Home » Kolom SMILOKUI » DILARANG KIDAL

DILARANG KIDAL

PRESIDEN Jokowi minum sambil berdiri dan memakai tangan kiri. Ketika sebagian orang mengkritik cara minum seperti itu sebagai cara minum yang tidak sesuai adab, dengan catatan khusus adab islami, Jon Lebay berkomentar, ”Aku ndak tahu apakah Pak Presiden pernah makan tanpa menggunakan tangan. Kalau belum pernah, beliau kalah dari anak dan keponakanku. Mereka pernah makan tanpa harus memakai tangan.”
”Itu karena mereka disuapin sih…,” sergah saya.
Ndak. Mereka makan sendiri, kok.”
”Jadi nyosor gitu kayak kucing. Hanya hewan yang makan tidak dengan tangan.”
Tuh kan, pikiranmu selalu langsung ke arah yang negatif sih. Kera dan beruang makan dengan tangan, keduanya juga hewan. Begini, Bro, anak dan keponakanku pernah makan tanpa menggunakan tangan mereka. Mulut mereka langsung nyosor ke arah makanan. Justru kalau pakai tangan, mereka akan dapat hukuman.”
”Lo?”
”Lomba makan kerupuk saat tujuhbelasan. Serius amat sih kau ini.”
Soal adab makan dengan cara duduk dan menyuapkan makanan dengan tangan kanan tentu saja sudah dikenal Jon sejak dia bisa makan sendiri. Tata cara itu dia dapat dari ayahnya. Hanya saja, lantaran ayahnya bukan orang alim (maksudnya tahu banyak pengetahuan soal agama), yang hanya hafal surat Alfatihah, dia tidak mengatakan adab itu berasal dari hadis. Lebih tepatnya hadis yang berbunyi, ”Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.”
”Ayahku bilang, tangan yang untuk cebok ndak boleh dipakai untuk makan. Beliau bilang, hanya monyet yang makan sambil berdiri. Cespleng juga omongan ayahku itu. Paling ndak, kalau di rumah ya makan sambil duduk atau bersila saat kenduri, dan selalu memakai tangan kanan. Tapi melanggar adab itu, ya sering. Jangankan hanya pakai tangan kiri, makan sambil berjalan dan berlari juga pernah. Kalau ndak lari, bisa kena gebuk tongkat si pemilik mangga. Hehehe….”

***

BAGI Jon Lebay, adab, etiket, atau tata kesopansantunan itu bagus diterapkan. Tapi ketika seseorang yang minum dengan tangan kiri itu sudah disebut tidak islami karena ”keluar” dari anjuran hadis, itu yang repot.
Jon juga punya banyak catatan diberi cap ”tidak islami”. Sebelum pemain sinetron Teuku Wisnu mengubah penampilan dengan memelihara jenggot tebal, selalu pakai baju koko, dan celana congklang di atas mata kaki, Jon punya kawan yang pada suatu hari mendadak berpenampilan seperti itu. Meskipun suka nyinyir, Jon adalah orang yang mampu menghargai orang lain. Saat itu Jon hanya berkomentar, ”Wah, selamat, penampilanmu keren. Sudah mirip para imam di Timur Tengah.”
Kata Jon, temannya itu menyergah, ”Ini bukan perkara soal kemiripan dengan para imam. Ini soal bagaimana kita mendisiplinkan diri untuk hidup secara islami dalam semua hal, termasuk penampilan. Gaya penampilanmu yang serampangan itu sama sekali tidak islami. Ubah cara berpakaianmu, cukur kumismu, dan peliharalah jenggot.”
Sebenarnya saat itu Jon ingin meledak-ledak. Syukurlah, saat itu dia lulus dari godaan untuk mengumpat-umpat.
Soal memelihara jenggot itu, jauh sebelumnya Jon sebenarnya sangat ingin menumbuhkan cambang dan jenggot. Dia suka film koboi. Banyak tokohnya yang bercambang dan berjenggot. Menurutnya, itu keren. Tapi meskipun sudah berusaha mati-matian, termasuk mendisiplinkan diri mengolesi janggut dan pipi dengan minyak kemiri dan obat penumbuh rambut, rambut yang tumbuh di bagian yang sangat diharapkan itu jarang-jarang. Yang subur justru kumisnya.
Sekali lagi Jon menegaskan bahwa dirinya sepakat bila setiap orang mengikuti adab atau etiket berperilaku. Sebagai pemeluk Islam, dia juga sangat ingin mengikuti etiket keislaman. Tapi dia menolak penerapan etiket yang tidak luwes.
”Kalau ndak luwes, orang kidal akan kerepotan ketika akan makan. Orang yang ndak berbakat punya jenggot seperti aku, masa harus pakai jenggot palsu?”
”Dan satu hal lagi,” tambah Jon, kali ini sambil melotot dan menuding ke arah saya, ”kalau kau anggap yang berasal dari Arab itu selalu islami, itu sungguh ter-la-lu. Jadi tari perut juga….”
”Jon,” sergah saya, ”kok kamu malah marah-marah padaku? Cepat marah itu yang <I>ndak<P> islami.”
Lalu kepadanya saya ceritakan sebuah unggahan kisah (entah itu nyata atau hanya anekdot) di akun Facebook teman saya. Di situ diceritakan tentang seseorang yang menganjurkan anak-anak mengganti panggilan ”ibu” menjadi ”umi”.
”Panggilan itu lebih islami,” tegas si penganjur.
Orang yang diberi anjuran mengatakan bahwa dirinya mengira panggilan ”ibu” itu sudah islami.
”Ya nggak bisa dong. ‘Umi’ lebih islami daripada ‘ibu’. Itu panggilan Arab.”
Tetap tak sepakat, penerima anjuran itu berkata, ”Kau tahu kepanjangan dari ASI? Itu air susu ibu. Kalau ibu harus diganti dengan umi, jadinya air susu umi. Coba kau singkat itu. Singkatannya jadi….”
Pembaca, maaf, saya tak menuliskan lanjutan ucapan itu. Sebab, bila Anda orang Jawa, Anda akan tahu singkatan itu merujuk ke seekor binatang.
Apa pun sebutannya, mau ibu, umi, mama, mami, mommy, mother, emak, simbok, inang, bunda, bundo, biang, amak, dan lain-lain, asal diucapkan dengan lembut, penuh kasih, itu baru beradab namanya. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 28 Juni 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: