Home » Kolom SMILOKUI » (BUKAN) ORANG YANG TEPAT

(BUKAN) ORANG YANG TEPAT

JON LEBAY paham bahwa konsep ”the right man on the right place” tidak selalu gampang diterapkan. Apalagi bila tugas atau pekerjaan seseorang itu ditilik dari latar belakang pendidikannya, konsep tersebut bakal semakin pelik ditafsir.
Dia punya banyak teman yang ”bukan orang pas di tempat pas”. Ada yang lulusan Sejarah, tapi dia mencari penghidupan sebagai broker properti. Ada yang sarjana hukum pidana, tapi dia saleswoman alat kecantikan. Jadi broker properti tentu saja tak begitu banyak membutuhkan pengetahuan mengenai sejarah Nusantara atau sejarah perang di dunia. Begitu pula, menawarkan alat kecantikan tak begitu membutuhkan pengetahuan teknis ihwal hukum pidana.
Lalu dari mana mereka belajar merayu seseorang untuk membeli properti tertentu atau meyakinkan calon konsumen bahwa suatu alat kecantikan mampu mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik?
Itulah mengapa Jon selalu bilang, ”Kita ini bangsa hebat. Kita bisa melakukan apa saja. Kemampuan menguasai tugas atau pekerjaan tertentu, itu mah bisa dipelajari sambil jalan. Ya, anggap saja kayak orang dapat beasiswa untuk bersekolah, sudah gratis sekolahnya, dapat uang saku, eh ilmu kita dapat pula. Kalau ada orang yang menawariku sebagai konsultan pajak, tak mungkin kutolak, hahaha….”
”Jon, tawaran jadi konsultan pajak untukmu punya kemungkinan setipis kulit ari karena tak tahu-menahu ihwal pajak. Kau juga bukan ‘orang bijak yang taat pajak’, kan? Berapa kali coba kau terlambat bayar tagihan pajak?” tanya saya.
”Ssst, kecilkan volume suaramu. Tapi kalau benar jadi konsultan pajak dadakan, aku kan juga bisa belajar?”
”Wah, repot bila semuanya dipegang oleh orang ajaran alias baru icip-icip belajarnya. Kau naik taksi yang sopirnya baru satu hari kursus mobil, mau?”
Jon hanya terkekeh. ”Jadi, idealnya de rait men on de rait ples?”
Jelang dos, eh jelas dong!”
”Jadi menurutmu, Refly Harun bukan orang pas untuk Komisaris Utama PT Jasa Marga Tbk?”
”Jon, bilapun setiap hari kau menyusuri jalan tol di semua kota, apa itu lantas aku harus menyimpulkan bahwa kau tahu persis teknis pembuatan jalan tol atau pengelolaan jalan layang itu?”
”Seorang komisaris utama kan ndak harus mengurusi pengelolaan jalan tol. Dia memikirkan yang besar-besar dong. Lagi pula, kau juga tahu kan, Bapak Refly itu pintar. Dia intelektual. Pakar hukum tata negara. Orang sepintar dia pasti cepat belajar menjadi komisaris.”
”Terserah apa katamu, Jon. Tapi anak domba yang dipelihara serigala mungkin juga bisa berlari sekencang serigala, gaya jalannya bisa sesangar serigala. Tapi aku tak yakin dia doyan daging kambing. Ia tetap pemakan rumput. Dan ketika harus bersuara, mustahil ia melolong. Ia pasti mbeeek… mbeeek… mbeeek….”
”Tapi aku yakin Pak Refly bukan domba di lingkaran serigala. Eits, analogimu kok mengerikan sekali sih? Bahaya loh kalau kau dianggap menyamakan beliau dengan domba,” tandas Jon sambil nyengir.
”Jon, itu hanya analogi. Hanya perumpamaan.”
”Lalu, adakah yang bisa membatalkan penunjukan itu?”
Itu pertanyaan retoris, pertanyaan yang bukan pertanyaan alias tak butuh jawaban. Tapi sekali lagi, pendapat Jon Lebay tentang ketidakmudahan penerapan “the right man on the right place” menemukan pembuktian.
Di luar itu, benarlah untuk menjadi seorang pemimpin (ya komisaris utama sebuah BUMN tentu saja berkategori pemimpin), seseorang tidak harus serbatahu atau tahu segala hal. Dia juga tak harus menjadi orang yang pintar segala, seorang superhero, seorang juru selamat untuk situasi karut-marut.
Yang Mulia Paduka Presiden Bapak Joko Widodo juga tak harus pintar segala, tahu segala, atau seorang superhero. Sang Presiden misalnya tak harus tahu betul tentang produksi laut, harga ikan, atau distribusi ikan dari wilayah maritim kita. Itu sebabnya Presiden butuh menteri yang dia yakini tahu betul tentang dunia ikan dan laut. Itu sebabnya seorang presiden dituntut memiliki kemampuan memilih orang-orang yang secara ideal ”the right man (woman) on the right place”. Keliru pilih, alih-alih dibantu, justru bakal direpotkan.
”Tapi ketika memilih, sering sekali pertimbangan personal lebih dominan. Dengar-dengar, beberapa komisaris BUMN yang baru juga dipilih atas dasar pertimbangan itu. Lebih tepatnya, balas budi,” komentar Nok Selpi, teman Jon yang kondang sebagai aktivis perempuan.
”Apa iya, Nok?”
Tuh Ibu Cahaya Dwi Rembulan Sinaga yang jadi Komisaris Bank Mandiri tadinya anggota Tim Sukses Pak Jokowi….”
”Tapi Nok, bukannya sebagai aktivis perempuan kau semestinya senang ada perempuan punya posisi hebat seperti itu?” goda saya.
”Hmm….”
”Hmm, soal balas budi itu ya, kayaknya kita sering lemah berhadapan dengannya. Misalkan begini, Nok, kita berkawan akrab dan kalau aku mau bikin seminar yang topiknya nyerempet-nyerempet soal perempuan, pasti kau yang akan kupilih sebagai narasumber. Itu juga balas budi atas pertemanan kita?”
”Hmm….”
Nok Selpi yang terkenal suka berkomentar gahar itu kok hanya ”ham-hem”? Apakah saya sedang berhadapan dengan orang yang tidak pas, wahai Pembaca? (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 22 Maret 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: