Home » Kolom SMILOKUI » TIDAK NGAKIK, TIDAK LEB

TIDAK NGAKIK, TIDAK LEB

TIDAK biasanya Jon Lebay mengajak saya ke sebuah kafe plus iming-iming menggiurkan. Maklum, selain dia itu agak kedekut alias bakhil alias lokek alias pelit, selama ini sayalah si juru bayar.
”Akan kutunjukkan sesuatu yang bakal bikin kau terlongong-longong.”
Ketika saya datang, senyum Jon mengembang dengan ekspresi muka mirip orang yang baru terpilih sebagai komisaris sebuah BUMN.
”Mana ‘Syahrini’ yang akan bikin aku terlongong-longong?” tanya saya.
Kening Jon berkerut. Kali ini ekspresi mukanya mirip orang berhadapan dengan begal, hehehe….
”Syahrini?”
Saya tertawa. ”Katanya ‘sesuatu’?”
”Oh…,” desisnya lirih lalu tangannya meraih tas, membukanya, mengeluarkan sebuah pundi-pundi dari kain, dan langsung menyerahkannya pada saya. Agak berat. Saya timang-timang sebentar sebelum melongok isinya. O-oh, batuan warna-warni dan beberapa sudah bercincin. Saya raup beberapa dan memandanginya. Semuanya indah, tapi Jon keliru, saya tidak terlongong-longong.
”Punya siapa ini?”
”Punyaku dong, siapa lagi?”
”Kapan kau jadi pedagang akik?”
”Siapa yang pedagang akik? Aku ini kolektor batu mulia. Catat itu baik-baik, Kawan, kolektor batu mulia. Dan si kolektor ini ingin berbagi koleksi dengan orang lain.”
”Maksudmu, kau akan memberikan satu atau beberapa kepadaku?”
”Enak saja, beli dong!”
”Lebih asyik dapat gratisan.”
Jon tidak menanggapi kalimat saya karena dia lalu asyik mengeluarkan satu per satu batu dari dalam pundi-pundi, menyebutkan nama masing-masing, asal-usul, dan kualitasnya. Semua nama itu begitu asing buat saya. Lebih-lebih lagi kualitas yang disebutkan Jon. Saya hanya ingat, cara Jon itu begitu mirip para penjual batu akik di pasar-pasar.
”Ini bukan batu-batu murahan. Bagaimana menurutmu?”
”Maaf, sebentar ya, Jon. Aku belum pesan minum loh.”
”Oh silakan, silakan. Pilih sesukamu. Mas…,” ujarnya sambil melambaikan tangan ke salah seorang pramusaji.
Saat sang pramusaji berlalu untuk mengurusi pesanan saya, Jon kembali bertanya, ”Bagaimana menurutmu?”
”Bagus-bagus. Indah-indah,” jawab saya.
”Kalau itu sih sudah jelas. Ini batu berkelas, Kawan. Maksudku, bagaimana soal nama-nama dan kualitas yang kusebutkan tadi?”
”Maksudmu, kau sendiri yang bikin nama dan mengarang kualitasnya?”
Jon terkekeh. ”Ya, begitulah.”
Wah Pembaca, saya ini bukan ahli batu, dan tidak tahu-menahu mengenai ilmu batu. Tapi tentu saja, saya pernah punya beberapa yang entah ada di mana kini benda yang sedang ngetren belakangan ini. Dulu, saya ingat, masing-masing batu itu memiliki nama beragam, bergantung atas si pemberi nama. Saat batu di cincin yang saya pakai, orang yang melihatnya berkomentar dan menanyakan namanya. Ketika saya menggeleng, maka si penanya itu memberikan nama.
Salah satu contoh batu mungil berwarna oranye yang sepintasan lihat seperti sebutir permen. Karena itu, dengan bercanda, saya beri nama ia ”permen manis”. Seseorang pernah memberinya nama ”sulaiman yaman”.
”Maksud sampean, ini batu peninggalan Nabi Sulaiman dan digali dari tanah Yaman?”
Dia tak menjawab. Lalu ada orang lain lagi yang menyebut nama batu itu ”galih madu”. ”Lihat warnanya, mirip madu, kan?” ujarnya.
”Juga mirip permen, makanya kukasih nama ‘permen manis’.”
Beberapa batu saya (lebih baik disebut ”mantan batu saya” karena sudah tak saya miliki lagi) masing-masing punya satu atau dua nama berbeda. Yang bening dengan bias violet dan bagian dalamnya seperti remuk disebut orang sebagai ”kecubung es” dan ”kecubung kristal”. Saya dulu terheran-heran sebab setahu saya buah kecubung berwarna hijau. Tapi begitulah.
Belum lagi sebuah batu dengan bagian dalam berlubang yang sempat hendak dibeli beberapa orang. Untuk yang ini, rupanya mereka sepakat dengan nama ”kecombong”. ”Ini batu yang dicari para pejudi. Konon bikin selalu menang kalau berjudi.”
Hehe, lantaran alasan yang konon itulah, saya tak ingin melepasnya dan tak berapa lama kemudian hilang dengan cara lumrah: batu itu rupanya sudah tak betah di dalam emban alias cincin yang melingkar di jari saya, jadi mencopotkan diri dan jatuh di suatu tempat di bumi ini.
Maka, saya tidak terheran-heran pada pemberian nama yang dilakukan Jon. Sekarang ini, ketika ngetren, kemungkinan juga ada perbedaan dalam pemberian nama untuk sebutir batu, termasuk kualitasnya.
”Jadi, kini kau bisnis batu, Jon?”
”Ya namanya juga usaha, Kawan. Tolong bantu menjualkan, ya? Kau kan lumayan punya banyak kenalan. Dan bantu promosi di koranmu, ya? Kautulislah tentang batu-batu ini lengkap dengan kualitasnya. Pasti aku tak akan melupakan kebaikanmu itu.”
Jawaban saya jelas, bahkan buat teman sedekat Jon. ”Tidak, Jon! Batu-batu itu, entah milikmu atau kau cuma ikut menjualkan, semua bagus dan indah. Karena itu, tolong tidak lebay mengarang-ngarang kualitasnya. Silakan pula kasih nama sesuka hati. Yakinlah, yang tertarik bakal mau mengeluarkan berapa pun asalkan dia… punya uang. Hehehe…. Oya, tak ada yang akan kaugratiskan untukku? Aku kan juga ingin seperti banyak orang yang berpikir bahwa sekarang ini bila tidak ngakik, itu jelas tidak leb. Malu juga dong disebut tidak ikut tren. Saya berdoa, semua batumu segera terjual sebelum tren akik habis ditelan zaman, Kawan. Ya, kau tahulah nasib ikan louhan, anthurium si gelombang cinta, dan sebagainya.”
Tapi sejak kata ”tidak” itu, muka Jon sudah butek, sebutek warna salah satu batu di dalam pundi-pundi itu. Kopi pesanan saya jadi terasa semakin pahit di lidah. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 12 April 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: