Home » Kolom SMILOKUI » LAMBORGHINI

LAMBORGHINI

DEWI Perssik (Depe) keluar dari Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur, 14 Mei lalu. Dari tayangan infotainment, saya melihat sosok berbeda dari yang selama ini saya kenal. Wajahnya penuh kegembiraan yang natural, tidak dibuat-buat atau akting. Tidak tampak pula kesan genit yang selama ini lebih banyak dia munculkan banyak tayangan. Lebih-lebih saat itu dia memakai busana serbahitam, juga berkerudung hitam, busana yang sering dipakai orang ketika berbelasungkawa.
Ketika itu saya membayangkan Depe akan kembali ke dunia hiburan dengan ”wajah lain”. Tiga bulan di hotel prodeo adalah saat buat dirinya merancang transformasi. Dia akan kembali bernyanyi dan bermain film. Mungkin saat bernyanyi, dia tetap mengeksplorasi Goyang Gergaji-nya yang memang ciri khasnya. Dia juga mungkin bermain untuk genre film sebelum di penjara (itu bila film jenis horor-hororan lucu berbumbu erotika murahan masih dianggap laku oleh produser film). Dia mungkin tetap menunjukkan kegenitan dan mengeksploitasi sensualitas di dalam film-film itu.
Ya, dia mungkin akan tetap menjadi orang yang sama dalam aksi panggung dan akting film. Sebab itu memang mereknya. Lantas apa tranformasinya? Dalam keseharian, dia bukan lagi perempuan pemberang yang mengajak berseteru dengan orang lain. Dia bukan lagi artis yang gemar menciptakan sensasi hanya untuk menjaga popularitas. Dia bertransformasi menjadi artis yang mendongkrak kembali popularitasnya yang sempat pudar dengan peningkatan kualitas panggung dan akting tanpa jalan sensasi.
Sekitar empat bulan sekeluar dia dari mondok di Pondok Bambu, kita belum melihat itu semua. Yang muncul ke kita malah: beberapa hari lalu dia dilaporkan ke polisi oleh CEO Lamborghini Indonesia, Johnson Yaptonaga, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Bila tuduhan itu terbukti, pemilik nama Dewi Murya Agung bisa jadi kembali ”mondok”.
”Aku tak tertarik pada berita seperti itu. Sudah over!” sergah Jon Lebay.
”Maksudmu?”
”Sudah sering dan ya hanya seperti itu saja. Ada sensasi artis, ramai, lalu puf… lenyap dan diganti sensasi artis lain. Kau sendiri berapa kali sudah menulis tentang dia yang namanya minta ditulis pakai dobel ‘s’ agar beda dengan buah persik?”
”Ya ini kan namanya usaha, siapa tahu pembaca suka bila aku menulis tentang gosip artis. Terbukti, banyak yang suka tayangan infotainment, kan? Aku kan perlu juga mendongkrak citra diri sebagai penulis yang bersahabat dengan selera pembaca. Aku kan juga perlu….”
”Setop,  Bro! Kau kok malah curcol?”
”Lo?”
”La iya kok kamu malah curhat colongan (curcol) alias mendadak mencurahkan hati untuk membicarakan dirimu? Jangan kauhabiskan halaman kolom ini untuk mengeluhkan dirimu. Kalau kau melakukannya, itu sama saja kau penulis kolom yang njelehi. Membosankan!”
”Kalau begitu, wahai Jon Lebay yang kali ini mirip seorang mahaguru yang bijak, engkau menyarankan aku menulis apa?”
”Lamborghini.”
”Wuih, Jon. Melihatnya saja belum pernah, bagaimana bisa aku menuliskannya?”
”Itulah bukti bahwa kau penulis yang tak hanya njelehi, tapi juga tak berkualitas sama sekali,” ujar Jon sembari ngacir

***

LAMBORGHINI. Ya, nama itu mungkin bukan lagi kata asing di telinga kita. Sama seperti spaghetti, pizza, pasta, fetuccini, lasagna, tiramisu, cappuccino, espresso, caffe latte, dan lain-lain. Kita mungkin sudah akrab dengan nama-nama yang disebut belakangan. Tak hanya akrab, kita mungkin sering menikmatinya. Cukup pergi ke kafe atau restoran bermenu Italia atau Eropa, kita bisa pesan, menyantap atau menyeruputnya sambil berteriak ala Balotelli, ”O mama mia!”
Tapi Lamborghini? Saya yakin punya banyak teman yang belum sekalipun melihatnya kecuali gambarnya di internet. Harga satu unit mobil itu konon mencapai belasan hingga puluhan miliar rupiah. Mahal? Tidak bagi sebagian orang di Indonesia, khususnya di Jakarta. Cerita di balik kisah pelaporan terhadap Depe oleh seorang CEO Lamborghini Indonesia menunjukkan banyak orang di negeri ini yang mampu membeli mobil itu. Kalau mobil supermewah yang pusat produksinya di Italia itu punya ”cabang” di Indonesia, itu jelas ada pembeli yang potensial, bukan?
Itu baru satu nama merek. Konon masih begitu banyak jenis mobil mewah dan supermahal yang berseliweran di jalanan kita. Orang seperti Haji Lulung yang naik Lamborghini ke gedung DPRD DKI Jakarta itu hanyalah salah satu pembuktian.
Pada kenyataannya, masih banyak kota yang pusing memikirkan modus transportasi massal. Jadi sementara banyak angkutan massal yang karatan merangkak pelan di jalanan suatu kota, ada banyak mobil mewah berseliweran.
”Karena itu, berdoalah bahwa pada suatu hari yang punya Lamborghini dan sejenisnya lebih banyak dari yang kagak gableg. Ia pasti bukan lagi mobil eksklusif melainkan mobil massal. Yakinlah, pada saat itu yang eksklusif adalah mobil karatan,” ujar Jon Lebay.
Tapi, seeksklusif apa pun saya tak ingin naik mobil karatan sebab saya takut terkena tetanus. Kalau bukan Lamborghini, maka Ferrari atau Cadillac atau Rolls Royce pun bolehlah…..
”Mimpi!”
”Oh Jon, banyak mimpi yang jadi kenyataan….” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 21 september 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: