Home » Kolom SMILOKUI » O-OH HARGA BENSIN NAIK (LAGI)

O-OH HARGA BENSIN NAIK (LAGI)

SAYA sungguh terkejut melihat Jon Lebay di layar teve di samping seorang presenter perempuan. Sang presenter menyebutnya ”Prof Dr Jon Lebay SE ME, pakar ekonomi perminyakan”. Keren betul! Rupanya dia diundang untuk membahas topik yang sedang hangat: kenaikan harga bensin.
Tak sempat memikirkan asal semua gelar akademik keren Jon, saya dikejutkan oleh jawabannya atas pertanyaan pertama sang presenter.
”Profesor Jon, gimana ini, harga bensin naik lagi. Bagaimana tanggapan Bapak?”
”Kalau naik cuma 500 rupiah itu tak menyelesaikan persoalan. Coba Mbak kasihkan uang itu untuk pengamen, mungkin malah dipelototin dan didoain yang jelek-jelek. Tukang parkir juga, mana mau dia terima 500 rupiah? Kenaikan hanya 500 rupiah itu terlalu kecil.”
Muka sang presenter agak mengerut sebentar sebelum sembari tersenyum dia bertanya lagi, ”Jadi seharusnya naik berapa?”
”Kalau mau menaikkan harga bensin, jangan tanggung-tanggung. Paling tidak disetarakan dengan harga satu gram emas. Jadi, satu liter bensin itu ekual dengan satu gram emas.”
”Satu gram emas itu Rp 500 ribuan lo, Prof Jon! Rp 500 saja sudah memberatkan, kok malah….”
”Dengar dulu penjelasan saya! Kalau mau wawancara ini dilanjutkan, jangan asal menyela dong.”
”Oh iya, maaf, maaf, Prof. Jadi satu gram emas ya?”
”Dengan harga setara satu gram emas, saya bisa pastikan bahwa tak banyak orang yang mampu beli bensin, seperti halnya tak semua orang mampu beli perhiasan emas. Mungkin pada awalnya berat, tapi yakinlah orang kita mampu belajar menerima kenyataan. Pelan-pelan kita akan bisa hidup tanpa bensin. Sepeda motor dan mobil akan lebih banyak ‘dikandangkan’ atau mungkin dijual. Satu persoalan yang dialami kota-kota akan terpecahkan. Tak bakal ada kemacetan. Modus transportasi orang akan berubah dengan sendirinya. Mungkin saja uang penjualan sepeda motor atau mobil itu bisa dipakai untuk membeli sepeda onthel. Ke mana-mana orang bisa hanya dengan berjalan kaki atau ngonthel. Lingkungan kita jadi bersih dari polusi dan orang bisa sehat dengan berjalan kaki atau ngonthel. Go green tidak cuma wacana, tapi sudah jadi terpraktikkan secara signifikan. Coba Mbak catat, keuntungan apa saja yang kita peroleh ketika kita hidup tanpa bensin?”
”Tapi Prof, pasti akan banyak persoalan baru. Mobilitas hidup kita jadi lambat. Orang ke kantor bisa terlambat. Pedagang yang mau jualan di pasar bisa kesiangan.”
”Tolong dicatat ucapan saya tadi, kita adalah orang yang bisa belajar beradaptasi terhadap situasi. Sebelum ada sepeda motor dan mobil, orang juga bisa ke mana-mana, bukan? Masa kita kalah dengan orang dari zaman Majapahit, misalnya? Saya sangat yakin orang akan bisa menciptakan modus transportasi yang nirbensin eh maaf, tanpa bensin. Orang akan memelihara sapi atau kerbau atau kuda. Orang bikin pedati atau kereta kuda lagi. Ke mana-mana kita naik kuda atau kereta kuda atau pedati itu sungguh eksotis. Mbak misalnya untuk sampai ke studio ini dengan naik kereta kuda. Mungkin sedikit lambat dari mobil. Tapi Mbak kan bisa memanajemen waktu, dengan misalnya, berangkat dua atau tiga jam lebih awal. Di atas kereta kuda itu, Mbak akan merasa tengah berpiknik. Jadi, berangkat kerja sangat mirip berwisata, ya seperti lagu saat saya masih kecil tentang naik delman istimewa itu. Persoalan stres karena pekerjaan pasti tak ada lagi.”
”Profesor Jon, kita sudah telanjur hidup pada zaman ketika mobilitas begitu tinggi. Mana mungkin mengganti mobil dengan pedati?”
”Waduh, jangan-jangan Mbak ini orang yang tidak percaya pada keniscayaan bahwa manusia itu makhluk pintar beradaptasi terhadap situasi apa pun. Kalau begitu, wawancara kita akhiri saja, ya?”
”Sebentar, Prof. Dengan harga bensin Rp 500 ribuan, sudah bisa dipastikan harga barang mahalnya ampun-ampun deh. Jangankan barang sekunder, barang primer seperti sembilan kebutuhan pokok saja bakal tak terbeli.”
”Karena itu, kembali pada teori saya tentang kepintaran kita dalam beradaptasi. Jadi begini ya Mbak, kalau biasanya kita makan tiga kali, tapi lantaran bahan pangan mahal, kita bisa makan hanya sekali. Kalau untuk makan sekali sehari juga masih sulit, kita pasti bisa kok makan dua hari sekali. Banyak orang bilang, kita bisa bertahan hidup tanpa makan selama beberapa hari asal bisa minum. Dan bukankah kita sudah sering melakukan puasa? Saya ini orang yang sangat percaya pada kemampuan beradaptasi manusia. Selama ini kita sudah menunjukkannya. Ketika harga BBM naik, harga barang-barang jelas ikut naik, transportasi naik tapi gaji kita tak ikut naik, kita tetap bisa melanjutkan hidup, bukan? Jadi kalau pihak pemerintah melihat tayangan ini, silakan pertimbangkan usulan saya untuk menaikkan harga bensin secara tetap setara harga emas. Jangan naik tiap bulan, geger sebentar, begitu kegegerannya redup, eh naik lagi. yakinlah bahwa kita….”
Mendadak layar teve itu tanpa gambar dan sekejap kemudian ada tulisan: ”Maaf ada gangguan satelit”, dan saya terbangun oleh dering ponsel. Di layar ponsel tertera nama Jon Lebay.
Lalu suara Jon lantang terdengar, ”Bro, tolong segera ke pom bensin di dekat kampus. Malu aku ini sama petugas pom. Uangku tidak cukup untuk bayar bensin. Ternyata harga bensin sudah naik lagi, ya?”
Saya tengok kanan-kiri. O-oh, Jon yang pakar ekonomi perminyakan itu hanya ada dalam mimpi, toh? Pembaca, naik Rp 500 saja temanku itu tak sanggup bayar bensin, apalagi sampai Rp 500 ribu? (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 29 Maret 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: