Home » Kolom SMILOKUI » (BUKAN) BANGSA SANTUN

(BUKAN) BANGSA SANTUN

SEJAK mulai mengenal siapa itu seorang presiden, Jon Lebay tak pernah peduli terhadap isi Pidato Kenegaraan yang disampaikan menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI. Tapi kali ini terhadap Pidato Kenegaraan pertama Presiden Joko Widodo dia serius menanti-nanti saat pembacaannya dan menyimak isinya dengan saksama.
”Apa komentarmu terhadap isi Pidato Kenegaraan Pak Jokowi?” tanya Jon.
”Bagus kayaknya.”
”Loh kok kayaknya?”
”Jon, jujur saja, sejak era Presiden Soeharto, aku tak pernah serius menyimak isi Pidato Kenegaraan. Wong ndak serius kok diminta berkomentar. Lagi pula, siapa aku ini, bukan anggota DPR, bukan pula pengamat politik dan ketatanegaraan.”
”Prek! Mau berkomentar saja harus nunggu jadi anggota dewan.”
”Ya kalau kamu memaksa, komentarku begini: pidato itu sungguh mengecewakan. Tidak memenuhi ekspektasi publik. Pak Jokowi hanya mengungkap semua hal secara garis besar. Kayaknya hanya cari aman saja deh.”
”Halah, itu kan komentar Toto Sugiarto, Kepala Departemen Penelitian dan Konsultasi Politik PARA Syndicate. Lagi pula, momentumnya kan Pidato Kenegaraan, bukan kursus yang menjelaskan segala sesuatunya secara mendetail.”
”Wuih, kamu pembela Pak Jokowi, ya?”
Jon melotot. ”Ini nih contoh cara berpikir buruk. Apa-apa langsung dihubungkan dengan pembela dan pembenci. Kalau aku pembela Jokowi, pasti dibilang pembenci Prabowo. Kalau aku pembela Prabowo, pasti dibilang pembenci Jokowi. Memangnya di Indonesia itu hanya ada dua orang yang perlu dibela dan dibenci? Camkan dalam benakmu baik-baik, Jon Lebay ini membela yang….”
”Bayar!”
Mata Jon semakin melotot.
”Iya deh, maafin ane ye, Coy…. Padahal badai Pemilihan Presiden sudah berlalu, ya? Tapi pidato Pak Jokowi itu sekadar retorika belaka. Lain mulut lain tindakan. Contohnya Pak Jokowi menyinggung soal konflik parpol. Kalau pemerintah menginginkan persatuan di dalam parpol, ya tidak membiarkan konflik di PPP dan Golkar berlarut-larut.”
”Halah itu juga komentar Fadli Zon.”
”Pidato Pak Jokowi tak mencerminkan iktikad pemerintah untuk membangun kemandirian ekonomi dan tak menyinggung soal peningkatan ekspor bernilai tambah.”
”Itu omongan Zulkieflimansyah dari Fraksi PKS.”
”Pidato Pak Presiden itu tidak mencakup seluruh persoalan bangsa. Pak Jokowi bahkan tidak menjelaskan sikap dirinya sebagai pemimpin dalam menyikapi permasalahan yang terjadi selama 10 bulan menjabat.”
”Weleh-weleh, itu juga bukan pendapatmu. Itu pendapat Guru Besar Ilmu Politik UI Maswadi Rauf. Aneh, sejak kapan kamu jadi tukang kutip?”
”Jon, tolong tidak memakai istilah tukang kutip toh. Nanti aku dicitrakan buruk sebagai preman pemalak.”
”Kalau bukan tukang kutip, ya kamu tukang contek. Mencontek omongan orang. Apa kamu paham maksud dari komentar mereka?”
Saya menggeleng. ”Ekspor bernilai tambah itu yang bagaimana, ya?”
”Payah, sudah mencontek, tak tahu yang dicontek itu apa. Itu payah tingkat dewa. Pokoknya kalau kamu menulis dan tulisanmu hanya mengutip pendapat orang lain, itu namanya tukang jahit. Tak sudi aku baca tulisanmu.”
Wah, inilah asyiknya mengobrol dengan Jon Lebay. Hanya mengobrolkan Pidato Kenegaraan Pak Jokowi saja, saya punya banyak status baru: tukang kutip, tukang contek, tukang jahit.
Mbuh ah, Jon. Yang pasti, isi pidato Pak Jokowi banyak yang tidak kupahami. Misalnya, Pak Jokowi bilang, dibandingkan dengan tahun 2013, indeks demokrasi kita naik dari 63,72 menjadi 73,04 pada tahun 2015. Kita juga memiliki pemilih muda yang kritis, dan bersemangat mengawal jalannya demokrasi dan pemerintahan. Indeks demokrasi, kau tahu?”
Jon menggeleng dan terkekeh.
”Maksudnya begini mungkin: peningkatan indeks demokrasi terjadi karena meskipun ada ‘perang’ hebat yang penuh hujatan dan fitnah dan ‘perang’ besar dua televisi tapi Pemilihan Presiden 2014 berjalan lancar dan menghasilkan presiden dan wakil presiden. Hujatan dan fitnah itu wujud ekspresi semata sebagai bagian dari proses berdemokrasi. Begitu kali, ya?”
”Ah, malah tambah pusing, Jon. Biarlah soal indeks demokrasi itu diurusi lembaga yang suka mengutak-atik angka. Omong-omong, dari semua isi pidato Pak Presiden, aku sedih saat Pak Jokowi menyinggung soal nilai kesantunan dan tatakrama yang menipis. Bahkan dalam pidato, ungkapan itu diucapkan dua kali. Agar lebih jelas, aku terpaksa jadi tukang kutip lagi ya, Jon. ‘Selama ini kita terjebak pada pemahaman bahwa melambannya perekonomian global, yang berdampak pada perekonomian nasional adalah masalah paling utama. Padahal kalau kita cermati lebih saksama, menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama, sekali lagi, menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama, juga berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa.”’
Jon bergeming.
”Kita sudah jadi bangsa yang tidak lagi santun ya, Jon?”
Jon tetap bergeming.
Dalam hal penipisan nilai kesantunan, saya sepakat dengan Pak Presiden. Karena itu, mari kita renungkan, sebagai bangsa yang sejak lama dikenal sebagai bangsa santun, ramah, bertiket pergaulan bagus, penipisan nilai itu adalah soal superserius. Karena superserius, hal itu tak cukup hanya diatasi dengan misalnya membuat undang-undang. Ya, penghinaan terhadap presiden adalah wujud ketidaksantunan. Tapi itu tak cukup hanya dengan menghidupkan kembali Pasal Penghinaan terhadap Presiden. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 16 Agustus 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: