Home » Kolom SMILOKUI » BELI SATU DAPAT BANYAK

BELI SATU DAPAT BANYAK

JON LEBAY pernah kewalahan menjawab pertanyaan Nok Selpi, seorang kawannya yang kondang sebagai aktivis pejuang hak keperempuanan atau istilah kerennya pejuang feminisme.
”Kalau yang mau dijual itu sepeda motor, kenapa harus ada seorang gadis di dekatnya yang berpenampilan kata orang itu seksi? Kalau gadis itu digambarkan mengendarai sepeda motor, okelah itu agak lumrah. Bila pun hanya mejeng, ya setidak-tidaknya si gadis berpenampilan seperti orang yang mau naik motor, lengkap dengan helm misalnya.”
”Ya agar menariklah. Siapa yang tidak tertarik melihat gadis iklan sepeda motor yang rata-rata cantik?” jawab Jon.
”Kalau yang dipakai sebagai daya tarik itu kecantikan si gadis, apa iklan itu hendak menjual si gadis? Tentu tidak, kan?”
Hmm, Jon garuk-garuk kepala. Mukanya tampak seperti istilah ”kena batunya”. Dia ketemu orang yang bertabiat tukang ngeyel seperti dirinya.
”Kalau orang mengiklankan suatu jenis hidangan, dan hidangan itu disajikan di atas piring cantik, itu tak memunculkan persoalan. Kalau hidangan itu diletakkan di atas lembaran koran atau bahkan lantai, itu baru persoalan. Jadi, piring itu sangat mendukung keberadaan hidangan yang dipromosikan. Gadis dalam iklan motor itu semata hiasan. Tanpa keberadan si gadis di dekatnya pun orang akan tahu yang mau dijual ya sepeda motor itu.”
Jon yang kondang jago berdalih dan berkilah, kali ini benar-benar tak mampu mengeluarkan jurus ampuhnya itu.
”Jon, ini bukti bahwa pada setiap bidang kehidupan, perempuan selalu dieksploitasi. Iklan sepeda motor yang seperti itu hanya menjadikan perempuan semata hiasan. Dan itu jelas merendahkan kaum perempuan,” tandas Nok Selpi.
”Oh begitu, ya?”
”Ya, itu tidak hanya dalam dunia iklan, loh. Pemberitaan media massa juga sering melakukan itu. Ironisnya bahkan itu ditulis oleh wartawan berjenis kelamin perempuan.”
”Maksudmu?”
”Berita tentang penjual gethuk, fokusnya soal kecantikan si penjual. Juga soal perempuan penambal ban, polwan, istri gubernur dan sebagainya, yang ditulis semata tentang semua kecantikan paras muka mereka. Kenapa tidak menulis perjuangan atau usaha keras si penjual gethuk dari mempersiapkan dagangan hingga pulang jualan? Atau kerja keras si tukang tambal ban itu, atau aksi-aksi heroik dan simpatik si polwan, atau kiprah istri gubernur yang sangat peduli terhadap rakyat? Kenapa fokusnya hanya ke urusan wajah?”
Sampai di sini, Jon bak petinju yang terjengkang dan tak bisa bangkit lagi hingga wasit mengucapkan angka 10. KO!

***

JON ingat kata-kata Nok Selpi yang pedas itu ketika membaca berita mengenai rumah yang dijual dan pembelinya dapat bonus: boleh menikahi si pemilik rumah. Ya, itu berita tentang Wina Lia di Sleman yang mengiklankan rumahnya dengan iming-iming bahwa siapa pun yang membeli rumah itu boleh sekalian menikahi si pemilik.
Jejaring sosial heboh oleh pemberitaan itu. Ada pula yang berkomentar bahwa itu cara cerdas menjual properti. Dia menjual rumah, tapi tak bakal kehilangan rumahnya karena toh bakal dinikahi si pembeli. Tapi Jon Lebay malah meledak-ledak, ”Ini eksploitasi keperempuanan. Sialnya, eksploitasi ini dilakukan sendiri oleh Wina yang notabene perempuan. Dan kalian para wartawan, ya kalian juga secara sistematis mendukung proses eksploitasi keperempuan,” tuding Jon pada saya.
Saya agak kaget juga secara mendadak dituding-tuding Jon. Tapi dia kawan yang selalu mengajarkan agar saya selalu bersabar.
”Kok kamu malah menyalahkan Mbak Wina dan para wartawan, Jon? Hmm, omong-omong, sekarang kau sudah jadi pejuang feminisme seperti temanmu si Nok Selpi, ya? ”
Jon tidak membalas pertanyaan saya karena tampaknya dia sedang suka mengeluarkan hasil belajarnya dari Nok Selpi. ”Kalau mau jual rumah, ya jual rumah saja. Kalau mau cari jodoh, ya cari jodoh saja. Lebih-lebih lagi ada berita soal si Wina yang diberi embel-embel janda yang seolah-olah kapiran. Tahu kau arti kapiran?”
”Tahu, tahu, Jon!”
”Dengan begitu si Wina kan merendahkan dirinya. Ironis.”
”Tapi Jon, kudengar iklan yang mengembel-embeli ‘bisa menikahi pemilik rumah’ itu bukan atas ide Wina loh. Kamu tak bisa begitu saja menyalahkan dirinya sebab gagasan itu dalam pengakuan Wina berasal dari orang yang membantunya menjualkan rumah itu. Lagi pula, sudah lumrah sekarang ini kita beli satu dapat dua atau lebih, kan?”
Selanjutnya Jon Lebay yang sedang sangat bersemangat mempelajari suatu ilmu, dia bicara panjang lebar soal feminisme, gerakan-gerakannya yang tidak mulus, dan sebagainya. Intinya, Jon tetap pada pendapatnya bahwa ada proses yang disebut eksploitasi keperempuanan dalam iklan penjualan rumah Wina Lia.
Ketika Jon berhenti memberi kuliah gratis seputar feminisme itu, saya rangkul pundaknya dan dengan berbisik, saya bilang, ”Jon, kira-kira pembelian rumah milik Wina itu bisa dicicil tidak, ya? Kalau bisa, saya juga….”
Pembaca, kalimat saya tak berkesempatan selesai sampai titik karena Jon yang lagi gandrung pada gagasan feminisme itu langsung bereaksi. Apa reaksinya? Terka sendiri, ya…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 15 Maret 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: