Home » Kolom SMILOKUI » PERI BUKAN KATY PERRY

PERI BUKAN KATY PERRY

ARKIAN, Jaka Tarub mencuri selendang salah seorang bidadari yang tengah mandi di telaga dan menikahinya. Sebelum melanjutkan cerita yang sudah kita hapal, sudah benarkah penggunaan kata ”seorang” untuk menyebut bidadari? Bukankah bidadari itu bukan orang, bukan manusia seperti kita? Bagaimana bila kita menyebut bidadari sebagai makhluk saja?
Jadi, bisa kita ulangi ceritanya: Arkian, Jaka Tarub mencuri selendang salah ”semakhluk” bidadari yang tengah mandi di telaga dan menikahinya. Dari perkawinannya dengan bidadari bernama Nawangwulang itu lahirlah seorang bayi perempuan bernama Nawangsih.
Di Parahyangan, tersebutlah seorang gadis bernama Dayang Sumbi yang tengah menenun di sebuah rumah panggung. Benang tenunan jatuh. Lantaran tak mau turun untuk mengambilnya, si gadis mengucap kaul, siapa pun yang mengantarkan benang itu akan dia jadikan suami. Si Tumang yang seekor anjing itulah pengantar benang yang jatuh. Menikahlah mereka dan seorang bayi lelaki yang lahir dari pernikahan itu diberi nama Jaka Sona (Jaka artinya anak lelaki, dan Sona artinya anjing). Si anak itu lalu lebih terkenal dengan nama Sangkuriang yang kelak membunuh Tumang yang tak lain adalah ayahnya sendiri dan bermaksud mengawini ibunya sendiri.
Banyak kisah serupa telah masuk ke kepala kita. Terhadap kisah Sangkuriang versus Dayang Sumbi, kita bisa dengan enteng bilang, ”Itu kan cuma legenda, folklor, kisah fiktif, Bro. Kebenarannya hanya ada dalam kepala kita, bukan dalam kenyataan.”
Lain soalnya terhadap kisah Jaka Tarub. Sebagian dari kita yakin kisah itu sama persis nasibnya dengan Sangkuriang: hanya kisah fiktif. Tapi sebagian yang lain percaya kisah itu tak semata fiktif, tapi historis. Lelaki yang kelak dikenal sebagai Ki Ageng Tarub dianggap sebagai leluhur pendiri Dinasti Mataram Islam. Babad Tanah Jawa mengisahkan keleluhurannya lewat jalur si anak perempuan, Nawangsih, yang dinikahi Bondan Kejawan alias Lembu Peteng, salah seorang putra Raja Brawijaya dari Majapahit. Dari perkawinan itu lahirlah Ki Ageng Getas Pandawa yang menurunkan Ki Ageng Sela, lalu Ki Ageng Ngenis, lalu Ki Ageng Pemanahan, lalu Panembahan Senapati sang pendiri Mataram. Jadi, Jaka Tarub adalah leluhur keenam dari sang pendiri dinasti.

***

ORANG Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Ngawi, Jatim memercayai sebuah makam yang disebut sebagai makam Ki Ageng Tarub. Saya tak ingin berdebat soal nyata atau tidaknya sosok lelaki yang konon jadi penurun Dinasti Mataram Islam itu. Saya tak ingin menyangkal keyakinan masyarakat desa tersebut. Tapi bila Nawangsih lahir dari perkawinan Jaka Tarub dan bidadari bernama Nawangwulan, saya tidak percaya. Saya hanya percaya seorang anak manusia lahir dari orang tua yang juga manusia.
Di Kota Madurai, Distrik Sivaganga, India, Selvakumar menikahi anjing betina. George Willard dari Amrik menikahi kuda poninya. Emily Mabou dari Togo menikahi anjing kesayangannya. Uwe Mitzscherlich dari Jerman menikahi Cecilia yang tak lain adalah kucing piaraannya. Ah, sila Anda cek sendiri cerita mengenai perkawinan-perkawinan aneh serupa itu. Apakah dari semua perkawinan itu lahir anak-anak? Bagaimana wujud anak mereka? Kalau berupa binatang, saya yakin itu bukan berasal dari benih manusia yang mengawininya. Bila berbentuk manusia, misalkan saja Emily Mabou melahirkan bayi, saya yakin itu bukan berasal dari suami anjingnya.
Konon, Durna mengawini seekor kuda betina dan mereka punya anak bernama Aswatama; atau Arjuna mengawini bidadari Dersanala dan mereka punya anak bernama Wisanggeni; atau Bima menikahi bidadari berujud naga (Nagagini) dan berputra Antareja, dan dari perkawinannya dengan bidadari berujud udang (Urangayu), lahirlah Antasena. Tapi sekali lagi, itu hanya cerita fiktif, kan?
Lalu bagaimana bila manusia kawin dengan peri? Peri dalam KBBI adalah roh (jin) perempuan yang elok rupanya. Dengan begitu jelas, ia bukan bangsa manusia. Tapi kita baca pernikahan serupa itu ketika Bagus Kodok Ibnu Sukodok menikahi ”semakhluk” peri bernama Roro Setyowati di Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi.
Dalam berita itu diceritakan bagaimana prosesi perkawinan yang mengambil cara sesuai adat Jawa berlangsung khidmat dan mistis. Tetamu yang hadir berjumlah ratusan, tapi tak seorang pun melihat mempelai perempuan yang bersanding dengan Bagus Kodok. Sebab, tak setiap orang mampu melihat jin, bukan? Percayakah mereka bahwa di sisi Bagus Kodok, duduk dengan anggun Roro Setyawati yang tak terlihat? Percayakah Anda?
”Halah, pertanyaanmu itu retoris. Kau pura-pura bertanya pada pembaca, tapi sebenarnya kau mengajak pembaca untuk tak memercayai itu,” komentar Jon Lebay, seperti biasa dengan nada sinis.
”Kau sendiri percaya, Jon?”
Jon terlihat kelimpungan, lalu menjawab, ”Di rumah sakit jiwa, aku melihat beberapa orang di sana terlihat berbicara atau tertawa tanpa orang lain di sampingnya. Haruskah aku tak percaya bahwa ia tengah bercakap-cakap dengan orang lain yang mungkin tak mampu kulihat?”
”Jadi kau anggap Bagus Kodok….?”
”Tak perlu kau lanjutkan, Coy. Setiap orang berhak bikin klaim telah kawin dengan peri atau jin atau bidadari. Tapi orang lain juga boleh memercayai atau sebaliknya, bukan? Kalau aku mengklaim menikah bukan dengan peri melainkan dengan Katy Perry, kau ‘sungguh terlalu’ bila tidak percaya. Hahaha….” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 12 Oktober 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: