Home » Kolom SMILOKUI » CINTA SAMPAI DI SINI

CINTA SAMPAI DI SINI

 

SEJAK Jon Lebay memutuskan ”menghilang” dari keriuhan berita terutama tentang orang-orang di dua lembaga hebat kita, KPK dan Polri, saat santai buat saya ibarat roti tawar tanpa olesan mentega atau selai atau meises (butiran cokelat) yang dimakan ketika perut sebah. Atau, mirip sambal penyet tanpa cabai. Pasalnya sudah sama-sama kita tahu, yang keluar dari mulut Jon Lebay hampir selalu berasa seperti lombok setan.

Saya semakin merindukan ”kepedasan” dirinya ketika belakangan ini saya sering diberondong pertanyaan seputar kekisruhan kedua lembaga penegak hukum itu. Memang dalam obrolan keseharian. Status yang bertanya dan yang ditanya juga sama-sama bukan pesohor, tokoh, atau pakar bidang tertentu. Hanya rakyat biasa yang semoga saja bukan rakyat ”tidak jelas”, hehehe…. Tapi pertanyaan itu bikin galau juga.

”Kira-kira bagaimana akhir drama KPK-Polri ini? Anda membela yang mana? Sekuat apa sih Pak Budi Gunawan itu sampai seorang presiden butuh waktu lama untuk memutuskan soal pelantikannya? Benar nggak sih Abraham Samad menemui petinggi PDIP untuk meminta dicalonkan sebagai wakil presiden? Foto-foto mesra Abraham dengan seorang perempuan itu benar  nggak?”

Ya, saya yakin itulah topik obrolan keseharian sekarang ini. Dalam obrolan seperti itu, bagaimana saya harus menjawab ketika saya juga tidak tahu pasti kebenarannya?

”Yang mungkin bisa menjawab itu teman saya. Tapi dia sedang menghilang sekarang ini. Dan dia sedang tidak ingin diekspose,” dalih saya.

”Tapi Anda kan wartawan, dan wartawan bukannya serbatahu?”

What? Mister Know-All? Ah, mungkin memang ada wartawan yang serbatahu. Tapi jangan-jangan saya ini hanya wartawan yang tahu serbasedikit tapi mencitrakan diri sebagai wartawan yang seolah-olah tahu serbabanyak. Nantilah bila saya bertemu teman saya itu dan dia mau bicara, saya akan membaginya kepada Anda saat kita ngopi bareng. Oke?”

Teman mengobrol saya itu tetap belum puas. Dia malah melemparkan topik lain. ”Pak Jokowi kok ternyata gitu, ya? Banyak loh yang kecewa. Banyak loh yang cintanya kandas kepada beliau. Kok bisa secepat itu rasa cinta berubah jadi kecewa?”

***

SAYA datang ke tempat penghilangan diri Jon Lebay. Pada awalnya, dia menolak ditemui macam pejabat berkasus saja, hehehe…. ”Kalau ngomongin politik atau kekisruhan itu, pintuku tertutup buatmu,” jawabnya lewat SMS.

”Kalem, Bro, aku kangen saja kok. Ya, ngomongin soal cinta. Cinta yang kandas. Asyik, kan?”

”Kamu lagi puber keduaratus ya kok tumben ngomongin cinta. Rambut sudah ubanan gitu….”

”Cinta yang kandas. Kamu kan sering mempromosikan diri sebagai konsultan cinta. Jadi, aku datang ke ahlinya, kan?”

Lagu-lagu dangdut mengalun di tempat penghilangan diri Jon Lebay. Hmm, katanya lebih banyak memutar lagu jaz seperti dalam SMS-nya tempo hari, jebulnya….

Tanpa cipika-cipiki tentu saja, Jon langsung menyeduh kopi. Pada seruputan pertama, saya sudah mengajaknya mengobrolkan sesuatu yang akan langsung membuatnya melotot: topik yang sudah kami sepakati untuk dihindari dalam obrolan. Apalagi, kalau bukan kekisruhan yang melibatkan orang-orang di dua lembaga itu.

Dan dia istikamah terhadap sikapnya, hanya syukurlah tanpa harus memelototkan mata, ”Ngobrol yang lain saja. Kita obrolkan kenapa Bejo dan Surti yang sudah hampir sepuluh tahun menikah itu kabarnya mau bercerai. Kita obrolkan kegalauan tetangga kita yang sudah lama menikah tapi belum juga dikaruniai anak. Ada baiknya kita hibur mereka dengan lagu Bang Haji Rhoma Irama yang berduet dengan Elvie Sukaesih saja: ‘Sepuluh tahun sudah kita berumah tangga, tapi belum juga mendapatkan putra….”’

Sambil mendendangkan lagu itu, dia beranjak ke komputernya dan dalam beberapa klik terdengar lagu ”Mandul” itu.

Ketika lagu itu mengalun, gaya Jon yang nyinyir keluar juga akhirnya. Saya berteriak dalam hati, ”Kena luh! Guweh emang cuma kangen sama kenyinyiran eluh.”

”Kita ribut-ribut dan bingung siapa benar siapa salah. Bagaimana bila saat kita bergunjing ini, mereka yang kausebut-sebut itu sedang tertawa-tawa sambil ngopi bareng?”

”Apa maksud, Tuan Jon?”

”Yah, siapa tahu sekarang ini Pak Abraham Samad sedang duduk di kafe di suatu pulau terpencil bersama Pak Budi Gunawan, Bu Megawati, dan Pak Jokowi? Siapa tahu mereka lagi gayeng ngobrol soal gaya berbusana, atau gaya rambut terbaru? Siapa tahu Pak Abraham disarankan untuk potong kumis dan menggondrongkan rambut, atau Pak Budi juga disarankan potong kumis dan membuat cepak rambutnya seperti zaman beliau masih taruna, atau Pak Jokowi disarankan menata rambutnya tak harus selalu dibelah dua, atau Bu Mega disarankan menata rambutnya bergaya Harajuku?”

Saya terpaksa harus menghentikan imajinasi Jon. ”Jon, imajinasimu memang liar. Tapi itu bahaya. Kalau sampai keluar, kau bisa dianggap sebar fitnes, eh fitnah. Di-tersangka-kan loh kamu!”

”Kan aku bilang siapa tahu, itu artinya…. Sudahlah, katanya mau ngomongin cinta yang kandas?”

”Itu loh, banyak yang bilang cinta sebagian orang kepada Pak Jokowi mulai kandas dan mereka kecewa?”

Jon mengumpat. ”Ke arah itu lagi. Pulang saja kamu! Atau kalau kau bisa diam, nikmati kopi dan lagu ini….”

Kembali ke komputernya dia lalu memutar sebuah lagu. Lagu ”Cinta Sampai di Sini” lantunan Mansyur S: ”Barulah sekarang aku menyadari/cintamu padaku oh sekulit ari/Tiada kusangka engkau/sampai hati nodai cintaku yang suci mulia.” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 8 Februari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: