Home » Kolom SMILOKUI » HARTA, TAKHTA, WANITA

HARTA, TAKHTA, WANITA

SEPERTI kebanyakan orang, saya dan beberapa teman juga menggunjingkan penetapan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK. Hanya gunjingan, bukan analisis seperti yang keluar dari mulut para ”pakar hebat” yang kita baca-lihat-dengar dari media massa dan jejaring sosial.
Jon Lebay yang bersama kami mendadak menyela dengan pertanyaan yang saya pikir keluar dari konteks topik gunjingan.
”Mana yang paling penting antara harta, takhta, dan wanita?”
Kami tentu saja sering mendengar ketiga istilah yang sering dikait-kaitkan dengan ambisi lelaki, khususnya Jawa. Konon, seorang lelaki ”harus” punya ketiganya agar sempurna dalam hidupnya. Jadi, semuanya penting. Tapi mana yang paling penting?
Melihat kami terlongong-longong, si penanya malah cengengesan. ”Begini-begini, aku ini sudah punya ketiganya. Jadi, aku sudah sempurna sebagai seorang lelaki.”
Omongan Jon itu merusak suasana karena teman-teman yang lain mendadak berpamitan. Maklum, mereka sudah tahu Jon bukan teman obrolan santai yang menyenangkan. Ketika hanya berduaan, Jon berkata lagi, ”Harta, aku sudah punya. Tidak berlebihan memang, tapi cukuplah,” ujarnya.
”Saya percaya, Jon. Kalau sekali-sekali utang teman atau bank, lumrah kok.”
”Jelas dong. Aku kan orang yang ingin miskin sehari saja tak pernah kesampaian.”
”Lo, kamu sumaker toh?”
”Maksudmu? Michael Schumacher, mantan pebalap Formula One?”
”Hehehe, sugih macak kere (kaya bergaya miskin)….”
”Kamu tak percaya bahwa aku ingin miskin sehari saja tidak kesampaian?”
”Bukannya tidak percaya, tapi apa iya setiap hari kamu kaya, Jon?”
Jon tertawa. ”Miskinnya ndak cuma sehari, tapi setiap hari…. Pokoknya, aku merasa sudah berharta. Titik.”
”Takhta?”
”Kau tahu perusahaan milikku. Bukankah itu artinya aku punya takhta di perusahaanku?”
Saya menganggut-anggutkan kepala. Ssst, tapi maaf Pembaca, Jon memang punya perusahaan. Di situ dia menjadi pemilik, CEO, sekaligus karyawan. Sebagai karyawan, dia mampu melakukan banyak tugas: dia berproduksi, melakukan supervisi , dan bahkan dia sendiri yang mendistribusikan produknya. Top, betul-betul makhluk mandiri yang pantas jadi anutan. Silakan Anda menerka sendiri ”perusahaan” apa yang disebut-sebut Jon.
”Oke, takhta sudah. Dan aku tahu, wanita juga sudah kau punya. Kalau orang bilang istrimu itu korban PHP (pemberi harapan palsu) dari lelaki bernama Jon Lebay, cuekin saja, ya? Intinya, kau sudah sempurna sebagai lelaki. Jadi, mana yang paling penting menurutmu, hartamu, perusahaanmu, atau istrimu?”
Jon melotot. ”Itu pertanyaanku untukmu, kenapa kau lempar balik?”
”Karena aku terlalu bodoh menjawab pertanyaan pintarmu itu. Bayangkan, kau punya istri, tapi tak punya ‘perusahaan’. Karena tak punya ‘perusahaan’, kau tak berharta. Tanpa harta, bagaimana kau makan dan mengajak serta istrimu makan? Kalau tidak makan, kau wassalam.”
”Jadi, menurutmu harta yang paling penting?”
”Sebentar, Jon. Kau bisa bilang dengan harta kau bisa bikin perusahaan dan punya modal untuk cari istri. Jadi, kau akan menyimpulkan bahwa hartalah yang paling penting. Tapi dari mana harta itu bila tidak ada ‘perusahaan’ tempat kau jadi bos yang punya takhta atau hanya menjadi pekerja di situ?”
”Berarti takhta yang paling penting?”
Aduh, kok saya jadi bingung sendiri? ”Maksudmu dengan takhta kita bisa dengan mudah mendapat harta dan wanita?”
”Bisa saja.”
”Tapi Jon, untuk punya takhta, kau harus punya banyak hal. Salah satunya ya harta itu. Ngebet jadi ketua RT misalnya, kau setidak-tidaknya perlu mengajak kumpul beberapa orang. Ndak perlu money politic segala, setidak-tidaknya kau harus menyediakan kopi dan camilan untuk mereka. Butuh harta untuk beli kopi dan camilan, kan? Untuk punya takhta kadang-kadang kau juga perlu seorang wanita seperti peran Ibu Suri dalam cerita Kerajaan Tiongkok kuno. Untuk jadi ketua RT, kau juga perlu restu istrimu, kan? Itu baru permainan kecil-kecilan, loh. Bagaimana bila permainannya besar seperti takhta Kepresiden RI atau Kepala Polri?
”Kalau begitu, wanitalah yang paling penting.”
”Loh?”
”Kau menyinggung soal takhta Kepresiden RI dan Kepala Polri, bukan? Nah, sudah jadi rahasia umum, tanpa restu Megawati Soekarnoputri untuk Jokowi mencalonkan diri sebagai Presiden RI lewat PDIP, apa ya kita punya presiden bernama Joko Widodo? Lalu konon Komjen Pol Budi Gunawan itu juga dapat restu dari….”
Pembaca, maaf saya tak bisa menjawab pertanyaan sekaligus simpulan-simpulan yang dibuat Jon. Bisa membantu? Terima kasih. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 18 Januari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: