Home » Kolom SMILOKUI » KURIKULUM COBA-COBA

KURIKULUM COBA-COBA

JON LEBAY pernah beberapa kali meriung di antara orang-orang yang membahas Kurikulum 2013. Sebagian besar dari mereka adalah guru yang galau menceritakan kerumitan penerapan kurikulum tersebut dalam proses belajar-mengajar. Jon menyimak dan menganggut-anggutkan kepala. Tak perlu tertipu oleh gesturnya sebab sebenarnya dia tidak banyak memahami perihal Kurikulum 2013.
”Mereka yang guru saja bingung, apalagi diri hamba yang bukan guru,” ujarnya, seperti biasa sebagai raja dalih.
Sebenarnya, untuk ihwal Kurikulum 2013 ini, Jon tak sendirian. Bahkan mungkin, sebagian besar orang di Indonesia tidak memahaminya. Sudah sering dibicarakan secara terbuka, di media massa dan jejaring sosial, tentang keluhan guru-guru. Ada yang paham, tapi bingung menerapkannya. Ada yang paham dan yakin mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran, tapi dukungan perangkat (sarana dan prasarananya) tidak memadai. Intinya, penerapan kurikulum itu pada awal tahun pelajaran 2014/2015, pinjam ungkapan Jon Lebay bagaikan ”bersampan dengan dayung patah dan si tukang sampan mendadak tidak tahu mana hulu mana hilir”.
Ketika si tukang sampan belum siap, bagaimana mungkin kita, orang yang mau naik, atau memercayakan anak kita naik sampan itu, tidak cemas? Itulah yang dirasakan sebagian besar wali murid seperti saya, setidak-tidaknya selama satu semester ini, sejak ”sampan berdayung patah” itu mulai bergerak.

***

JUJUR saja, tidak banyak yang saya pahami mengenai Kurikulum 2013. Saya hanya tahu bahwa kurikulum itu bagus untuk menyiapkan subjek belajar menghadapi tantangan zaman; bahwa kurikulum itu mengharuskan pola pembelajaran yang kreatif sehingga subjek belajar bersifat aktif; bahwa untuk semua mata pelajaran, dikembangkan metode yang memungkinkan subjek belajar berpikir secara ilmiah karena kurikulum itu menerapkan pendekatan ilmiah (scientific approach).
Secara sederhana, sebagai ayah dua anak yang pada awal tahun pelajaran 2014/2015 memasuki sekolah baru yang menerapkan Kurikulum 2013, saya layak berharap banyak. Pasti menyenangkan bila anak-anak kita mengembangkan cara berpikir ilmiah sejak usia mereka masih muda. Saya tak perlu galau untuk hal-hal sederhana. Misalnya mereka suntuk menghafal jenis-jenis awan dan mulut mereka mengucapkan berulang-ulang kata ”sirrus, sirostratus, sirokumulus, altokumulus, kumulus”, tapi ketika berada di luar rumah dan memandang ke langit dan ditanya awan jenis apakah yang sedang bertakhta, mereka mengernyitkan kening dan tersipu-sipu.
Ya, selama hampir satu semester ini, tanda-tanda ”penyiapan” cara berpikir ilmiah itu sudah tampak. Beberapa kali, kedua anak saya (SMP dan SMA), baik perseorangan maupun berkelompok, melakukan penelitian kecil-kecilan untuk tugas sekolah. Tentu saja, harus ada ongkos tambahan yang dikeluarkan untuk keperluan itu. Tapi bukankah untuk pintar perlu modal, bukan? Hehehe….
Jadi, saya berpikir positif bahwa guru-guru di sekolah kedua anak saya itu bukanlah para tukang sampan yang masih bingung memilih ke hulu atau ke hilir. Dayungnya juga bagus, tidak patah atau lapuk, dan dari kayu berkualitas. Saya tidak perlu mencemaskan kenyamanan kedua anak saya di atas sampan seperti itu.
Satu hal yang membuat saya dan istri saya cemas hanyalah kelelahan mereka secara mental dan fisik. Dalam Kurikulum 2013, ada mata pelajaran yang dibuang dan ada yang ditambah materinya. Dengan pendekatan subjek belajar aktif, waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari materi pelajaran juga bertambah banyak. Memang ideal bila subjek belajar tak hanya belajar di sekolah, tapi juga di rumah dan di mana pun. Tapi mereka juga butuh istirahat dan bersantai juga, bukan?
Beberapa kali ketika menjemput seorang anak saya pada pukul 15.00 (pernah juga pukul 17.00), saya bertanya padanya, ”Capai?” Pertanyaan retoris memang, dan hampir selalu dijawab dengan sambil lalu, ”Ya begitulah.” Jawaban yang berkesan biasa-biasa saja. Jawaban yang boleh saya anggap bahwa kedua anak saya sudah ”nyaman” bersekolah yang ber-Kurikulum 2013.
Lalu, Jumat (5/12) lalu, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengatakan, ”Saya memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menetapkan satu semester yaitu sejak tahun pelajaran 2014/2015.”
Legakah guru-guru? Legakah saya? Legakah semua orang yang satu semester ini termehek-mehek oleh kegalauan memikirkan ”nasib” anak-anak mereka di sekolah?
Maaf, saya belum bisa menjawab. Saya masih harus memikirkan kalimat apa yang tepat untuk diucapkan kepada kedua anak saya yang tampaknya sudah nyaman di atas sampan baru tapi harus putar dayung dan naik ke sampan lain, sampan yang lama (Kurikulum 2006).
”Jangan lupa, siap-siap juga keluar ongkos kalau-kalau nanti buku-bukunya juga harus ganti,” celetuk Jon Lebay.
Saya tak menanggapi celetukan Jon. Saya sedang merenung: sampai kapan anak-anak saya, anak-anak kita, menjadi bagian yang terpaksa dilibatkan dalam proses coba-coba dan ganti-ganti seperti kurikulum di dalam dunia pendidikan Indonesia? Kata iklan, pakai minyak telon saja tidak boleh coba-coba, bukan? (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 7 Desember 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: