Home » Kolom SMILOKUI » TURINIH & GADIS PAYUNG

TURINIH & GADIS PAYUNG

BELAKANGAN ini singkong alias ubi kayu atau apa pun sebutan khas di daerah Anda tengah moncer (kembali). Bahwa jenis tanaman pangan satu itu sudah kita akrabi sejak zaman kuda gigit besi (saya tak pernah melihat kuda menggigit besi, tapi mari kita terima istilah ini sebagai kekayaan bahasa kita, ya), mana bisa kita membantahnya. Bahwa kita sudah akrab dengan pelbagai jenis kudapan olahan dari tanaman itu, kita tidak memungkirinya.
Bagaimana tidak kondang kembali ketika Pak Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi pun sampai perlu membuat maklumat: ”Sediakan singkong dan sejenisnya untuk rapat-rapat di lembaga pemerintah.” Maklumat yang lumayan bikin ramai, sampai-sampai ada yang perlu mengunggah berita lama bahwa sudah sejak 2012, kita adalah pengimpor singkong dari Thailand, Tiongkok, dan Vietnam.
”Tak usah ribut, kalau bisa impor kenapa harus ekspor? Kan sudah lama kita selalu suka barang luar negeri?” ujar Jon Lebay dengan nada seperti suara orang ingin menangis tapi gengsi.
”Maksudmu, kalau singkong itu penganan wajib rapat di kantor pemerintah, maka impor kita jadi tambah besar. Begitu, Jon?”
”Aku tak mau ngomongin itu lagi. Kalau soal singkong, mending bicara soal Teh Ninih.”
”Lo, ada apa lagi soal Aa Gym? Cerita kawin-cerai dan poligami lagi? Ndak ah, Jon, aku ndak ahli soal begituan. Atau Aa Gym bisnis singkong juga?”
Jon mengernyitkan kening sembari memelototkan matanya yang sering dia bangga-banggakan sebagai mata biji kenari yang memesona. Tapi pelototan itu sungguh jauh dari kesan memesona.
”Kamu itu pura-pura kuper atau benar-benar kamseupay? Wartawan apa kamu ini, berita kondang begitu tidak nyaho.”
Waduh, bila Jon sudah pakai bahasa gaul seperti kuper (kurang perhatian) dan kamseupay (kampungan sekali udik payah) ditambah kata nyaho pula, itu tanda saya harus segera melerai emosinya.
”Jon, yakinlah, watak pemberang itu bukan gharizah-mu, bukan nalurimu. Kau sebenarnya penyabar.”
Roman Jon terlihat berbinar. Hahaha, mabuk pujian juga dia. Tapi kurang afdal bila kesabarannya tidak diuji betul-betul.
”Jadi, ini tentang Teh Ninih yang suka makan singkong?”
Ketika riap di wajah Jon menunjukkan gelagat hendak berubah jadi berang lagi, maka saya buru-buru menepuk punggungnya. ”Duhai Jon yang penyabar, tentu saja aku tahu yang kaumaksudkan adalah Turinih si penjual gethuk di jembatan penyeberangan di Jakarta, kan?”
”Kau harus mengakui, selain Pak Menteri, dia juga ikut kembali memoncerkan singkong. Kita tahu, gethuk itu dari singkong, kan?”
”Jon, yang moncer bukan gethuk atau singkongnya melainkan penjualnya, loh. Bahkan dia kini laris dapat undangan jadi model foto dan acara di televisi.”
”Apa pun itu, gethuk yang mantan singkong itu tetap ikut moncer.”
”Iya sih…. Dan untuk terkenal ternyata gampang ya, Jon?”
”Siapa bilang?”
Hmm, benar-benar harus berpanjang usus berhadapan dengan tokoh kita ini. Moody alias mut-mutan. Sebentar senyum, sebentar melotot.
”Jon, innallah ma’a shabirin….”
”Kau memang tukang didih emosi. Siapa bilang terkenal itu gampang? Kau boleh bilang Turinih bermodal cantik doang. Kau pikir untuk jadi cantik itu mudah? Kau pikir cantik itu bukan kualitas yang harus diakui? Ini berkaitan dengan hak prerogatif Tuhan. Siapa-siapa yang akan diberi kecantikan itu sepenuhnya kuasa Gusti Allah.”
Saya tersenyum sebab saya lebih suka Jon berkhotbah ketimbang marah-marah. ”Iya, iya, Jon, tapi jangan lupakan soal tangan lain dan keberuntungan.”
”Maksudmu?”
”Mungkin kita bisa berdebat panjang soal kecantikan. Kita bisa berbalah kata mengenai Turinih itu cantik atau tidak. Tapi baiklah kita sepakati, seperti halnya banyak orang sudah bersepakat bahwa Turinih alias Teh Ninih si penjual gethuk itu gadis yang cantik. Tapi berapa orang cantik yang tidak memiliki keberuntungan seperti dirinya? Ya, dia yang kebetulan cantik itu beruntung dipotret seseorang, fotonya diunggah di jejaring sosial, lalu ditulis di dalam berita-berita. Ada tangan-tangan lain yang membuatnya terkenal.”
”Tapi keberuntungan tidak jatuh dari langit, Bro. Kalau Turinih tidak berjualan di jembatan penyeberangan yang memang jadi tempat lalu-lalang orang, mana ada yang mau memotret, selain mungkin dia ikut-ikutan gaya orang sekarang dengan bikin foto selfie?”
”Wah, bak filsuf kau rupanya, Kawan. Jadi, punya wajah cantik atau tampan itu karunia yang harus disyukuri dan diberdayakan?”
”Tul!”‘
”Tapi kenapa kau pernah marah-marah ketika kita membincangkan gadis payung alias umbrella girl? Dengan nyinyir kau bilang, ‘Kerja kok cuma memayungi orang. Kalau tidak buntung kedua tangannya, siapa pun bisa melakukan itu.’ Ingat?”
”Apa iya aku bilang begitu?”
”Asal kau tahu, Jon, modal para gadis payung itu tak semata cantik dan punya dua tangan. Dia harus punya kualitas sebagai model. Itu sebabnya orang Amrik menyebut mereka race queen. Ratu Balapan, loh. Tak semua orang bisa jadi ratu. Sebab, kalau semua ratu, lalu siapa biti-biti perwara alias dayang-dayang dan hamba sahaya? Bahkan, bila ada umbrella boy, aku juga mau ikut audisi, kok.”
Jon ngakak. ”Kawan, untuk jadi umbrella boy, kau tak perlu ikut audisi. Mumpung sudah musim hujan, cukup sekarang ambil payung, segera pergi ke kawasan perkantoran. Bila hujan deras, siap-siaplah menyambut siapa pun yang keluar dari ruang kantor. Lalu dengan ramah, bilanglah, ‘Ojek payung, Mas. Ojek payung, Mbak’. Kau bisa punya profesi keren tanpa modal wajah tampan. Hahaha….” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 14 Desember 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: