknya Abdullah (Abdi Allah) atau Syaifullah (Pedang Allah), mereka berdoa agar kelak anaknya adalah pejuang di jalan yang diridai Allah. Tapi si anak ketika dewasa menjadi koruptor, apa ya salah orang tuanya?

Doa tidak pernah buruk. Kalau ada orang bilang, “Jangan doakan yang jelek-jelek,” dia itu keliru memakai kata. Ucapan yang buruk-buruk itu bukan doa melainkan hujatan, kutukan, umpatan, dan kawan-kawannya.

Nah karena nama itu mengandung makna, lebih-lebih makna yang dipahami banyak orang, sebuah nama bisa menjadi persoalan. Contoh terkini yang digegerkan adalah lelaki di Banyuwangi yang bernama Tuhan, atau lelaki di Palembang yang bernama Syaiton.

Apakah mereka, terutama yang bernama Tuhan itu, perlu mengganti nama? Hmm, nama memang hak azasi. Seseorang berhak memberi nama apa pun untuk sesuatu yang menjadi miliknya. Apalagi memberi nama seseorang kata orang Jawa juga “ora kulakan”, tak harus membeli. Jadi, seseorang bebas memilih nama untuk dirinya.

Tapi ketika nama itu menjadi sumber perbalahan, sumber ketidaknyamanan, sumber kesengkarutan, kata Jon Lebay, “Lebih bijak nama itu diganti. Atau, kalau tetap ada nama Tuhan, bolehlah dia misalnya menambahi namanya menjadi Abdi Tuhan.”

“Tapi selama ini nama dia tak menjadi persoalan lo, Jon. Baru ketika ada yang mengunggahnya di internet, kehebohan itu terjadi.”

“Betul. Tapi sekarang ini nama dia menjadi sumber persoalan. Tak bias ditarik lagi ke masa-masa sebelum persoalan itu muncul. Ada persoalan, baguslah ada solusi. Kalau suatu hari nama Jon Lebay juga memunculkan persoalan, aku ikhlas seikhlas-ikhlasnya mengubah nama. Wassalam.”  (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 30 Agustus 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: