Home » Kolom SMILOKUI » JAVANESE CHERRY

JAVANESE CHERRY

SAYA menanam pohon kepel di depan rumah. Istri dan anak-anak saya bertanya gambaran pohon dan buah bernama latin Stelechocarpus burahol. Bak ahli tanaman atau penyuluh perkebunan, saya bilang tumbuhan kepel atau burahol adalah pohon penghasil buah hidangan meja yang menjadi flora identitas DIY. Buah kepel digemari putri keraton-keraton di Jawa karena dipercaya bikin keringat beraroma wangi dan air seni tidak berbau tajam.
”Buahnya bulat sekepal, maka disebut kepel. Rasanya segar dan manis, tapi banyak bijinya. Buahnya berada di batang pohon, bukan di ranting-ranting,” tandas saya.
”Ayah pernah makan?”
Dengan tersipu-sipu, saya menggeleng dan ketahuan bahwa sedikit ”ilmu kepel” itu saya peroleh dari Wikipedia.
”Kalau buahnya di batang, berarti kayak kopi anjing?” tanya istri saya. Katanya, ketika kecil, dia sering memakan buah itu. Saya juga pernah melihat pohon itu dan mencicipi buahnya.
”Mirip, tapi bentuk kepel bulat sementara kopi anjing pipih dan agak lonjong.”
Tapi kedua anak saya tak pernah tahu seperti apa buah kopi anjing atau sawo pancukan itu. Sama seperti ketika di halaman rumah saya juga menanam pohon duwet atau jamblang (Syzygium cumini), mereka bertanya-tanya bagaimana rupa buah duwet itu.
Jadi, apa yang kita ketahui, juga kita akrabi, mungkin asing buat anak-anak kita. Ini baru ihwal buah-buahan. Anak-anak saya tak pernah tahu apa itu dadap, kepundung, buni, trenggulun (kentos), kecacil, ceremai, dan banyak lagi lainnya.
Selain sekarang ini saya pasti sangat kesulitan mencari pohon-pohon itu, mereka juga merasa tidak butuh tahu atau mencicipinya. Mereka mungkin lebih akrab dengan buah ceri, plum, persik, beri-berian seperti blackberry dan blueberry. Nama-nama buah yang mereka dapat dari keterpincutan mereka terhadap budaya Korea.
Tak jadi masalah bila dari nama-nama itu mungkin hanya ceri yang pernah mereka lihat dan makan. Itu pun hanya ketika ada teman mereka yang berulang tahun. Mereka bisa menjelaskan atau sekadar membayangkan seperti apa rasa buah-buahan tersebut. Sama seperti saya yang seolah-olah ahli kepel tapi ternyata ilmunya dari hasil kerja Wikipedia.

***

APALAGI memang di sekolah, kita kerap hanya diminta menghafal sesuatu tanpa pernah melihat ”sesuatu” itu secara nyata. Ambil contoh saat kita, juga anak-anak kita, diminta menghafal nama-nama anak binatang dalam bahasa Jawa. Mereka bisa menyebut bahwa sawiyah itu anak cicak, atau tobil itu anak kadal. Tapi pernahkah guru atau kita sendiri memperlihatkan wujud sawiyah atau tobil? Sampai seusia sekarang, saya belum pernah melihat keduanya dan percaya saja bahwa sebelum cicak dan kadal itu menjadi hewan yang kita lihat menempel di dinding atau merayap di sekitar selokan itu, pasti tadinya adalah bayi-bayi bernama sawiyah dan tobil.
Itu baru untuk hewan-hewan yang sebenarnya tak begitu susah dicari. Masih begitu banyak hal yang membuat kita yakin, generasi anak-anak kita memang betul-betul berbeda dengan generasi kita. Saya bertemu banyak kawan yang mengeluhkan anaknya tidak bisa berbahasa ibu (bahasa Jawa). Tak perlu bahasa Jawa dalam tingkatan madya atau krama, yang ngoko pun banyak yang belepotan. Dalam komunikasi sehari-hari, anak-anak mereka memakai bahasa Indonesia.
Mereka bertanya apa yang harus dilakukan terhadap fenomena itu. Saya tak bisa menjawab. Kami sama-sama mencemaskan kematian banyak bahasa ibu. Para pakar kebahasaan sudah ramai-ramai melakukan penelitian dan memberi solusi. Tapi tetap saja, anak-anak kita bakal lebih kenal istilah anneyong ketimbang sugeng enjing….
Kadang saya berpikir, ada baiknya kita tak perlu mencemaskan semua itu. Orang bilang, nuting jaman kalakone. Anak-anak kita akan berada di zaman mereka sendiri yang tak perlu dicemaskan. Tapi, kadangkala saya juga berpikir, mungkin ketimbang menahan arus asing yang dahsyat itu, lebih baik kita berkompromi saja. Caranya?
Bersama seorang kawan saya masuk ke gerai minum di Kuala Lumpur dan memilih minuman cepat saji bernama tahitian apple. Kami penasaran seperti apa rasa apel tahiti itu. Pada sedotan pertama, kami bersipandang dan serempak membisikkan, ”Kedondong, ya?”
Di Wikipedia, buah yang kita kenal sebagai kedondong itu punya nama alias. Salah satunya tahitian apple itu. Kami tentu saja akrab dengan kedondong, tapi saat bernama asing, seolah-olah kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang bergengsi. Kepada anak-anak kita, apakah perlu misalnya mengenalkan kersen sebagai Javanese Cherry atau kesemek sebagai Powdered Apple (apel yang berhias)?
Entahlah, tapi akan banyak yang menggelikan bila segala sesuatu diinggris-inggriskan. Kalau untuk banyolan sih tak masalah, seperti dulu kita sering menulis begini: Pra One Are You, yang mungkin hanya pas untuk bak truk. Kalau kita melakukannya sekarang, kita harus membuang dulu gambar Pak Harto yang tengah jadi presiden eh raja bak truk. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 30 juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: