Home » Kolom SMILOKUI » PONSEL REKONDISI DAN POLITIK DINASTI

PONSEL REKONDISI DAN POLITIK DINASTI

JON LEBAY punya teman perempuan yang menurutnya berparas lembut dan manis. Hanya saja, kebiasaannya setelah menandaskan isi botol air mineral membuat kecut nyali Jon. Si teman selalu memermak botol itu dengan ekspresi muka yang mirip pemain Ganteng-Ganteng Serigala ketika hendak berkelahi.
”Kenapa kauhancurkan? Itu kan bisa didaur ulang…,” ujar Jon.
”Justru dengan begini aku memudahkan pendaurulangan,” jawab temannya. ”Kalau masih utuh, maka kau harus waspada.”
”Waspada?”
”Botol itu bisa dicuci, diisi air dari keran, ditempeli lebel baru, dikasih tutup yang dipres sehingga mirip betul dengan botol air mineral baru, dan sampailah ke tanganmu lagi. Apalagi sekarang banyak air mineral kemasan yang tutupnya tidak tersegel.”
Saat itu Jon menganggap temannya itu terlalu parno alias paranoid. Tapi setiap kali membeli air mineral, dia ketularan parno. Katanya, air yang diminum jadi kurang kesegarannya.
Mungkin saja teman Jon itu terlalu parno. Tapi Jon tidak bisa memungkiri bahwa dirinya pernah mendengar isu soal itu. Dia bertambah parno ketika menonton tayangan televisi mengenai es krim sampah. Es krim buangan dari pabrik itu dipungut dari tempat sampah, dikumpulkan, dan dijual lagi. Tentu saja setelah dibersihkan dan diolah lagi serta diberi kemasan baru. Biasanya es krim itu dijual oleh pedagang keliling dengan sasaran konsumen anak-anak sekolah.
”Bagaimana bila anak-anak kita yang mengonsumsinya?” tanya Jon.
”Bilang saja ke mereka untuk tidak jajan sembarangan di sekolah.”
”Tinggal omong sih gampang. Apa kau bisa memantau mereka?”
Pada titik ini, saya bisa memahami kecemasan Jon. Tentu saja tak hanya soal es krim sampah itu yang bikin cemas setiap orang tua yang punya anak berkemungkinan mengonsumsi makanan yang tak sehat itu. Ada banyak jajanan lain yang memang murah tapi kualitasnya juga murahan, atau bahkan berbahaya untuk kesehatan.
Saya sendiri sering miris ketika melihat iklan mengenai satu jajanan berharga murah yang cara konsumsinya ”tinggal leb”, yang bahkan diiklankan oleh bintang-bintang tenar. Saya mungkin awam dalam hal ingredient suatu penganan, tapi membayangkan penganan berbahan daging dikonsumsi tanpa harus dimasak dahulu benar-benar membuat saya kehilangan akal.

***

YA, kita sebagai konsumen sering mirip orang culun yang gampang dibodohi. Mungkin kita tidak bodoh, sebab sebagian dari kita adalah orang-orang yang cermat sebelum membeli atau mengonsumsi sesuatu. Kita barangkali saja orang yang selalu mengecek batas kedaluwarsa pada kemasan suatu barang. Kita barangkali pula selalu membaca ingredient atau bahan-bahan suatu produk. Kita barangkali selalu menilik apakah kemasan produk itu mencantumkan nomor keabsahan yang diberikan BPOM. Mungkin pula kita juga orang yang selalu mencermati apakah kemasan suatu produk itu berlabel halal. Tapi produsen yang termotivasi meraup keuntungan besar punya cara untuk mbujuki (istilah Surabaya untuk ”menipu”) konsumen. Cara-cara itu kadangkala begitu ciamik sehingga konsumen paling cermat pun kebujuk.
Contoh paling baru adalah berita penangkapan pemilik gerai telepon seluler (ponsel) di Salatiga yang menjual barang rekondisi. Sama seperti yang diungkapkan teman Jon Lebay mengenai botol air mineral, ponsel yang rusak itu dikondisikan kembali alias dipermak habis-habisan sehingga menghasilkan barang baru. Selanjutnya ponsel itu dikemas dan dijual dengan harga miring alias lebih murah dari harga asli.
Siapa yang tidak kebujuk pada harga murah? Penganan yang ”tinggal leb” dulunya adalah penganan kelas sinyo dan noni, dan ketika harganya murah, siapa yang tak terpikat?
Intinya, kita memang perlu ”mencurigai” sesuatu yang agak aneh. Bukannya saya ingin mengajak kita untuk jadi pencuriga, tapi kecurigaan yang disertai kehendak untuk mengetahui kebenarannya adalah satu fase berpikir logis. Sebuah ponsel yang ”mendadak” harganya murah adalah aneh ketika kita tahu bahwa produsen dan juga penjual sebagai ujung tombak distribusi produk, selalu menginginkan keuntungan, yang kalau bisa, sebanyak-banyaknya. Penganan yang salah satu ingredient-nya daging sapi tapi dijual hanya seharga seribu rupiah, memangnya daging itu didapat gratis dari langit? Jadi, kita memang harus waspada terhadap segala kemungkinan akal-akalan.
Kita memang dikaruniai akal sebagai pembeda dari makhluk Tuhan lainnya. Selain untuk berpikir logis, akal juga bisa dipakai untuk mengakali sesuatu. Mengakali tak selalu buruk memang. Sebagai sebuah siasat, barangkali itu sering diperlukan. Tapi siasat juga bisa jadi cara lain untuk tipu-tipu.
Dalam ranah yang lain, politik misalnya, siasat yang arahnya lebih sebagai akal-akalan atau tipu-tipu banyak dipakai. Dan orang Arab menerjemahkan politik sebagai ”siasah”. Klop. Itu sebabnya Jon Lebay tidak heran ketika Wali Kota Pekalongan M Basyir Ahmad mengajukan pengunduran diri ketika hampir habis masa jabatannya. KPU telah mengeluarkan aturan untuk mencegah politik dinasti dan melarang orang yang memiliki ikatan perkawinan atau garis darah dengan petahana untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Bila pengunduran diri M Basyir Ahmad disetujui, statusnya sebagai petahana lebur, dan sang istri bisa mencalonkan diri. Siasat yang ciamik terhadap aturan KPU, kan?
Benar, Jon Lebay tidak heran dengan gaya akal-akalan seperti itu. Tapi dengan jujur dia bilang, ”Saya mah orangnya sering gampang diakali. Soalnya saya sering lupa bahwa saya juga punya akal. Kadang di situ saya merasa sedih.” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 21 Juni 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: