Home » Kolom SMILOKUI » TERAPI GOYANG DUMANG

TERAPI GOYANG DUMANG

TENGAH dirundung persoalan? Datang saja ke Jon Lebay. Dia punya penyelesaian ciamik untuk siapa saja yang sedang dirundung persoalan. Suatu terapi yang ”menyelesaikan masalah tanpa masalah”, begitulah yang dia promosikan pada saya. Tentu saja saya ingin memegangi jidatnya sambil bertanya, ”Kau belum minum obat, Kawan?” Tapi saya hanya menatapnya dengan pikiran penuh ketidakpercayaan.

”Ladalah, Jon, kau jadi dukun tiban? Orang pintar dadakan? Pakar tiba-tiba mengenai batu akik?”

”Bila menyangsikan terapiku, engkau bisa jadi pasien pertamaku. Cocok. Aku kan tahu engkau punya rekening persoalan yang gendut.”

Tanpa menunggu reaksi saya, dia beranjak ke perangkat audio dan menyetel sebuah lagu dangdut.

”Dangdut lagi, dangdut lagi….”

”Ayo ikuti musiknya dan goyang. Jangan lupa mulutmu kaungangakan.”

”Mengangakan mulut? Kau mau periksa gigiku?”

”Pokoknya goyang sambil mangap.”

Saya tak beranjak dan terpingkal-pingkal melihat Jon bergoyang-goyang dengan mulut ternganga. Saya tahu goyangan model itu, goyangan yang sempat ngetren beberapa waktu lalu. Orang-orang menamakannya goyang dumang alias goyang duyung mangap. Awalnya dalam sinetron Diam-Diam Suka, Audi Marissa yang berperan sebagai Nomnom Gowes memopulerkan goyangan itu sembari lipsync menyanyikan ”Sakitnya Tuh di Sini”. Lalu goyang itu sudah populer pula sebagai lagu yang dinyanyikan Cita Citata dengan judul ”Goyang Dumang”.

Hmm, jangan-jangan Jon penggemar berat Cita Citaku eh Cita Citata…. Dia tampak khusyuk betul bergoyang sambil mangap-mangap. Lebih-lebih ketika lagu itu masuk refrain: ”Ayo goyang dumang/Biar hati senang/Pikiran pun tenang/Galau jadi hilang/Ayo goyang dumang/Biar hati senang/Semua masalah jadi hilang….

O-oh, saya tahu kunci terapi Jon. Simak saja refrain itu: goyang dumang bikin hati senang dan semua masalah hilang. Dahsyat betul! Murah betul! Tapi saya yakin, terapi Jon tak bakal beroleh testimoni mengenai keampuhannya.

Hanya saja, untuk menyenangkan Jon, saya bertanya kepadanya nama terapinya.

”Terapi goyang dumang.”

”Kok tidak sekalian, plus terapi jaran goyang?”

”Memangnya aku dukun guna-guna?”

”Ya biar keren sebut saja ‘terapi goyang dumang tanpa jaran goyang’. Sepakat?”

***

YA, itu memang hanya lirik sebuah lagu. Orang kadangkala tak memikirkan lirik dan maknanya ketika mendengarkan musik atau bergoyang seturut irama musik. Pada lagu-lagu berbahasa asing, kita mungkin tak sepenuhnya mampu menangkap maksud lagu, tapi telinga kita mendengar alunan musiknya dan merasa nyaman, bahkan beberapa bagian tubuh kita bergerak-gerak.

Hanya saja, keutuhan sebuah lagu tercipta atas paduan melodi dan lirik. Lebih-lebih lagi, mengabaikan lirik sama sekali adakalanya bisa memunculkan ironi. Saya sering melihat ironi itu pada aksi panggung kelompok dangdut koplo, dangdut asolole, atau yang diistilahkan sebagai dangdut pantura. Lagu ”Secawan Madu” yang begitu melankolik dan sedih menyayat ketika dinyanyikan Kristina menjadi begitu heboh, riang, dan sesekali seronok ketika dibawakan seorang penyanyi dangdut koplo atau dangdut pantura.

”Memang tidak boleh suatu kesedihan dinyanyikan dengan riang gembira?” sergah Jon.

”Jon, ini bukan perkara boleh-tidak boleh. Cuma wagu.”

Wagu? Tidak pantas? Menurut siapa? Menurut eloh kaliiii…. Coba kauingat-ingat, Kawan, semasa heboh goyang ngebor Inul Daratista. Lagu apa saja, mau sedih kek, mau gembira kek, mau patah hati kek, semuanya ditampilkan dengan ngebor. Ironi itu tak lagi menjadi ironis bila sudah diterima. Betul?”

”Hmm, iya juga <I>ding<P>.”

”Makanya jangan sok serius. Apa saja kaupikir serius. Ada duyung mangap, kaupikir serius juga. Tak peduli kita duyung itu ada atau tidak, lalu kalau ada, ia suka mangap atau tidak, pokoknya goyang. Pokoke njoget! Biar hati senang, semua masalah hilang.”

”Begitu ya, Jon?”

”Lagu ‘Goyang Dumang’ itu juga konon dianggap plagiat dari lagu ‘Deep in Love’ karya Tom Boxer featuring Morena. Emang gue pikirin…. Yang penting enak untuk goyang, ya goyang saja.”

”Benar itu plagiat?”

”Cek saja sendiri.”

”Kalau benar plagiat ya itu namanya masalah dong. Tidak ada hukum yang membenarkan plagiasi, lo.”

”Kalau itu masalah, ya sudah goyang dumang saja lewat terapiku. Aku kasih gratis wis…,” ujar Jon sembari berlalu.

Aksi Jon yang tinggal glanggang colong playu itu membuktikan bahwa terapinya yang diberi nama terapi goyang dumang tanpa jaran goyang itu tidak cespleng.

Dan dia tahu pasti, suatu persoalan tak cukup diselesaikan dengan sebuah goyangan, apalagi goyang badan yang dilengkapi mulut ternganga. Saya tak pernah melihat rona kegembiraan pada orang yang sedang mengangakan mulut. Anda pernah? (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 1 Maret 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: