Home » Kolom SMILOKUI » GULLIT DAN MENTERI SUSI

GULLIT DAN MENTERI SUSI

SEMASA Ruud Gullit masih beraksi di lapangan sepak bola, hampir selalu dia menjadi pusat perhatian penonton. Bahkan sebelum pertandingan dimulai dan belum dia sekalipun menyepak bola, mata penonton bakal terarah kepadanya. Rambut gimbalnya itulah magnetnya.
Dalam persepakbolaan, gaya rambut memang sering dipakai para pemain sebagai ikhtiar menarik mata penonton. Beragam gaya pun muncul. Kita sempat mengenal gaya rambut kuncir ala Roberto Baggio, gaya singa ala Carlos Valderrama, gimbal ulet-keket ala Taribo West, gaya anak singkong Ronaldo asal Brasil (untuk membedakan dengan Cristiano Ronaldo).
Sudah galib, pesepakbola tenar selalu punya pengidola dan para pengidola itu galib pula mencontoh sang idola. Gaya rambut para pemain tersebut pun sempat menjadi tren. Bahkan, gaya ndesa seperti pada gaya anak singkong yang dikenalkan Ronaldo saat dia menjadi bintang paling menonjol selama perhelatan Piala Dunia 2002 di Korsel-Jepang, juga diikuti banyak orang.
Apa yang membuat seorang pemain sepak bola perlu mendadani rambutnya sedemikian rupa sehingga dia menonjol di lapangan? Seorang pemain sepak bola itu juga manusia yang ingin jadi pusat perhatian. Sebelum kualitas permainannya dilihat dan diakui orang, dia perlu ”unjuk diri” terlebih dahulu. Salah satu ikhtiarnya adalah dandanan rambut. Dia ingin keluar dari keseragaman seperti ditunjukkan lewat kaus dan celana. Dia butuh sesuatu yang lain untuk merebut perhatian. Dan itu adalah gaya rambut, dan atau tato. Hari gini, kita tak lagi takjub melihat tubuh pemain penuh tato.
Sekali lagi, sebelum kualitasnya sebagai pesepakbola diakui, seorang tetap  butuh pengakuan terlebih dahulu lewat gaya berpenampilan. Bila pun mainnya jelek dan ditarik keluar lapangan untuk diganti pemain lain, gayanya telah sempat menyita perhatian penonton.
Tapi sekadar bergaya pun tidak cukup. Gaya bisa setiap saat afkir ketika muncul gaya baru. Bahkan gaya yang ngetren (artinya banyak yang mengikuti gaya tersebut) seperti potongan gimbal Gullit, ala mohawk Beckham, atau gaya anak singkong Ronaldo, tetaplah punya masa akhir yang tak lama. Tren memang bisa berulang, tapi tak pernah abadi. Kualitas seseorang, dalam hal ini sebagai pesepakbola, yang akan abadi dalam sejarah persepakbolaan.

***

GULLIT, Ronaldo, dan Beckham tidak menyandarkan namanya dari dandanan rambut. Siapa pun mengakui mereka adalah pemain hebat. Mereka adalah kelas juara, tentu dengan perolehan trofi yang berbeda-beda. Mereka hebat sebagai pemain sepak bola. Jadi ketika mereka menjadi pemain kunci kesebelasan masing-masing dalam meraih penghargaan, konyol sekali menyebut keberhasilan itu berkat dandanan rambut atau gaya berpenampilan mereka. Begitu juga sebaliknya, bila mereka gagal membawa klub atau negara mereka memperoleh hasil bagus dalam kompetisi atau turnamen, menggelikan betul bila ada analisis yang mengatakan kegagalan itu gara-gara dandanan mereka.
Ada lagi satu kenyataan tak terbantahkan: seorang pemain bagus belum tentu ciamik ketika menjadi pelatih atau manajer. Perannya sudah berganti. Gullit, misalnya, tak termungkiri sangat bagus bersama Feyenoord, PSV Eindhoven, AC Milan, Sampdoria, dan Chelsea. Ketika menjadi Pelatih Chelsea, dia sempat memperlihatkan kualitas sebelum dia didepak dan digantikan Gianluca Vialli, pemain yang dia rekrut. Sebagai pelatih, Gullit kalah populer ketimbang koleganya di AC Milan dan Timnas Belanda: Frank Rijkaard yang sempat moncer di Barcelona.
Apakah kegagalan Gullit sebagai pelatih lantaran dia tetap mempertahankan gaya rambut gimbalnya?
”Bukan. Dia gagal karena selalu kegerahan memakai jas selama menunggui timnya berlaga,” ujar Jon Lebay sambil ngakak, seperti biasa. ”Jadi bila nanti Menteri Susi (maksudnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti-Red) gagal, itu pasti karena beliau tak terbiasa memakai sepatu berhak tinggi, atau ketika sedang rapat serius, ide-idenya mandek lantaran tak bisa merokok, atau sibuk menutupi tato di kakinya.”
”Jon, ini tentang Ruud Gullit. Dan kau termasuk orang yang ikut melakukan perundungan (bully) terhadap Menteri Susi?”
Jon tetap ngakak. ”Tidak, tentu saja. Merokok, tato, omongannya yang campur-campur Inggris-Indonesia, atau pendidikannya yang tak lulus SMA sama sekali tak berkaitan dengan kiprah beliau selama lima tahun mendatang. Keberhasilan, itu yang kuharap, atau kegagalannya pasti bukan lantaran gaya berpenampilannya. Seperti ceritamu, Gullit berkualitas sebagai pesepakbola bukan berkat rambut gimbalnya. Dan Gullit yang top sebagai pemain, ternyata tidak bisa top sebagai pelatih.”
”Jadi bila Menteri Susi gagal, itu artinya memang dia lebih pas sebagai pengusaha. Begitu maksudmu?”
”Ssst! Kamu keterlaluan. Belum juga satu bulan beliau jadi menteri. Masih ada 59 bulan lagi, kan?”
”59 bulan itu lama, ya?”
”Cukup untuk seorang bernama Bandung Bondowoso membuat 21.513.465 candi.”
”Kok Bandung Bondowoso?”
”Agar kau tahu, persoalan di negara ini tidak bisa diatasi dengan main sulap. Kalau bisa, jadikan saja Limbad, Pak Tarno atau Deddy Corbuzier sebagai menteri atau sekalian saja presiden.”
Mendengar nada nyolot Jon Lebay, saya terdiam. Benar, kita sering menginginkan persoalan rampung dengan mantra abrakadabra atau simsalabim. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 9 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: