Home » Kolom SMILOKUI » APALAH-APALAH

APALAH-APALAH

BEGINI ya, hanya satu kata untuk penampilan kamu: sesuatu. Lebih-lebih saat kamu bikin gerakan maju mundur cantik, itu sesuatu banget. Dan tarikan vokal kamu kali pertama, wuih cetar membahana badai. Kamu pantas dapat woyo-woyo. Sukses ya, Say, pokoknya kamu itu apalah-apalah.”
Anda yang gemar menyaksikan tayangan hiburan di televisi tak akan bingung memahami kalimat-kalimat itu. Anda tahu itu pujian. Tapi tidak bagi Jon Lebay yang memang jarang berada di depan televisi. Dia bakal bingung tingkat dewa.
Kalau Anda ingin tahu ekspresi muka Jon yang bingung itu, ingatlah muka profesor yang mengusir Ranchoddas Shamaldas Chanchad atau Rancho dari ruang perkuliahan dalam film 3 Idiots (2009).
Sang profesor meminta definisi ”mesin”. Rancho mengatakan mesin adalah sesuatu yang digunakan untuk mengurangi peluang keteledoran manusia. Dia mencontohkan benda-benda yang disebut mesin dari kipas angin hingga risleting. Tapi sang profesor meminta definisi mesin seperti yang tertulis di dalam buku. Dan itulah saat Chatur Ramalinggam yang penghafal buku teks unjuk aksi. Sang profesor puas, tapi Rancho menyergah bahwa dirinya mengatakan hal yang sama, hanya saja dalam bahasa yang sederhana. Sergahan itulah yang membuatnya diusir dari ruangan. Dia keluar tapi beberapa saat kemudian dia kembali.
”Hei, kenapa kau kembali?” tanya sang profesor.
”Saya melupakan sesuatu, Pak.”
”Apa?”
Instrument and record, analyse, summarize, organize, debate and explained information that are elastative and non-elastative hard bound paper bag jacketed non-jacketed with forward introduction, table of cotents index that are intented for the enlightment understanding enhancement and education human brains of sense in root of vision sometimes touch!”
”Apa yang barusan kau katakan?” tanya profesor dengan muka bingung.
”Buku, Pak, buku! Saya lupa buku saya. Boleh saya ambil?”
”Tak bisakah kau sederhanakan penjelasanmu?”
”Saya sudah melakukannya, tapi Anda tidak suka bahasa yang sederhana.”

***

ISTILAH-ISTILAH ”sesuatu”, ”cetar membahana badai”, ”apalah-apalah”, atau ”woyo-woyo” bukanlah kata-kata sederhana. Itu bila kita tilik pengertiannya di dalam kamus, sungguh berbeda dari yang dimaksud si petutur. Bahkan tak ada kata ”woyo” atau ”woyo-woyo” di dalam kamus. Mungkin yang tahu hanya Soimah yang memopulerkan ungkapan itu.
Ucapan-ucapan Syahrini seperti ”sesuatu”, ”cetar membahana badai”, ”maju mundur cantik”, ”alhamdulillah ya”, masih bisa kita cari rujukannya di dalam kamus meskipun tetap tak bisa diartikan secara harafiah. Begitu pula, kita tahu arti kata ”apalah”. Meski begitu, kita tetap harus berselingkuh dari kamus untuk memaknai ucapan ”apalah-apalah” dari Iis Dahlia.
Intinya, sebuah kata yang tak bisa secara langsung dirujuk maknanya seperti termaktub dalam kamus bukanlah kata-kata sederhana. Kata-kata itu baru bertemu makna yang dikehendaki si petutur bila kita merujuk pada konteks atau situasi. Siapa pun yang mempelajari pragmatika bakal sepakat, kata yang baru bermakna setelah dilihat konteksnya bukanlah kata sederhana. Dan tak semua orang bisa memahami kata-kata yang tidak sederhana.
Tapi, sebagian besar dari kita mampu memahami ucapan di atas, bukan? Kalau ada juri dalam tayangan D’Academy 2 yang melemparkan kalimat-kalimat itu pada kontestan, sudah pasti si kontestan akan bersoja dengan muka berbinar-binar karena tahu dirinya sedang dipuji. Juga misalkan Soimah bilang, ”Penampilan kamu akan saya beri woyo-woyo,” penonton segera paham, si kontestan tak hanya tampil bagus, tapi juga istimewa. Tapi saya tak yakin, orang Nias sepakat dengan hal itu. Ungkapan ”woyo-woyo” bagi orang Nias diartikan sebagai ”mulut besar doang” atau ”basa-basi”.

***

SAYA meyakini istilah-istilah itu tak akan lama bertahan dalam komunikasi keseharian kita. Ini adalah ihwal lumrah. Dunia hiburan memang punya peran menjadi pencipta tren. Tapi kita sama-sama tahu, tren selalu berubah, suatu tren akan digusur oleh tren yang lebih baru. Bukti-bukti sudah banyak mengenai hal itu.
Beberapa waktu lalu, ada istilah ”tedjo” yang diambil dari nama seorang menteri yang menyebut pendukung KPK sewaktu ramai kasus KPK-Polri sebagai ”rakyat tak jelas”. ”Tedjo” lalu diartikan sebagai ”tidak jelas”. Sekarang penggunaan ”tedjo” untuk maksud seperti itu sudah tak lagi populer. Begitu pula ketika Cita Citata melantunkan ”Sakitnya Tuh di Sini”, ungkapan itu sering dipakai. Juga ungkapan ”kadang di situ saya merasa sedih”.
Jon Lebay bukan orang yang selalu mengikuti tren. Bahkan kadang dia merasa ”kurang eksklusif” bila ikut-ikutan tren. Dia juga merasa perubahan tren yang cepat itu hanya akan membuatnya bingung.
Tapi Pembaca, ini rahasia di antara kita, sebenarnya di luar gayanya yang sok pede, Jon Lebay sebenarnya orang yang hampir selalu bingung terhadap banyak hal. Mau tahu kebingungan terbarunya?
”Aku bingung, Yang Mulia Bapak Presiden Jokowi sudah meminta Polri untuk tidak menahan Novel Baswedan, lo kok para polisi itu tidak menggubris? Aku bingung, kalau ucapan presiden saja sudah tak diindahkan, lalu siapa lagi? Tolong, kebingunganku ini sudah cetar membahana badai. Teh Iis Dahlia, ini bisa menjadi apalah-apalah loh. Mbakyu Soimah, kalau begini, mana mau Mbakyu kasih aku woyo-woyo?”
Hmm, Jon belum tahu bahwa tak hanya dia seorang yang bingung. Saya juga, tapi jangan bilang-bilang ke dia, ya…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 3 Mei 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: