Home » Kolom SMILOKUI » GARIS DARAH

GARIS DARAH

MENJELANG Pilpres 2014, Presiden Jokowi (yang saat itu masih calon) disebut-sebut punya trah atau garis keturunan dari Raden Wijaya sang pendiri Kerajaan Majapahit. Ada pula yang menyebut Jokowi adalah keturunan penguasa Kerajaan Mataram (tentu yang dimaksud Mataram yang didirikan oleh (konon) Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati.) Selanjutnya yang lebih ramai lagi dan diperkarakan: sebutan bahwa Jokowi itu keturunan Tionghoa.
Nah, baru-baru ini, satu lagi ihwal garis keturunan untuk presiden kita: Jokowi itu habib. Selama ini, habib dimaknakan sebagai ”keturunan Rasulullah saw”. Dan itu bukan sembarang keturunan. Menurut Rabithah Alawiyah (organisasi pencatat garis keturunan Nabi Muhammad saw), habib adalah keturunan Nabi Muhammad yang dicintai. Adapun keturunan Nabi yang di Indonesia umumnya berasal dari Husein bin Ali bin Abu Thalib disebut sayyid. Nah, tak semua sayyid itu habib. Jadi jelaslah, sang habib itu istimewa.
Jangan tanyakan kepada saya mengenai kebenaran itu semua. Jawaban saya hanya akan: ”Iya kali… tapi masak iya?” Hanya saja, saya disadarkan bahwa pada zaman ketika orang-orang hubungan keterikatan atau nasab androidiyah, blackberriyah, i-phoniyah, ternyata kita masih butuh menjelaskan nasab berdasarkan garis darah. Juga yang tak kalah penting untuk disadari: kita masih suka pada konsep bahwa seorang pemimpin atau penguasa harus punya garis darah atau trah pemimpin juga. Feodalisme rupanya macam tokoh dalam film Highlander atau vampir atau makhluk abadi.
”Asyik kalau begitu,” komentar Jon Lebay sambil terkekeh, ”Nanti dibikinkan peraturan bahwa barangsiapa mau mencalonkan diri sebagai pemimpin wilayah tertentu seperti lurah/kepala desa, bupati, gubernur, dan presiden harus punya pohon silsilah keluarga yang  menyebutkan salah satu leluhurnya adalah pemimpin.”
”Lo kok kamu malah senang? Bukankah lagi ramai diperkarakan soal dinasti dalam kekuasaan wilayah tertentu?”
”Iya dong, kalau peraturan itu dibuat, aku punya peluang mencalonkan diri, ya paling tidak sebagai kepala desa. Sebab, gini-gini aku ini keturunan Kerajaan Pajajaran, keturunan Prabu Siliwangi, loh.”
”Mana buktinya?”
”Ya nanti aku buatkan. Ngarang dikit-dikit boleh, kan?”

***

KALAU opini Jon itu benar-benar dibuat peraturannya, tertutup sudah jalan saya untuk jadi penguasa suatu wilayah, hehehe…. Saya sendiri tak pernah mengenal kakek, baik dari garis ayah atau ibu. Bahkan asal dan makam kakek dari garis ayah pun wallahu a’lam bishawab. Semasa nenek saya dari garis ayah masih hidup, hanya secebis cerita kecil: kakek saya sudah meninggal ketika ayah saya masih di dalam kandungan. Nenek saya itu pun hanya menggeleng-geleng ketika ditanya makam sang kakek.
Saya sungguh tidak pernah menyesal sedikit pun dilahirkan dan dibesarkan tanpa pernah bisa menyebut sebuah trah. Tapi kalau soal mengarang asal-usul untuk keperluan guyonan, saya agak pintar. Sering sekali bila baru bertemu dan berkenalan dengan seseorang, saya sering dianggap berasal dari suku tertentu.
”Bukan Jawa, ya?”
Saya selalu menjawab dengan asal. Seingat saya, asal yang sering saya sebut adalah Makassar dan Aceh. Kalau yang bersangkutan bertanya lagi, ”Kok lahir di Brebes?”
Itulah saat saya mengarang sebuah cerita. Kadangkala saya menghubungkan diri dengan Karaeng Galesung, kadangkala dengan para sultan di Kerajaan Samudera Pasai. Lawan bicara saya biasanya menganggut-anggut tapi saya tahu: dia tahu bahwa saya mengarang-ngarang saja.
Tentu saja, saya tak menisbikan betapa penting identitas yang berkenaan dengan asal-usul, garis darah, latar belakang budaya, suku, dan lain-lain. Tapi bila semua itu dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang tak berkaitan dengan kinerja atau jabatan seseorang, lebih-lebih yang lahir dari konsepsi feodal tentang hak istimewa suatu trah, saya anggap hal itu hanya gelembung sabun yang memesona tapi satu-dua detik berikutnya plas…. Tak berbekas.
Ya, jangankan pada posisi seperti Pak Jokowi, bila Jon Lebay jadi kepala desa,  pasti banyak orang yang ingin membuatnya tersanjung. Mereka yang hobi main catur misalnya, akan datang dan memintanya jadi penasihat atau pembina. Barangkali ada yang lalu memaklumatkan begini: ”Jangan salah, Pak Jon ini jago catur. Tiada hari tanpa bermain catur itu moto beliau. Jadi juara juga beberapa kali. Hanya sekarang sudah sibuk, jadi tak ada waktu bermain catur lagi. Tapi kita tahu kecintaan beliau terhadap catur. Jadi sangat layak beliau jadi pembina kelompok catur kita.”
Apakah benar Jon Lebay jago catur? Tanyakan saja kepadanya langsung bila Anda sempat bertemu dengannya. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 11 Januari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: