Home » Kolom SMILOKUI » EKSPRESIF-REAKTIF

EKSPRESIF-REAKTIF

SELAMA ini ada anggapan bahwa kita kurang ekspresif ketimbang orang Barat. Kata ”ekspresif” itu perlu dibatasi pemahamannya sebagai ”sifat mudah atau leluasa mengungkapkan sesuatu secara terbuka”. Orang Barat misalnya mudah mengucapkan kata-kata penolakan secara spontan bila tidak setuju terhadap sesuatu sementara kita umumnya perlu menimbang-nimbang dulu sebelum mengungkapkannya. Kita misalnya perlu menimbang apakah mitra tutur kita itu bakal tersinggung atau tidak. Jadi, ”ekspresif” bolehlah diartikan sebagai ”spontanitas dalam mengungkapkan sesuatu”. Tapi anggapan belum suatu kebenaran, kan?

Hanya saja sekarang ini, seturut keberadaan jejaring sosial, kita sudah jadi orang-orang ekspresif. Lantaran jenuh menunggu seseorang, kita misalnya menulis ungkapan ”menunggu memang menyebalkan”, atau mungkin unggah lagu ”Menunggu” versi Rhoma Irama-Rita Sugiarto atau versi Ridho Rhoma. Lantaran mengantuk di kelas atau di ruang seminar, dengan sembunyi-sembunyi kita ambil telepon seluler, membuka akun jejaring sosial, lalu… ”lapar bingits”.

Tak ada yang keliru dalam hal itu. Sebaliknya, ekspresi seperti itu kata para pakar psikologi bagus sebagai katarsis atau pelampiasan dari ”derita” psikologis. Hanya saja, ekspresi spontan kadang-kadang menjadi bumerang. Kasus yang menimpa Florence Sihombing tahun lalu dan beberapa orang lainnya adalah pelajaran penting bahwa tak selalu ekspresi spontan itu berujung bagus.

Selain ekspresif, jejaring sosial juga membuat kita semakin reaktif. Kita bisa secara spontan mengomentari atau menjawab ekspresi seseorang, lengkap dengan muatan emosional di dalamnya seperti marah, sedih, terharu, dan lain-lain.

Nah, berkaitan dengan ”ekspresif” dan ”reaktif” yang harus kita batasi dalam konteks dunia maya, naga-naganya Jon Lebay yang sudah keluar dari tempat ”penghilangan diri” beberapa waktu lalu, adalah tipe orang yang berada di luar aras itu. Tentu saja dia memiliki akun di beberapa jejaring sosial. Tapi ya itu, akunnya sepi. Dia juga jarang mengomentari unggahan orang lain. Padahal hampir setiap saat dia juga membuka apa yang terungkapkan di jejaring sosialnya. padahal lagi, dalam keseharian, Jon itu tipe orang yang mudah berkomentar atau mengungkapkan sesuatu. Tak jarang, kenyinyiran dari mulutnya bikin orang lain memegang dadanya dalam gaya Cita Citata: sakitnya tuh di sini….

***

NAH, dengan tipe seperti itu, sangat muskil mengharapkan Jon Lebay ikut berkomentar pada cuitan seseorang di Twitter tentang bahasa Jawa yang haram karena kata si pencuit bahasa itu terpengaruh dari Hindu. Bahkan dia hanya terkekeh ketika seorang kawannya bilang, ”Jon, meskipun namamu rada ndak njawani, tapi kamu tetap orang Jawa yang dalam keseharian berbicara dengan bahasa Jawa. Kamu ndak marah bahasamu dibilang haram?”

”Marah tidak bagus buat kesehatan, Kawan,” ujarnya.

”Kalau ndak marah, ya tersinggung dikitlah.…”

”Selain buruk untuk kesehatan jiwa, marah hanya buang-buang energi.”

”Tapi cuitan itu menyakiti orang, khususnya orang Jawa seperti kita ini. Masa kamu ndak bereaksi?” kata teman Jon.

”Kalau aku harus marah, ya marah padamu.”

”Lo?”

”Lah iya, cuitan asal tulis begitu kamu bahas. Memang siapa si pencuit itu? Ulama besar? Kata-katanya fatwa?”

”Ya sih, tapi bisakah sebuah bahasa diharamkan? Kalau diharamkan, kita pakai bahasa apa?”

”Pakai bahasa semut saja!” ujar Jon pedas sambil ngeloyor.

Saya tentu saja sependapat dengan Jon Lebay: cuitan itu tak perlu direaksi. Mungkin memang itu cuitan asal, yang dalam hal ini berkaitan dengan sifat ekspresif itu. Saya membayangkan si pencuit baru saja mempelajari etimologi bahasa Jawa dan menemukan betapa banyak kata-kata Jawa yang berasal dari Sanskerta di India, dan menurutnya India itu Hindu yang mungkin (sekali lagi, mungkin sebab si pencuit tidak menyebut agamanya) buat dirinya adalah kekafiran. Lantas dia berpikir bahwa memakai bahasa yang terpengaruh kekafiran itu haram. Maka dia tuliskan lintasan pikiran itu dalam cuitan di akun Twitter-nya. Ekspresif! Dan terhadap soal keterpengaruhan itu sudah ada yang membantahnya. Si pembantah berkomentar bahwa Nabi Muhammad memakai bahasa yang sama dengan orang-orang Quraisy, orang-orang pada zaman Jahiliyah, orang-orang sebelum Islam.

Tapi mungkin juga cuitan itu punya motif. Misalnya, sengaja hendak bikin sensasi untuk cari popularitas atau setidak-tidaknya jadi trending topic. Bila benar itu motifnya, si pencuit lumayan berhasil. Pasalnya, kembali lagi kita pada sifat ekspresif-reaktif itu. Sesuatu yang ”agak aneh” di jejaring sosial, direaksi dengan sekian banyak komentar, atau di-retweet banyak-banyak, maka tertawalah si pemilik akun. Dia mendadak kondang. Dan itu sudah sering terjadi di jejaring sosial.

Tapi saya juga tidak bisa abai pada pertanyaan kawan Jon itu: bisakah sebuah bahasa diharamkan? Anda sudah tahu jawabannya. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 15 Februari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: