Home » Kolom SMILOKUI » KOMISARIS TOKO KELONTONG

KOMISARIS TOKO KELONTONG

JON LEBAY hanya ngakak ketika ada orang bilang, ”Mengurus negara itu tidak sama dengan mengelola toko mebel atau toko kelontong.”
”Ya iyes-lah, negara kok disamakan toko kelontong? Tapi yang ngomong gitu pasti belum pernah dengar cerita tentang Man Dalban dan toko kelontongnya.”
”Lo siapa dia? Pamanmu, Jon?”
”Tertarik ya? Mau tahu atau tahu bingit? Traktir aku ngopi, maka engkau akan mendengar kisah tentang dia dari sumber pertama.”
”Mau cerita ya cerita saja, ngapain pakai gratifikasi segala? Bisa kena pasal penyuapan, ah.”
”Ingat, kawanku, informasi itu mahal. Lebih-lebih informasi ini juga bakal engkau jual lagi dalam tulisanmu. Iya, kan?”
”Hehehe….”

***

MAN DALBAN Dalban punya sebuah toko kelontong yang sangat besar di ujung desanya. Saking besarnya, usaha dagang itu mirip toko grosir. Pasalnya, beberapa orang berbelanja darinya untuk dijual lagi pada toko kelontong mereka yang lebih kecil.
Tentu saja sebagai toko besar, Man Dalban punya banyak karyawan. Dia sebenarnya tidak melakukan apa-apa. Semua sudah ada yang mengurusi. Jadi, dia hanya duduk di mejanya sambil pal-pul rokok, membalas sapaan pembeli yang kenal, menganggut-anggutkan kepala ketika seorang karyawannya memberi laporan, sesekali pergi ke pasar di kota atau blusukan cari informasi harga-harga di pasar.
Istrinya, Bi Turah, sesekali datang dan pergi setelah mencereweti beberapa karyawan, termasuk nyap-nyap pada suaminya. Setiap kali melihat Bi Turah datang, dua atau tiga karyawan berbisik-bisik, ”Mana penyumpal telinga? Tuh Ibu Ratu mau sidak….”
Sepintas kesan, semuanya berjalan baik-baik saja. Tapi Jon tahu citra itu tak sama dengan realitasnya. Jon ini pelanggan istimewa yang diperbolehkan utang barang dengan catatan khusus: boleh bayar kapan saja. Pasalnya, Jon adalah kawan ngobrol (satu-satunya) dan curhat Man Dalban. Tapi Pembaca tahu sendiri, Jon terlalu gengsi jadi debitur toko kelontong.
”Semua orang tahu, aku ini big bos di situ. Kenyataannya tidak seperti itu, Jon,” cerita Man Dalban pada suatu kesempatan mentraktir Jon ngopi.
”Lo kok?”
”Aku tak berkuasa sepenuhnya pada semua karyawan itu. Misalnya si Warnyad yang bagian pembelian barang. Beberapa kali aku ngonangi dia memalsukan nota. Tapi mau memecat dia pun aku tak bisa.”
”Kenapa?”
”Contoh lain si Sarijah, ah kau mengenalnya karena dia yang melayani pembeli di toko. Bayangkan, dia sering mengambil baju atau apa saja di pasar dan bilang pada pedagangnya untuk menagih ke Bos Dalban. Ini keterlaluan. Tapi sama seperti pada Warnyad, aku tak berdaya memecatnya.”
”Kenapa?”
”Nanti dulu, Jon, nanti kau tahu. Itu belum apa-apa dibandingkan persoalan si Bandi.”
”Petugas satpammu itu toh?”
”Jon, kita sama-sama tahu siapa si Bandi itu. Biang kerok, tukang ganggu perempuan, tukang minum, tukang judi, dan kau tahu sendirilah…. Mana mau aku mempekerjakan orang macam begitu?”
”Tapi tokomu jadi aman, kan? Maling jadi gigrik karena tokomu dijaga orang sangar.”
”Aman apanya? Baru juga satu bulan kerja, menurut laporan si Warti, dia seenaknya minta ini-itu. Ya rokoklah, ya ambil beras tanpa bayar.”
”Catat saja nanti tinggal hitung-hitungan pada akhir bulan.”
”Tidak segampang itu. Aku sudah menolaknya sejak dia mau dijadikan petugas satpam. Dan melihat kelakukannya, pecat itu kata yang pas. Tapi….”
”Tapi kenapa kau yang big bos itu seperti tak berdaya, Kawan? Maaf loh, pertanyaan ini lahir dari rasa empatiku padamu. Itu kan toko kelontongmu sendiri. Kamu kan pemiliknya.”
Man Dalban tersenyum. Tapi Jon menangkap kesan bahwa senyum itu pahit.
”Kau belum tahu rupanya bahwa aku ini bukan pemilik toko kelontong itu. Aku hanya komisaris yang ditunjuk mengelola toko itu.”
”Lantas milik siapa?”
”Ya milik Paduka Yang Mulia Sang Ratu Turah dong…. Siapa lagi? Aku kan hanya petugas di toko kelontong itu. Semua kebijakan datang dari Sang Ratu. Kenapa aku tak berdaya pada Warnyad, Sarijah, lebih-lebih Bandi? Mereka semua kerabat Sang Ratu. Dia marah besar ketika aku bilang akan memecat mereka. Tapi ssst, jangan sampai bocor rahasia ini, ya?”
”Tenang saja, Kawan, rahasiamu aman.”
”Iya, terima kasih. Di situ kadang saya merasa sedih, Jon. Sedihnya tuh di sini.”

***

TAPI Jon tidak memegang janji itu. Saat saya sindir ihwal pelanggaran janji itu, dia terkikik, ”Aku bukan orang bodoh, Kawan. Semua nama sudah kuganti. Bahkan kau juga tak bakal tahu nama toko kelontong itu. Rahasia para pelakunya tetap aman di dalam hatiku. Kau hanya dapat ceritanya, bukan tokoh-tokohnya. Dan itu sepadan dengan traktiran kopimu.”
”Tapi apa kaitan ceritamu itu dengan pengelolaan negara yang amburadul dan konon mirip manajemen warung makan, toko kelontong, atau toko mebel? Soalnya ceritamu itu agak mirip-mirip dengan….”
”Itu urusanmu, Kawan. Orang-orang seperti engkau itu suka mengait-ngaitkan segala sesuatu. Buatku cukup begini: mengelola toko kelontong tanpa keberanian menegakkan aturan, lebih-lebih bila kita disetir orang lain, itu hanya akan bikin kita selalu memegang kepala sambil bergumam, ‘Di situ kadang saya merasa sedih.’ Itu baru toko kelontong. Negara? Tanyakan saja langsung pada orang yang pernah atau masih jadi presiden.”
”Bertanya langsung? Emangnye gue siape? Tapi bolehlah, nanti kalau Pak Presiden kirim SMS ke aku, akan kusampaikan aspirasimu, Jon Lebay yang baik. Hahaha….” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 5 April 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: