Home » Kolom SMILOKUI » SINGKONG BERKELAS MENTERI

SINGKONG BERKELAS MENTERI

DI tempat Jon Lebay bekerja, ada kolega yang sering membawa penganan ringan. Dia tentu saja sering ikut menikmatinya dengan hati riang. ”Kalau bisa gratis, kenapa repot-repot membayar?” candanya selalu.
Tapi ada jenis penganan yang hanya dia pandang dengan kening mengerut. Dirayu-rayu plus diberi argumentasi teoretis menyangkut kelezatan sang penganan pun, dia tetap mengerutkan kening sambil menggeleng-gelengkan kepala. Apa? Namanya gembus.
Perlu saya jelaskan dulu soal nomenklatur, eh maaf agar tidak dianggap sok akademis atau birokratis, sebut saja penamaan gembus yang berbeda, khususnya di Jateng. Di wilayah Banyumas, gembus adalah penganan berbahan singkong alias ubi kayu alias budin. Di wilayah Jateng lainnya, gembus adalah penganan yang terbuat dari ampas tahu yang diragikan. Yang membuat kening Jon Lebay berkerut adalah gembus yang disebut terakhir, yang di Jabar khususnya disebut oncom. Gembus yang itu diolah sebagai lauk atau hanya sebagai kudapan. Di Solo dan beberapa kota lain, olahannya ada yang disebut sate kere.
Bila gembus dengan segala olahannya selalu diogahi Jon, ada penganan lain yang bernasib hampir serupa. Namanya singkong. Tapi terhadap singkong, Jon tidak konsisten: menolak singkong rebus, tapi lahap mengudap segala jenis olahannya seperti ceriping, gethuk, dan lain-lain.
Tak ada persoalan sebenarnya. Jon atau siapa pun orangnya punya hak menolak atau malah rakus mengudap suatu penganan (yang halal tentu saja berdasarkan keyakinan agama, dan halal cara pemerolehannya). Yang agak menganggu, kenapa dia harus memainkan jurus kening berkerut? Kenapa setiap kali melihat para kolega dengan lahap melalap gembus atau singkong rebus, dia geleng-geleng kepala. Itu juga yang jadi pertanyaan para kolega yang masih belum kapok bilang, ”Wong lezat sekali loh….”
Jon membiarkan para kolega bertanya-tanya, tapi tidak pada saya. Dia bilang, ”Kedua penganan itu mengingatkanku pada kemiskinan.”
”Lo kok bisa? Kau bilang, kolega-kolegamu yang lahap menandaskan gembus itu termasuk kalangan sosialita. Mana ada sosialita yang miskin?”
”Kubilang, aku teringat kemiskinan. Kalau mereka, urusan merekalah.”
Ketimbang berdebat dengan Jon yang tampak mulai agak berang, lebih baik saya persilakan dirinya menceritakan hubungan antara gembus, juga singkong rebus, dengan kemiskinan. Oalah, jebul itu berasal dari masa lalunya. Ketika dia kanak-kanak, gembus adalah penganan orang-orang miskin, termasuk keluarganya. Dia bahkan sempat punya julukan ”keren” sebagai anak gembus, dan selalu marah ketika dirundung (di-bully) dengan sebutan ”keren”-nya itu. Singkong rebus juga begitu. Pernah beberapa kali perutnya hanya terisi singkong rebus lantaran orang tuanya sedang tidak punya beras untuk ditanak.

***

YA, sesuatu seperti penganan, ternyata tak berhenti sebagai sesuatu yang dikudap. Ia menyimpan tanda-tanda. Kenapa? Itu lantaran selalu ada proses penandaan. Penandaan inilah yang pada akhirnya memengaruhi orang untuk menerima atau ”terpaksa” menerima.
Singkong atau apa pun sebutan khasnya di daerah Anda adalah tanaman jenis umbi-umbian yang tumbuh di wilayah tropis. Kita di sini tentu akrab dengan penganan itu. Tapi entah sejak kapan, singkong ”diberi tanda” sebagai penganan yang kelasnya jauh di bawah roti, apalagi roti berkeju. Penyanyi Ari Wibowo pun sampai merepet-repet saat cintanya kandas lantaran dia hanya ”anak singkong” sementara sang gebetan berparfum dari Paris, bersepatu dari Italia, dan lebih suka makan keju.
Tapi penandaan itu juga dinamik, maksudnya gampang berubah, gampang dikemas. Menu singkong berkeju yang mungkin sudah dijumpai di hotel berbintang tentu saja tidak bisa disebut makanan kaum papa. Pelbagai jenis olahan dari singkong yang disajikan di berbagai tempat dan dikudap berbagai kalangan tak pelak lagi menjadikan kita lupa bahwa singkong pernah punya label rendahan.
Lantas muncullah surat edaran dari Pak Yuddy Chrisnandi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi bernomor 13 tahun 2014 tentang Gerakan Hidup Sederhana. Salah satu isinya adalah soal konsumsi rapat hanya berisi makanan tradisional seperti singkong rebus, jagung rebus, combro, lemet, singkong urap, ubi rebus, dan makanan tradisional lainnya yang sejenis.
Banyak yang menyambut bagus surat edaran itu lantaran ”hidup sederhana” yang disebut-sebut Pak Menteri, adalah konsep mulia. Ada pula yang berkomentar bahwa singkong rebus naik kelas. Ini bukti bahwa singkong pernah punya kelas yang tidak membuat pemakannya bermuka bangga. Kini, pemakan singkong tak lagi harus minder yang dengan lirih mendesah, ”Ah, aku hanya anak singkong.” Sebab, singkong sudah berkelas menteri.
Petani penanam singkong bolehlah berbangga bahwa tanamannya kini sudah berkelas menteri dan boleh membayangkan harga jual yang lebih bagus karena ada tambahan kelasnya. Tapi masih banyakkah petani yang menanam singkong? Bisakah hasil panen singkong petani kita mencukupi kebutuhan kudapan di kantor-kantor pemerintah?
”Kalau tidak cukup, ya impor dong. Kan kita sudah jadi bangsa yang pandai mengimpor barang yang pernah diproduksi berlebihan oleh diri sendiri?” ujar Jon, sinis.
”Wah, bila seperti itu, mahal juga ya untuk mengudap singkong berkelas menteri….” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 30 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: