Home » Kolom SMILOKUI » MAHAMURID

MAHAMURID

JON LEBAY menggerundel tentang seorang kawannya di Facebook yang mengunggah foto dua mahasiswi yang terlambat mengumpulkan tugas kuliah. Sang teman itu seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang.
”Kalau dia terlambat atau mangkir mengajar harusnya dia disetrap juga, dong. Dipotret ketika datang lalu diunggah di Facebook dan diberi keterangan tentang keterlambatannya. Itu baru adil. Mentang-mentang…,” gerutu Jon.
”Mana berani mahasiswa-mahasiswi itu pada dosen?”
”Apa ada aturannya bahwa dosen boleh menyetrap mahasiswa dan tidak berlaku untuk kebalikannya?”
Saya hanya mengerutkan kening, lalu bilang, ”Mungkin bila kita mengganti istilah mahasiswa atau mahasiswi menjadi mahamurid.”
”Jangan aneh-aneh kau! Nanti semua nomenklatur yang berkaitan dengan dunia perguruan tinggi bisa karut-marut. Kau tahu sendiri penggantian nama kementerian sekarang ini sudah cukup bikin rempong. Sementara banyak yang rempong, yang tersenyum orang percetakan dan pembuat stempel dan papan nama. Mahamurid?”
”Jon, jangan keluar rel pembicaraan sampai ke kementerian segala. Aku ndak gitu dong soal itu. Mari saya jelaskan soal mahamurid itu,” kata saya dengan lagak seorang munsyi (Pembaca budiman, don’t judge a book by its cover. Tolong tidak melihat lagak seseorang karena lagak bisa dibikin, hehehe….)
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), siswa adalah murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah). Adapun murid adalah orang (anak) yang sedang berguru (belajar, bersekolah). Bahkan bila mengacu makna kata ”siswa” dalam kamus, maka istilah ”mahasiswa” yang diartikan ”orang yang belajar di perguruan tinggi” agak kurang tepat. ”Maha” sebagai bentuk terikat yang artinya ”sangat besar” atau ”menyangatkan” bergabung dengan kata ”siswa” bisa diartikan ”murid sekolah dasar dan menengah yang sangat besar”. Hanya saja, besar dalam artian apa? Badan atau usia? Hmm, bingung, ya? Saya juga.
Karena itu, mari kita lari ke asal-usul kata saja, terutama untuk melihat perbedaan kata ”siswa” dan ”murid”. Sayang sekali, saya belum menjumpai asal kata ”siswa”. Konon kata itu dari bahasa Sanskerta ke bahasa Kawi dan dijadikan bahasa Jawa. Siswa diartikan sebagai subjek yang menerima pengajaran. Dia hanya menerima sehingga posisinya bukan lagi subjek melainkan objek dalam proses belajar-mengajar. Apakah lantaran itu jarang kita baca cerita seorang cantrik yang berguru pada seorang wasi atau resi melakukan perbalahan dengan sang guru? Entahlah. Dan saya akan berterima kasih bila ada pembaca yang bisa memberi tahu saya mengenai etimologi kata ”siswa” (bisa lewat akun Twitter saya di @PengendaraAngin).
Dengan makna siswa seperti itu, bagaimana mungkin seorang mahasiswa berbalah dengan dosen? Lain soalnya dengan kata ”murid” yang berasal dari kata bahasa Arab dan berfungsi sebagai mufrad (pelaku/subjek suatu tindakan) dari kata kerja dasar ”araada” (memiliki keinginan, berkehendak dan mempunyai minat) yang menjadi ”muriidan”. Murid dengan demikian adalah subjek yang berkeinginan, berkehendak, dan berminat terhadap sesuatu. Bayangkan bila peserta didik dari TK hingga perguruan tinggi adalah subjek-subjek seperti itu. Murid saja sudah dahsyat, apalagi murid yang ”maha”, kan?
”Halah, nggaya! Aku kan hanya tengah menggerundelkan cara si dosen yang mengunggah foto dua mahasiswi atau mahamurid seperti impianmu itulah. Kenapa harus mengunggah segala? Memang nama keduanya tidak disebutkan, juga wajah mereka tidak diperlihatkan. Tapi itu kebangeten. Seolah-olah hanya unjuk kuasa. Baru dosen saja….”
”Kalau menggerundel, kenapa tidak kasih komentar di bawah foto yang diunggah. Kalau begitu sih namanya kau memanah angin sambil mengumpat-umpat, Jon.”
Jon tidak menjawab. Saya tepuk bahu Jon dengan lembut dan membisikkan kalimat, ”Soal unjuk kuasa itulah yang sebenarnya ingin aku katakan kepadamu kenapa aku menyinggung istilah mahamurid. Tak akan ada dosen, guru, mahaguru, atau apa pun sebutannya yang memperlakukan orang yang bersamanya dalam proses belajar-mengajar sebagai semata objek. Kita pernah punya istilah ‘peserta didik’ atau ‘subjek belajar’ dan istilah-istilah itu sebenarnya bagus bila pendidikan kita kita belum sanggup menciptakan ‘murid’ dari asal kata Arabnya.”
Saya juga bercerita pada Jon tentang seorang dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Semarang yang menghukum semua peserta kuliah dalam satu rombongan belajar bila ada salah seorang di antara mereka yang terlambat mengumpulkan tugas kuliah. ”Dosen yang kaugerundelkan itu belum apa-apa dibandingkan dosen yang ini. Yang terlambat satu orang kok satu kelas kena hukuman. Dahsyatnya, belum ada seorang pun dari mereka yang melakukan protes secara resmi selain menggerundel seperti dirimu, wahai Jon Lebay. Bagaimana bila banyak guru atau dosen atau mahaguru yang seperti itu?”
”Ya kita berharap pada menteri yang baru ini. Mumpung ada dua menteri: Pak Anies Baswedan dan Pak M Nasir. Kedua beliau itu sudah makan asam-garam dunia pendidikan. Semoga….”
Saya menangkap nada yang kurang yakin saat Jon mengatakan itu. Tapi, semoga di bawah departemen keduanya, pendidikan akan menciptakan murid-murid yang ”maha”…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 2 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: