Home » Kolom SMILOKUI » JANGAN-JANGAN…

JANGAN-JANGAN…

JON Lebay hanya mengedikkan bahu saat ditanya dia lebih suka pilkada langsung atau melalui DPRD. Dia justru menyebut nama salah seorang teman perempuannya.
”Dia jadi anggota DPR yang kemarin ikut sidang paripurna RUU Pilkada toh?”
Jon menggelengkan kepala dan berkata, ”Belasan tahun lalu ketika kami sama-sama masih bujangan, zaman Sitti Nurbaya telah berlalu dan berganti dengan zaman Siti Nurhaliza.”
Saya belum ngeh terhadap ucapan tokoh kita itu. Setahu saya, Jon memang gandrung kapirangu pada Siti Nurhaliza sampai-sampai saat penyanyi Malaysia itu dinikahi Datuk K, dia termehek-mehek. Lagu yang saat itu selalu dia dendangkan adalah ”Patah Hati” milik Rachmat Kartolo.
Melihat saya bingung, Jon berkata lagi, ”Ketika sebagian besar orang menolak dijodohkan ala Sitti Nurbaya, temanku itu malah ingin dicarikan suami lewat perjodohan yang dilakukan orang tuanya.”
”Oya? Terlaksana?”
Jon menggeleng-gelengkan kepala. ”Aku tak tahu karena sudah sejak lama kami putus kongsi. Tapi aku ingat betapa terkejutnya diriku saat itu. Menurutku itu gagasan yang aneh.”
”Apa lantaran dia tidak laku-laku, selalu gagal dapat pacar yang selanjutnya bisa diajak nikah?”
”Orangnya cantik, cerdas, dan pembawaannya menarik. Dia juga luwes dalam pergaulan. Tapi entah kenapa, dia tak pernah memiliki pacar. Hingga tiba saat dia merasa galau menjadi perawan tua.”
”Dia galau lalu frustrasi dan ingin dijodohkan saja oleh orang tuanya. Begitu?”
”Mungkin.”
”Tapi Jon, apakah salah bila kita menikah lewat perjodohan yang dilakukan orang tua dari dua pihak?”
”Ini bukan soal salah dan benar, Coy,” sergah Jon, ”Dia berhak minta dijodohkan, kok. Aku hanya merasa gagasan itu aneh saja.”
”Lantas apa kaitannya dengan pertanyaanku tentang pilkada langsung atau lewat DPRD?”
Jon Lebay tersenyum. Senyum itu membuat saya bisa menyimpulkan bahwa dirinya lebih memilih pilkada langsung. Baginya, pilkada lewat DPRD mirip perjodohan ala Sitti Nurbaya. Sudah ketinggalan zaman.

***

SALAHKAH pada hari gini perjodohan ala Sitti Nurbaya?
Begini saja, sebagai ilustrasi mari kita lihat situasi ini. Seorang gadis hendak dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal sama sekali. Sebagai gadis modern yang menolak perjodohan lewat orang tua, tentu saja dia menolak. Dia menganggap gagasan itu sudah ketinggalan zaman. Apalagi dia tengah menjalin asmara dengan seseorang. Dalam jalinan itu, ada janji-janji dan komitmen. Dan si gadis membayangkan bila menikah dengan lelaki pilihan, dia akan memasuki sebuah kehidupan surgawi dalam bahtera rumah tangga.
Beberapa tahun setelah si gadis menikah dengan lelaki pilihan, dia menjumpai kehidupan surgawi itu semata impian. Janji-janji si lelaki ternyata hanya manis di bibir saja. Intinya, si gadis yang sudah berstatus istri itu menderita. Dia merasa telah salah pilih dan ingin bercerai saja darinya. Orang tuanya yang tahu penderitaan itu malah membuatnya semakin menderita dengan komentarnya, ”Salah sendiri. Dulu dijodohkan tidak mau. Kalau dulu mau, kehidupanmu tak akan semenderita sekarang.”
Tapi benarkah? Benarkah bila si gadis dulu menerima perjodohan yang digagas orang tuanya, dia tidak akan menderita? Belum tentu juga. Sebab, dalam perjalanan bahtera rumah tangga, banyak hal bisa terjadi.
Di luar itu, ada pernikahan atas pilihan sendiri dan lewat perjodohan yang berlangsung baik-baik saja hingga kaken-ninen. Intinya, bagaimana seseorang yang telah dipilih itu menjaga komitmen dan memenuhi janji-janjinya.
Kontroversi yang berkembang pada saat dan setelah RUU Pilkada disahkan DPR berpusat pada soal pemimpin yang dipertanyakan komitmennya. Kita ingin memilih pemimpin suatu daerah secara langsung, tapi kita cemas dia akan keluar dari komitmen yang membuatnya dipilih. Kita cemas dia akan melakukan korupsi seperti yang sudah ditunjukkan banyak orang sepertinya. Kita ingin mewakilkan pemilihan pemimpin itu lewat DPRD, tapi kita cemas pemilihan itu permainan semata. Kita cemas pemimpin yang dipilih DPRD hanya boneka atau bahkan sapi perahan anggota dewan sehingga untuk memenuhi daulat orang-orang yang telah memilihnya, si pemimpin itu harus juga keluar dari komitmennya terhadap rakyat.
Berkenaan dengan seorang pemimpin pada hari gini, kita dipenuhi kecemasan-kecemasan seperti itu. Kita dipenuhi oleh ungkapan ”jangan-jangan”.
”Ketimbang selalu cemas, bagaimana bila seorang pemimpin harus bersumpah mubahalah ketika dilantik? Mau pilkada langsung atau lewat DPRD terserahlah, tapi dengan mubahalah, dia akan tahu rasa bila menyimpang,” usul Jon sambil terkikik.
”Sumpah kutukan?”
”Ya.”
Wah, Jon pasti hanya sedang bergurau menyindir Anas Urbaningrum yang mereaksi vonis hakim dengan mengusulkan mubahalah. Dan kali ini, sayalah yang jadi cemas. Jangan-jangan bila sumpah itu diberlakukan untuk setiap calon pemimpin terpilih, mereka enteng-enteng saja bersumpah.
”Ah hanya sumpah ini, hanya di bibir doang,” batin mereka. Sebab, saya ingat, Anas juga enteng-enteng saja mengucapkan, ”Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas.”
Dan siapa pun tahu, pengadilan Tipikor telah menjatuhi hukuman kepadanya yang salah satunya karena ada lebih dari satu rupiah yang dikorupsi Anas dari Hambalang. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 28 september 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: