Home » Kolom SMILOKUI » (INI)SIAL

(INI)SIAL

Inisial dalam KBBI adalah huruf pertama kata atau nama orang. Nah, coba Anda cermati para pelatih sepakbola. Inisial mereka tersemat dalam rajutan pada salah satu bagian kaus atau topi mereka. Ada AP (Alan Pardew), ID (Iain Dowie), HR (Harry Redknapp), dan banyak lagi lainnya. Jadi, kalau kita juga doyan bikin inisial, bergembiralah karena kita punya bala banyak, dan bukan orang kelas ceremende.
Soal inisial itu, selama lebih dari sebulan ini, ada beberapa yang sangat populer, bahkan masuk ke alam bawah sadar kita. Saking merasuknya, mungkin sekali saat kita baru bangun tidur saja segera bisa merujuk siapa yang dimaksud bila mendengar inisial itu disebut: BG, BW, AS. BG jelas bukan bilyet giro atau baru gede melainkan Budi Gunawan. BW bukan black-white melainkan Bambang Widjojanto, dan entah kenapa tidak merujuk ke Budi Waseso (Kabareskim Polri). AS tentu saja bukan alaihi salam atau Amerika Serikat melainkan Abraham Samad. Inisial terakhir itu kalau dibaca dari belakang menjadi SA yang mungkin bagus bila dipakai sebagai inisial saya, hehehe….
Sayang, saya tidak suka atau lebih tepatnya tidak pantas berinisial karena memang bukan orang top. Alasan lain, bagaimana bila ada sebuah berita bertajuk ”SA Ditangkap Polisi”? Kalau sebelumnya saya memopulerkan inisial itu ke keluarga atau teman-teman, bisa jadi mereka sibuk mencari kebenaran mengenai berita itu, dan semoga saja mereka bernapas lega ketika tahu yang dimaksud SA itu ternyata Sarimin Amin atau Subali Anoman (maaf bila ada kesamaan nama; ini hanya contoh semata).

***

YA, Kita agaknya getol berinisial-inisial. Media massa mungkin yang paling suka. Hanya saja, pada pertengahan pekan lalu seturut keputusan Presiden Jokowi tidak melantik Budi Gunawan dan mengajukan nama baru ke DPR, orang-orang media massa barangkali harus memegang kening dulu sebelum menuliskan inisial nama baru itu: Badrodin Haiti yang kalau diinisialkan menjadi BH. Asyik kali ya bila berita berjudul ”Presiden Ajukan BH ke DPR untuk Diuji”? Tak seronoklah, kata Upin. Nagabonar yang bisa sedikit bahasa Belanda juga mungkin akan berkomentar, ”Malulah awak punya presiden jualan bustehoude….” BH adalah singkatan dari Bustenhalter (Jerman), bysthallare (Swedia), brystholder (Denmark), dan bustehoude (Belanda).
”Halah, ditulis inisialnya juga orang tahu yang dimaksud Badrodin Haiti, dan bukan yang dipakai Syahrini,” sergah Jon Lebay.
”Memang kau tahu Syahrini pakai itu?”
Jon melotot. Saya tahu, Jon yang biasanya benci orang yang berakronim-akronim, kali ini rupanya suka pada yang berinisial-inisial. Itu lantaran dia juga kerap menuliskan inisial JL. Beruntung sekali Jennifer Lopez lebih suka disebut J-Lo ketimbang JL. Jadi, saya tidak perlu bersorak-sorak bila ada SMS yang di akhir pesan tertulis ”JL” karena saya tahu itu bukan dari Jennifer.
”Tapi Jon, bila ada judul berita begini: ‘BW Perintahkan BW Ditangkap’? Pembaca lak bingung toh, Ndan!”
”Pembaca sudah cerdas sekarang. Mereka akan tahu BW yang satu itu Kabareskim Polri dan satunya komisioner KPK non-aktif. Gitu aja kok repot!”
”Kamu ikut-ikutan GD, ya?”
”GD?”
”Lupakan sajalah, Jon. Lebih baik sekarang kita pergi ke KL.”
Mata Jon mendadak berbinar-binar. ”Kau ajak aku ke Kuala Lumpur, ke Malaysia nih?”
”Ke Malaysia mau apa, wong Siti Nurhaliza sudah lama kawin. Lalu duit dari Hongkong? Ke kopi lelet!”

***

NAMA diberikan kepada kita sebagai doa dan pengharapan seperti orang Jawa bilang asma kinarya japa. Itu sebabnya orang tua kita memberikan nama-nama yang bagus, indah disebut, dan bermakna. Nama Budi Gunawan misalnya adalah harapan bahwa si jabang bayi itu bakal menjadi orang yang tak hanya berbudi tapi juga berguna; Slamet Raharjo, tak hanya selalu selamat tapi juga sejahtera.
Dalam hal nama, konsep seluruh orang di dunia ini agaknya serupa: sebuah pemberian yang baik. Orang tua Angelina Jolie tentu berharap si anak bakal serupa ”malaikat yang cantik”. Atau orang Indian memberi nama yang tak hanya bagus, puitis, tapi juga ekologis. Sebut saja teluhci (beruang berguling di pasir), chavatangakwunua (pelangi kecil), chochopi (takhta di awan), lokni (tetesan air hujan), atau onacona (burung hantu salju).
Aneh memang bila nama-nama yang bagus itu dibikin inisial.
”Jadi tidak boleh membuat inisial nih?” tanya Jon sinis.
”Memang aku ini siapa kok melarang-larang? Hanya saja coba kaupikir Jon, berapa orang di dunia ini yang berinisial JL? Kau bakal tidak limited edition lagi lo, ya.” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 22 Februari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: