Home » Kolom SMILOKUI » ANDAI JON LEBAY BERFATWA

ANDAI JON LEBAY BERFATWA

”JADI anggota MUI itu enak kali, ya?” ujar Jon Lebay pada saat kami menikmati kopi sore hari di teras rumahnya.
”Iya, bisa makan satai gratisan setiap saat,” jawab saya sambil lalu.
”Satai? Sore-sore begini kamu mimpi, ya? Aku belum pernah dengar ada penggratisan makan satai untuk anggota MUI.”
Saya sebenarnya sudah tahu arah pertanyaan Jon. Tapi minum kopi tanpa menggoda dirinya itu kurang afdal.
”Jon, kamu ingat pernah aku ajak makan satai di warung yang ada di perbatasan Brebes dan Kota Tegal? Aku ingat bingits ucapanmu, ‘Belum pernah aku makan satai seenak ini, Bro.’ Pantas kau bisa makan hampir 20 tusuk. Itu sih bukan makan melainkan doyan.”
”Halah, itu kan Warung Sate Moei yang ada di desamu. Kamu berpromosi, ya?” balas Jon sebelum menyalakan rokok.
”Selagi berpromosi belum diharamkan oleh MUI.”
”Itu yang hendak kubicarakan, Bro. Soal fatwa halal-haram dari MUI. Apa-apa difatwakan. BPJS haram, rokok haram. Ini aku sedang menyedot barang haram,” ujar Jon sambil membuang asap rokok lewat mulut.
”Jangan salahkan MUI bikin fatwa. Itu sudah khittah pilihannya. Dengar, ada lima peran dan fungsi MUI, salah satunya jadi mufti, si pemberi fatwa. Dan karena sepengetahuanku kau ini suka sekali melarang ini-itu, baguslah kau masuk jadi anggota MUI.”
Jon tertawa. ”Aku? Jadi anggota MUI? Kayaknya kau benar-benar mimpi pada sore yang cerah ini, Kawan. Atau, jangan-jangan kau mabuk oleh secangkir kopi. Semut akan terbahak-bahak bila aku jadi anggota MUI. Mana layak?”
”Jangan merendahkan dirimu untuk meninggikan mutumu, Kawan. Itu cara pencitraan yang buruk pada era pencitraan seperti sekarang. Kau mampu, yakinlah. MUI itu terdiri atas ulama, zuama, dan cendekiawan.”
Jon kembali terkekeh.
”Ulama itu orang yang ahli dalam pengetahuan agama Islam. Kau sering mengeluarkan dalil dari Alquran dan hadis. Ya, meskipun masih harus banyak belajar lagi, itu tak masalah. Baguslah orang meningkatkan ilmunya. Begitu jadi anggota MUI, kau akan bertemu ulama, zuama,dan cendekiawan yang mumpuni. Kau bisa belajar dari mereka. Orang akan mengenalmu sebagai ustaz. Orang yang baru tahu satu ayat saja sudah mengklaim sebagai ustaz dan ditayangkan di infotainment, masa kau yang belajar dari suhunya tidak bisa disebut ustaz?”
”Hmm, hmm….”
”Kalau lewat jalur ulama kau kesulitan, ya lewat jalur zuama. Itu artinya pemimpin organisasi atau lembaga. Tentu saja organisasi dan lembaga keislaman. Kau bikinlah salah satunya. Apa saja asal untuk kemaslahatan umat. Setiap orang punya kesempatan membuat organisasi atau lembaga seperti itu. Kau pun, Jon.”
”Hmm, hmm….”
”Kalau jalur ulama dan zuama juga berat bagimu, pakailah jalur cendekiawan. Kalau lihat salah satu arti kata cendekia itu orang yang ‘cepat mengerti’, kau punya kualitas itu, Bro. Kau cepat tanggap kalau diajak omong. Yah meski sering berkesan nyinyir dan ngeyelan, itu kan hanya gaya. Intinya, kau orang yang cepat mengerti dan itu seorang cendekia.”
”Hmm, hmm….”
Pembaca, Jon Lebay sudah ber-ham-hem tiga kali. Itu artinya ada beberapa kemungkinan: menyimak ucapan saya, sinis, atau acuh tak acuh.
”Bagaimana, Jon? Datang saja ke Jakarta dan membawa berkas lamaran menjadi anggota MUI. Kalau butuh surat rekomendasi atau testimoni bahwa kau orang yang layak menjadi anggota MUI karena memenuhi syarat sebagai ulama, zuama, atau cendekiawan, aku akan ikhlas menandatanganinya.”
Mendadak Jon Lebay tertawa keras, ngakak, sampai-sampai hampir tersedak. Masih dengan sisa-sisa tawanya, dia berkata, ”Berkas lamaran? Belum pernah aku dengar MUI membuka pendaftaran anggota baru.”
”Kau benar, Kawan,memang belum pernah juga saya mendengar kabar mengenai itu. Tapi siapa tahu memang cara menjadi anggota MUI berlangsung secara ekslusif. Mungkin seseorang datang, bawa berkas, dites, lalu dibaiat. Kalau cara penerimaan anggotanya tidak seperti itu, kau akan jadi orang pertama yang melakukannya. Semua yang pertama pasti dicatat sejarah, loh.”
”Sudah, sudah hentikan impianmu pada sore nan cerah ini.”
”Bermimpi masih belum diharamkan, kan?”
Kami ngakak bersamaan.
”Tapi omong-omong, berapa gaji anggota MUI?” tanya Jon.
”Wah, kali ini kau yang bermimpi, Kawan. Masa mengabdi untuk kemaslahatan umat, berjuang demi menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar itu dibayar?”
”Lah duit Rp 3 miliar dari APBN itu untuk apa?”
”Jangan mencoba berprasangka buruk, Kawan. Itu dilarang. Haram berprasangka buruk. Coba kamu pikir, untuk mengeluarkan satu fatwa itu butuh proses dan usaha yang panjang dan tentu saja itu membutuhkan ongkos. Para anggota MUI harus mencari referensi sebanyak-banyaknya, harus berdiskusi lama-lama, harus bikin ijtima’ atau forum. Itu semua kan butuh ongkos juga.”
”Jadi tidak bergaji ya?”
”Setahuku begitu karena kata mereka menjadi anggota MUI itu pengabdian untuk kemaslahatan umat, bukan pekerjaan. Pengabdian kok minta dibayar?”
”Kalau ada gajinya sih….”
”Aku akan langsung mengeluarkan fatwa haram khusus untuk niatmu mencari pekerjaan di MUI.”
”Baru niat mana bisa diharamkan?”
”Eh, iya ding.”
”Bro,” ujar Jon sambil mencablek bahu saya, ”Kau tahu apa yang akan kufatwakan kali pertama kalau jadi anggota MUI?”
”Apa?”
”Membaca kolommu ini haram hukumnya.”
”Alasanmu?”
”Tulisanmu tidak syar’i.”
”Ya, nanti aku ganti namanya jadi Smilokui Syariah. Beres?”
Kami tertawa lagi bersamaan. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 2 Agustus 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: