Home » Kolom SMILOKUI » SELFIE, NOK SELPI, SELVI

SELFIE, NOK SELPI, SELVI

KATA selfie muncul di suatu forum internet di Australia pada 2002. Aktivitas memotret diri sendiri dengan kamera digital atau kamera telepon jadi lema di dalam Oxford English Dictionary versi daring pada 2013. Pada tahun itu pula, selfie dinobatkan sebagai World of the Year.
Meski namanya mirip kata itu, Nok Selpi mengaku tak pernah ber-selfie-ria. ”Aku ndak mau ikut-ikutan sesuatu yang dijadikan mainstream alias arus utama. Ndak eksklusif blas!”
Lagian apa sih bagusnya foto dengan memerotkan bibir, memanyunkan bibir, atau mengerlingkan sebelah mata? Apa menariknya melihat muka orang yang mecucu?” tambahnya lagi.
”Itu satu aksi untuk eksis, Nok,” sergah seorang temannya.
”Keeksisanku ndak bersandar pada sepotong muka yang diunyu-unyukan seperti itu. Jatidiriku sebagai manusia dan perempuan kok remeh sekali hanya dihargai dengan sepotong muka hasil jepretan sendiri. Aku eksis tanpa selfie.”
”Mungkin lantaran kau kurang pe….”
”Kurang pede maksudmu?” Nok Selpi tertawa. ”Kamu pernah lihat saat aku jadi orator?”
Nggak pernah. Tapi, namamu mirip dengan aksi yang kautolak itu, loh.”
Nok Selpi mengernyitkan kening, lalu bilang, ”Sst, ini rahasia. Nama asliku bukan itu. Itu bisa-bisanya temanku si Jon Lebay kasih julukan. Awalnya dia sebut aku Non-Selpi, ya karena dia tahu aku ndak suka selfie. Tapi karena aku ndak mirip noni-noni, dia ubah sedikit jadi Nok Selpi. Dan aku payu karena nama itu, diundang ke mana-mana untuk ngomong, ya itu nama penuh berkah. Cukup ya, aku kan berhak juga untuk ndak ber-selfie. Lagian selfie itu membuat orang jadi selfish, jadi individualis. Mau ambil gambar diri saja harus pakai tangan sendiri. Apa sudah tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong?”
Temannya itu tahu bahwa Nok Selpi setabiat dengan Jon Lebay yang jago ngeyel dan debat kusir, maka dia memilih tak berkomentar lagi.

***

NAMA Nok Selpi yang berdasarkan pengakuan si empunya berasal dari ”kecelakaan kecil” pemberian nama julukan oleh Jon Lebay, kembali jadi pembicaraan. Kali ini lewat si pemberi nama. Siapa lagi kalau bukan tokoh kecintaan kita bersama: Jon Lebay.
”Kapan terakhir kau bertemu Nok Selpi?” tanya Jon.
Saya mengernyitkan kening. ”Lama bingits. Loh, kau kan teman karibnya?”
”Telepon dan semua kontak dirinya tidak bisa dihubungi. Jangan-jangan kabar ini benar, dan dia sedang dipingit….”
”Kabar? Kabar apa?”
”Dia mau menikah.”
”Lah bukannya itu bagus? Bukankah kau sebagai teman semestinya senang? Kok raut mukamu tampak seperti orang yang mengecek gaji di ATM tapi transferan belum masuk sih? Atau, kau diam-diam menaruh hati padanya, ya? Ingat Jon, ingat orang yang sudah telanjur jadi korban PHP-mu, ya istrimu itu.”
”Sembarangan! Dia bukan tipeku. Katanya calon suami dia seorang penyair.”
”Hebat dong. Dengar-dengar Nok Selpi kan suka puisi.”
”Masalahnya si penyair ini sudah meninggal lebih dari 80 tahun lalu.”
Kali ini saya yang syok. ”Ah, pasti kau salah dengar. Siapa si penyair itu?”
”Kahlil Gibran.”
Saya memandangi muka Jon sembari mengingat-ingat sesuatu. Dan saya ingat sesuatu itu. Lalu saya berkata lembut kepada teman kesayangan itu, ”Jon, permusuhanmu dengan media massa dan jejaring sosial mesti diakhiri. Kau jadi kuper. Orang yang kuper gampang dibakar info selentingan. Dan kau bakal gampang kebakaran jenggot, eh maaf karena kau tak memelihara jenggot, maka kau akan gampang kebakaran kumis. Nok Selpi tak mungkin akan kawin dengan penyair yang sudah lama pergi ke alam baka itu. Ini Selpi yang lain, yang ”p”-nya harus ditulis pakai ”v”. Dan Gibran yang disebut ini jelas bukan penyair melainkan pengusaha muda, anak seorang presiden, ya presidenmu itu toh, Jon.”
”Anak Presiden Jokowi?”
”He-eh. Betul, putra presidenmu.”
”Ya, presidenmu juga toh….”
”Eh, iya ding. Maaf Jon, aku sering lupa bahwa aku ini juga punya presiden, soalnya Pak Presiden sering terlihat cuek sih sama orang-orang kayak aku ini.”
”Namanya Selpi, ya?”
”Pakai ‘v’. Jangan keliru: pakai ‘v’! Selvi Ananda Putri, si Putri Solo.”
”Eh Solo juga. Sudah jauh-jauh merantau ke Batavia, sudah mengindonesia, dapat calon menantu orang Solo juga.”
”Jon, jodoh tak akan ke mana.”
”Gibran, ya? Hmm, aku ingat, aku ingat. Aku pernah lihat gambarnya. Ya, ya dia itu yang tak pernah tersenyum, yang mukanya selalu tampak mendongak, yang agak mirip Batara Narada, yang….”
”Setop, Jon, setop! Jangan kaulanjutkan komentar nyinyirmu. Kau tidak mengenalnya. Jangan nilai buku dari kovernya. Siapa tahu itu hanya pose di muka umum. Dan dia anak presiden loh. Kalau di zaman kerajaan, dia pangeran yang jadi putra mahkota….”
”Setop, Bro, setop!” guliran Jon yang menyergah, ”Ini negara republik bukan kerajaan. Dan Mbak siapa tadi? Oh ya, Mbak Selpi yang pakai ‘v’ itu bukan Cinderella dalam cerita dongeng.”
”Pasti dong. Cinderella tak pernah mengenal istilah selfie. Ketika ber-selfie, orang tak perlu sampai memotret sepatunya, kan? Padahal kisah tentang Cinderella tak bisa lepas dari sepatunya. Dan tak seperti temanmu Nok Selpi, Mbak Selvi itu pasti pernah ber-selfie-ria.”
”Gibran, ya? Yang ekspresi mukanya tanpa….”
Saya memilih berlalu dari Jon dan melantunkan tembang lantunan Sundari Soekotjo: ”Putri Solo, ayune kepara nyata. Pancen pinter alelewa. Dasar Putri Solo….” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 19 April 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: