Home » Kolom SMILOKUI » TANAH TUMPAH DARAH

TANAH TUMPAH DARAH

PEMBACA, saya lahir di Brebes, hingga agak besar tetap di kabupaten itu, lalu ke Semarang. Beberapa tahun di kota yang sering didendangkan dengan ”Semarang kaline banjir” (kalau lagi rob, ya bukan cuma kali yang banjir), saya tetap menjadi orang Brebes berdasarkan KTP di dompet saya. Saya seorang migran di Semarang.
Lalu saya mengganti KTP sesaat setelah pernikahan dengan istri saya. Pergantian kartu itu membuat diri saya sudah bukan orang Brebes lagi melainkan Pati, meskipun jujur saja di dalam hati, saya merasa tetap orang Brebes. Selanjutnya saya menjadi migran di Jakarta, Surabaya, Semarang (jilid dua), Solo, Semarang (jilid tiga), dengan tetap secara administratif (KTP) sebagai orang Pati dan secara rohaniah orang Brebes.
Paparan di atas yang mungkin membosankan buat Anda, wahai Pembaca yang memiliki jutaan pintu maaf, perlu saya tuliskan agar Anda tidak keliru menyebut tempat lahir saya Pati atau Semarang. Pada kenyataannya, beberapa orang pernah mengira saya kelahiran Pati. Namun, lantaran saya ini bukan siapa-siapa, lebih-lebih bila dibandingkan Ir Soekarno alias Bung Karno, kekeliruan beberapa orang itu tak pernah dibesar-besarkan. Cukup dengan balasan dari saya, tentu diimbuhi dengan senyuman, ”Gak kok, saya lahir di Brebes.”
”Kamu kehabisan gagasan ya sampai-sampai menulis tentang diri sendiri? Siapa pula yang butuh biografimu?” celetuk Jon Lebay, kawan saya yang mulutnya memang sepedas cabai setan tapi berhati selembam agar-agar.
Oya Pembaca, Jon Lebay ini kelahiran… ah tidak, kalau saya salah sebut, bisa berabe nanti. Lebih baik saya tanggapi komentar agak nyinyir Jon tentang biografi itu.
”Jon, ini bukan soal biografi. Siapa sih aku ini kok dibutuhkan biografinya? Tapi ini soal tanah kelahiran, soal tanah tumpah darah. Ini soal penting, Jon.”
Saya lihat Jon mulai menggerak-gerakkan bibirnya, hendak memotong omongan saya. Kali ini, saya tak ingin memberi kesempatan orang yang kata-katanya bagaikan ceker mercon mengeluarkan kepedasannya.
”Jangan potong omongan saya, Jon. Kali ini kita perlu berganti peran dulu. Bila selama ini kau yang asyik mencerocos, it’s my time, Bro,” ucap saya tegas.
Tapi begitu saya jeda sejenak untuk mengambil napas, nyelonong juga kata-katanya, ”Kamu ini salah minum obat atau bagaimana kok mendadak galak segalak butha-butha galak langkahe lunjak-lunjak?”
”Karena ini soal penting. Tak boleh dibikin humor. Kau tahu kenapa orang geger ketika Bapak Presiden Jokowi diberitakan salah menyebut tempat kelahiran Bung Karno? Kenapa?”
Jon bergeming tapi mukanya manyun.
”Kenapa? Jawab, Jon!”
”Loh katanya ini giliranmu bicara, ya aku diam. Payah kau! Mau bicara ya bicara saja. Sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati), wahai Bapak Guru…,” ujar Jon dengan ekspresi muka mirip anak kecil minta pulsa, eh kembang gula.
Tak kuat juga saya bergalak-galak pada Jon Lebay, terutama karena melihat ekspresi mukanya itu. Saya ngakak.
”Walah, diberi kesempatan khotbah kok malah ngakak…,” gerutu Jon, ”Kalau kamu tanya kenapa geger terhadap kekeliruan penyebutan tempat kelahiran Bung Karno ya karena yang nyebut itu seorang presiden.”
”Jadi, seorang presiden tidak boleh salah ucap?”
”Mbuh ah! Serius bingits sih kau, Bro. Menurutku, kau mau ribut soal ucap itu ya mulut-mulutmu sendiri. Kalau aku jadi penasihat Pak Jokowi, aku cukup bilang pada beliau begini: ‘Santai saja, ya Bapak. Kalau Bapak diibaratkan sebagai anak SD yang mengerjakan tes mata pelajaran sejarah, dan Bapak salah menjawab pertanyaan mengenai tempat kelahiran Bung Karno, paling-paling Pak Guru nanti akan mencoret jawaban Bapak. Paling-paling nilai Bapak berkurang. Tapi wajarlah, wahai Bapak, orang belajar kan bisa salah-salah. Asal mau belajar serius untuk tidak mengulangi kesalahan, pasti pada akhirnya akan dapat nilai bagus. Atau sebenarnya Bapak Presiden ini ingin menerapkan dua ayat….”
”Dua ayat apa?” potong saya.
”Ayat 1: Bos tak pernah salah. Ayat 2: Bila bos dianggap bersalah, baca Ayat 1,” ujar Jon, lalu ngacir.
Waduduh, padahal saya tak ingin terlalu menyoal kekeliruan ucap itu. Saya ingin mengatakan pada Jon Lebay bahwa betapa penting konsep mengenai ungkapan ”tanah tumpah darah” bagi seseorang. Memang yang ”tumpah” adalah darah ibu, dan tempat tumpahnya tak selalu tanah karena bisa saja seprei, lantai rumah sakit bersalin, atau bahkan di atas rumput. Ini benar, saya punya keponakan yang rupanya ngebet ingin tahu dunia sehingga mbrojol begitu saja ketika ibunya sedang jongkok di tegalan untuk BAB alias buang hajat. Alhamdulillah, ibu dan sang bayi selamat, bahkan si anak itu kini sudah punya anak juga.
Jadi, tentu saja ”tanah tumpah darah” itu kiasan untuk tempat kelahiran. Dan tempat kelahiran memang sangat penting bagi manusia. Ia boleh pergi ke mana saja, berpindah tempat ratusan kali, atau meninggal di tempat yang sangat jauh. Tapi ia akan selalu ingat tempat kelahirannya, setiap saat, tak hanya ketika diminta mengisi formulir kewarganegaraan atau biodata singkat.
Ya, orang lain boleh tidak tahu tempat saya dilahirkan. Dia boleh saja salah menerka tempat kelahiran saya. Tapi saya akan terus mengingat tempat itu. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 7 Juni 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: