Home » Kolom SMILOKUI » KITA (BUKAN) PEMARAH

KITA (BUKAN) PEMARAH

Jon Lebay sudah sering membaca, melihat, dan mendengar berita mengenai
Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang mengamuk dan mengeluarkan kata-
kata pedas. Dia bahkan hampir menarik simpulan bahwa bila tidak bergaya
seperti itu bukan Ahok namanya.
Meski begitu, Jon selalu berucap, ”Emang gue pikirin? Mau marah ya
mulut-mulut dia sendiri, mau mecat bawahan ya bawahan-bawahan dia sendiri
kok!” Pokoknya, bagi Jon, yang dilakukan Ahok, itu bukan urusannya. ”Kenal
aja kagak, dan lagian KTP-ku ndak ada tulisan ‘Provinsi DKI
Jakarta’.”
Hanya saja, terhadap berita yang terhangat mengenai proses mediasi oleh
Kemendagri yang mentok antara Ahok dan sebagian anggota DPRD DKI
Jakarta, Jon tidak bisa tidak prihatin.
”Apakah sekarang ini kita bukan lagi orang-orang yang santun? Apakah kita
telah menjadi orang-orang pemberang yang mengungkapkan keberangan itu
dengan cara-cara kasar dan kata-kata umpatan? Apakah kita telah menjadi
orang-orang yang tak sabaran?” tanyanya. ”Masa dalam pertemuan para
pejabat negara sampai keluar umpatan dengan nama binatang?”
”Jon,” balas saya lirih, ”itu kan hanya beberapa orang. Kita mengenal beberapa
orang atau tokoh yang pemberang. Kupikir itu belum bisa disebut mewakili
kita sebagai bangsa. Masih banyak kok orang-orang santun, ya macam kau
itulah, hehehe…. Jadi, jangan pakai gaya bahasa pars pro toto (sebagian
untuk menyebut semua) dong.”
Jon lalu mengatakan bahwa dalam keseharian, terutama di jalanan, dia
menjumpai orang-orang yang tak sabaran, pemarah, dan tukang mengumpat.
Lampu lalu lintas masih kuning sebelum hijau, sudah banyak sepeda motor
yang langsung tancap gas. Lampu baru saja hijau dan kendaraan di baris depan
baru mau berjalan, dari belakang sudah pekak bunyi klakson. Terciprat sedikit
air kotor dari genangan, segala nama dari kebun binatang keluar dari mulut
orang yang terkena cipratan.
”Paling heboh twitwar alias perang di Twitter dari dunia maya
berlanjut kopi darat ke dunia nyata dengan adu jotos. Belum lagi soal begal
yang heboh banget itu, seolah-olah tidak ada jalanan yang aman,” tambah Jon.
Hmm, agar Jon bertambah parno, saya tambahi, ”Belum lagi ada ungkapan
‘senggol bacok’ ya, Jon?”
Jon terdiam.
”Tapi Jon, aku tetap yakin bahwa masih banyak orang yang santun, lembut,
dan penyabar. Paling-paling mengelus dada sambil mencontoh Cita Citata,
‘sakitnya tuh di sini’. Misalnya, gaji terlambat dibayar, ya cuma mengelus dada.
Bilapun mengumpat, umpatannya lirih dan buru-buru beristigfar. Kalau
menurutmu, kenapa sebagian orang kurang sabar dan cenderung pemarah?”
Jon mengernyitkan kening mirip filsuf yang hendak memaparkan konsep
filosofisnya. ”Itu karena kita kehilangan rasa humor.”
”Ups, kehilangan rasa humor? Bukankah setiap saat kita disodori humor,
khususnya dari tayangan televisi, Jon?”
”Itu banyolan. Humor tak sekadar banyolan. Humor itu cara cerdas mereaksi
sesuatu tanpa efek temperamen negatif.”
Hmm, berat banget omongan Jon.
”Coba kalau kemarahan itu dijadikan energi kreatif dengan rasa humor yang
bagus, pasti kita masih bisa berlaku santun. Sudah santun, menghibur pula.”
”Contohnya?”
”Apa yang berlangsung di jejaring sosial bisa dijadikan contoh.
Hashtag alias tanda pagar Save Haji Lulung beserta meme-meme
kreatif tentang itu. Itu reaksi kreatif terhadap aksi Haji Lulung yang konon
memaki Ahok. Maksudnya, ketidaksukaan dengan orang yang suka memaki itu
dikemas dalam cara-cara humoris, kreatif, dan pasti menghibur. Beberapa
waktu lalu saat geger KPK-Polri, muncul meme buaya bermoncong putih.”
”Efektif mengatasi keinginan untuk berang?”
”Setidak-tidaknya, umpatan tak harus dibalas dengan umpatan. Kalau kau
dimaki seseorang, dan kau balas memakinya, ujung-ujungnya bisa terjadi aksi
kekerasan, lo. Misalkan begini: Ahok memaki bawahannya, dan kau tak suka
seorang gubernur melakukan itu, lantas kau memaki aksi itu di akun jejaring
sosialmu, percayalah, itu mirip kau menjala angin. Atau ada anggota dewan
yang terhormat misuh-misuh dan kau tak suka itu, lalu kau
membalasnya dengan mengumpat di jejaring sosialmu, itu juga sami
mawon, Mas Bro. Lagi pula, memang siapa dirimu, apa kau kenal mereka?
Marah atau mengumpati orang yang tidak kau kenal? Hmm, kamu akan jadi
orang paling ironis dan menderita sedunia.”
”Betul juga ya, Jon. Cara cerdas dan menghibur untuk membuncahkan
kemarahan.”
”Jadi, bila kau marah padaku, cukuplah kau bikin meme dengan gambarku
yang paling ganteng dan beri kata-kata ‘Jon Lebay Ganteng Pilihanku’.”
”Kamu ndak bakal tersinggung?”
”Insyaallah tidak. Dibilang ganteng kok marah?”
”Ya, soalnya itu kan tidak sesuai kenyataan. Kan kamu selalu marah pada
orang yang tidak mengungkapkan kebenaran?”
‘’Sst, itu perkecualian. Jangan bilang-bilang pada pembacamu, ya.’’(*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 8 Maret 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: