Home » Kolom SMILOKUI » PERKAWINAN MANTAN PACAR

PERKAWINAN MANTAN PACAR

PERNAHKAH Anda mendatangi pesta pernikahan mantan pacar Anda? Jon Lebay pernah. Tentu saja dia tak seperti Risna, gadis yang aksinya pada pernikahan mantan pacarnya membuat terharu banyak pengguna jejaring sosial. Jon menyalami kedua mempelai dengan riang, makan hidangan dengan lahap, dan tertawa-tawa bersama teman-temannya yang sama-sama jadi hadirin resepsi pernikahan itu.
Jadi, kisah Jon tak menarik dituliskan atau disebarkan di media massa dan jejaring sosial bila pada saat itu dirinya tidak dibikin terlongong-longong oleh nasihat bijak seseorang. Lebih-lebih bila kita memercayai sangkalan Jon bahwa sang mempelai perempuan adalah mantan pacarnya.
Alkisah, seorang lelaki yang selanjutnya Jon ketahui sebagai sanak si mempelai perempuan, mendekatinya dan berkata lirih, ”Sabar ya Mas, jodoh itu di tangan Tuhan. Kalau memang bukan jodoh kita, ya mau diapain lagi? Mas pasti dapat pengganti yang memang diberikan Tuhan.”
Jon memandang orang itu. Andai ketika itu ada yang melihat muka Jon, kemungkinan orang itu akan menyitir peribahasa: ia bak kera terkena tulup. Bingung. Lantaran Jon tentu saja lebih tampan dari kera, kita sebut saja: ketika itu mukanya mirip orang yang dibangunkan secara mendadak dan ditodong senapan (Hahaha, saya yakin Jon lebih memilih dimiripkan dengan kera ketimbang nyawanya terancam).
Jon tidak merespons nasihat bijak yang dia anggap ”salah telinga” itu. Dia pulang dari resepsi dengan kepala penuh pertanyaan. Jawaban atas kebingungan Jon itu datang bersamaan kedatangan seorang temannya yang juga hadir pada perhelatan tersebut. Dialah informan yang memberitahu kepada lelaki itu mengenai kisah asmara Jon dan mempelai perempuan.
”Rupanya temanku itulah si biang kerok pembikin kebingunganku. Tapi kepadanya aku bisa membuktikan bahwa antara diriku dan si mempelai perempuan tak pernah ada kisah asrama, eh maksudku asmara,” ujar Jon saat bercerita kepada saya.
”Bila kalian benar-benar pernah berasmara, kau akan tetap datang ke pesta pernikahan itu?”
Jon tertawa, lalu saya dengar dia menembang, ”Tak sengaja lewat depan rumahmu/Ku melihat ada tenda biru/Dihiasi indahnya janur kuning/Hati bertanya pernikahan siapa//Tak percaya tapi ini terjadi/Kau bersanding duduk di pelaminan/Air mata jatuh tak tertahankan/Kau khianati cinta suci ini….
”Jon, cukup. Aku tahu suaramu lebih elok ketimbang Desy Ratnasari ketika menyanyikan itu. Jawab saja pertanyaanku: akan tetap datangkah bila kalian pernah berpacaran?”
Jon tidak menjawab dan kembali mengandalkan jurus mautnya: dalih atau pengalihan topik pembicaraan. ”Dari lagu itu kita tahu Desy telah meramalkan dirinya bakal memasuki tenda biru.”
”Maksudmu?” Oh, pintar pula rupanya Jon mengalihkan pembicaraan….
”Kalau saat itu yang dia lihat tenda merah, pasti sekarang dia tidak menjadi anggota DPR melalui Partai Amanat Nasional (PAN).”
Pembaca, bila Anda memercayai analisis Jon soal Desy Ratnasari, Anda termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mudah disesatkan, hahaha….
Karena itu, saya tetap menanyakan hal yang belum dijawab Jon dengan menyinggung kisah Risna-Rais. Akhirnya, dia menjawab, ”Tentu saja tak semua orang bisa merasa nyaman mendatangi pesta pernikahan mantan pacar. Itu sebabnya aku bersimpati pada Risna yang terguguk memeluk mantan pacarnya di mahligai pelaminan. Kita semua akan bersimpati pada orang seperti dia, dan bila berkesempatan kita akan melipurnya. Lelaki yang mendatangiku dan memberi nasihat itu buktinya, tanpa harus diperdebatkan benar-tidak si mempelai perempuan pernah jadi pacarku lo, ya. Puas atas jawabanku?”
Saya mengangguk.
”Insyaallah saya adalah tipe orang yang bisa menerima ‘yang lalu biarlah berlalu’. Jadi kalau saya diundang ke Bali dan punya waktu untuk datang, saya akan ringan kaki ke sana. Sayang sekali….”
”Maksudmu?”
”Ke pesta privat perkawinan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, dong.”
”Maksudmu kau mantan pacar Nagita atau jangan-jangan kau mantan si Raffi,” ujar saya untuk membanyolinya.
”Tulis saja semaumu soal hubunganku dengan mereka, maka kau hanyalah tukang gosip berbaju domba, eh maksudku berbusana wartawan,” ujarnya sambil ngakak. ”Cukup! Aku tak mau jatuh ke dalam pergunjingan karena sekarang aku sedang menunggu sesuatu. Jangan telepon dan jangan ganggu aku dulu. Oke?” katanya sembari memasang pelantang telinga pada pemutar musik portabel miliknya.
”Menunggu sesuatu?”
”Orang boleh bergunjing dan berspekulasi soal calon-calon menteri. Tapi sebelum janur kuning melengkung, eh maaf, sebelum Pak Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama, pintu masih belum tertutup, kan? Telepon masih bisa setiap kali berdering, kan?”
Dia lalu asyik mendengarkan lagu. Lantaran saya membenci aksi kekerasan, telepon seluler saya urung ”mampir” ke muka Jon. Memang menteri apa yang pas buatnya?
Saya gemas dia buat, lantas saya cabut pelantang suara dari telinganya dan menyimak dengar: ”Kalau saja aku tahu/Salamah itu namamu/Tak mungkin aku hadiri/pesta perkawinan ini….
Oalah! Melihat keasyikan Jon menyimak lagu ”Undangan Palsu” yang didendangkan Caca Handika itu, rasanya ingin membanting alat pemutar lagu itu. Tapi sekali lagi, saya benci aksi kekerasan. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 26 Oktober 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: