Home » Kolom SMILOKUI » JENDERAL BONEKA DAN MAYOR BERAS

JENDERAL BONEKA DAN MAYOR BERAS

PANGKAT Lukman hanya mayor. Tapi dialah yang mengangkat seseorang dengan pangkat lebih tinggi darinya: jenderal, kolonel, dan letnan kolonel.
Lebih hebat lagi, dia bahkan melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan seorang pun dalam ketentaraan. Apa? Menurunkan pangkat seseorang dari marsekal menjadi jenderal. Anda pasti tahu bahwa marsekal dan jenderal sama-sama berbintang empat. Yang pertama pangkat tertinggi angkatan udara, yang kedua itu pangkat tertinggi angkatan darat. Bahkan seorang jenderal besar seperti Soedirman, Soeharto, AH Nasution musykil melakukannya.
Singkatnya, Lukmanlah penentu segala. Dia menjadikan Nagabonar, si tukang copet, menjadi jenderal. Itu pun setelah dia diturunkan pangkatnya dari Marsekal Medan. Dia juga menjadikan Murad, pedagang kopi yang kopinya bukan kualitas dewa, sebagai kolonel. Dia juga menjadikan Barjo, guru yang dipecat karena selalu mangkir mengajar tapi selalu terima gaji, sebagai letnan kolonel. Dan mayor yang jadi pangkatnya pun dia ciptakan sendiri.
Siapakah Lukman? Hehehe, dia memang hanya tokoh rekaan dalam skenario karya Asrul Sani yang lalu difilmkan dengan judul Nagabonar (1987) yang disutradarai MT Risyaf. Saya yakin, sebagian dari Anda sudah menonton filmnya, baik yang versi asli maupun versi restorasinya (2008). Meski begitu, izinkan saya mencuplik adegan yang berkenaan dengan pembagian tanda pangkat dalam film itu.
”Apa tak ada pangkat yang lain?” tanya Nagabonar yang tak sepakat dengan pangkat Marsekal Medan.
”Yang lebih rendah, ada. Jenderal,” jawab Lukman.
”Ah itulah. Jenderal Nagabonar. Eh, hebat kau! Tak percuma kau jadi juru bicara markas.”
”Setuju?” tanya Lukman.
”Setuju,” jawab yang hadir.
”Bang Murad pangkatnya kolonel.”
”Setuju.”
”Barjo pangkatnya letnan kolonel.”
”Setuju.”
”Kalau aku… mayor sajalah cukup. Tapi beras masuk dalam urusanku,” ujar Lukman dengan senyum terkembang.
”Setuju.”
”Urusan pangkat selesai.”
”Belum,” sergah Jenderal Nagabonar, ”Bujang bagaimana?”
”Ah, soal si Bujang ini agak sulit. Sebab selama ini tugasnya hanya tugas pribadi: membawa bangku, mencabut pedang. Sudahlah, kopral saja!”
”Setuju.”

***

DI antara para perwira itu, pangkat Lukman paling rendah. Tapi dialah yang paling diuntungkan sebagai pemegang lisensi ”berdagang beras” untuk kesatuan tentara maupun untuk penduduk. Dia cukup menjadi ”Mayor Beras”.
Dan Nagabonar? Hanya jenderal boneka dia, boneka si Mayor Beras? Dia memang selalu kalah berdebat dari Lukman. Dia selalu bilang, ”Bagaimana kudebat dia? Dia anak HBS (Hogere Burger School), awak sekolah bambu pun tak tamat.”
Tapi dalam cerita itu, Asrul Sani menunjukkan ”kejenderalan” si Nagabonar. Tentu saja dengan aksi-aksi yang komedis. Dia seorang jenderal yang berlagak bodoh ketika berunding dengan pihak Belanda yang dipimpin Mayor Slot. Dalam perundingan itu, tak hanya dia memecundangi orang-orang Belanda dalam urusan penentuan garis demarkasi, tapi jam tangan si Mayor yang made in Swiss berpindah ke tangannya sebelum dipakaikan ke tangan Bujang yang kopral.
”Kau simpan baik-baik, Bujang. Itu bekas arloji Mayor Slot,” kata Jenderal Nagabonar.
”Mayor lawan Abang berunding itu?” tanya Bujang.
”Iyalah. Jadi biarpun pangkatmu kopral, arloji kau, mayor.”
Bahkan ketika Mayor Lukman mengkritiknya telah menggagalkan perundingan karena Nagabonar menunjuk Parit Buntar sebagai markas kesatuannya padahal tempat itu dapur tentara Belanda, Sang Jenderal berkata dengan keras, ”Aku tidak main-main, Lukman. Belanda itu mengira mereka pintar dan kita bodoh. Tapi Nagabonar tidak bodoh. Kalau kukatakan di mana pasukan kita, dia akan tanya di mana kita taruh mortir, di mana 12,7.”
Dan Lukman, pada akhir cerita, terketahui kedoknya sebagai orang yang menghamili seorang gadis bernama Jamilah. Dan perbuatan itu lantas dihukum tegas dan berat oleh Sang Jenderal di hadapan seluruh kesatuan.
”Mayor Lukman, aku sudah larang mencuri. Siapa yang mencuri, baik ayam atau kambing atau apa saja, akan dihukum. Kau sudah mencuri barang rakyat, milik si Jamilah, anak Pak Jamal. Karena itu, kau harus dihukum. Kau harus turun pangkat, dari mayor jadi sersan mayor.”
Agar lengkap, saya cuplikan juga percakapan Nagabonar dan Lukman setelah penghukuman itu.
”Malulah aku, Bang.”
”Yah, kau kan harus dihukum, Lukman. Kalau kau tak dihukum, apa kata orang nanti?”
”Saya terima. Turun pangkat, boleh. Tapi dari mayor turun ke kapten, bukan ke sersan mayor. Sampai hatilah Abang.”
”Hei, aku sudah pikir. Aku mau kau tetap mayor. Kupikir kau kapten mayor, tak bisa. Nanti kau bilang, tak ada pangkat macam begitu. Hei, malu aku! Jadi kubikin kau sersan mayor. Biar turun pangkat, tapi kau tetap mayor. Begitu, kan?”
”Iya, Bang. Sekali mayor, tetap mayor!”
Sayang sekali, dalam film itu tak disebutkan soal lisensi usaha beras apakah masih dipegang Lukman atau dicabut.

***

NAH, Pembaca, pelantikan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai Wakapolri oleh Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti beberapa hari lalu memantik komentar. Salah satunya yang menganggap sang Kapolri hanya akan jadi pemimpin boneka karena semua pos penting di tubuh Polri dipegang oleh sang wakil.
Saya dan Jon Lebay hanya berharap Pak Kapolri bisa seperti Nagabonar: tegas menunjukkan jati dirinya sebagai pemimpin tertinggi di tubuh Polri. Kami berharap dia membuktikan ucapannya: ”Saya Kapolri, saya yang pegang komando. Semua ikut perintah saya.”
Ya, Nagabonar hanyalah tokoh rekaan. Tapi kita bisa belajar darinya. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 26 April 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: