Home » Kolom SMILOKUI » CICAK TIDAK BERDUEL DENGAN BUAYA

CICAK TIDAK BERDUEL DENGAN BUAYA

JON LEBAY sering menyebut dirinya orang yang tidak suka ikut-ikutan arus utama alias mainstream. Berbeda dari yang lain. Hanya saja, ada kalanya dia itu pokoke njoget eh sori, pokoke beda.
Kisah antara KPK dan Polri yang secara seragam dipopulerkan dengan ungkapan ”pertarungan cicak versus buaya” yang bahkan disebut jilid sekian seperti buku komik atau cerita silat itu menurut Jon hanya mengada-ada.
”Sejak zaman Nabi Adam hingga Adam Smith berlanjut ke Adam Malik dan ke artis Adam Jordan, cicak tak pernah bertarung dengan buaya,” ujarnya keras.
”Jon, itu kan hanya….”
Jon tak memberi kesempatan saya menyelesaikan kalimat karena kalimat-kalimatnya seolah-olah sudah tak sabar harus disemburkan. ”Cicak bertarung melawan buaya hanya mungkin dalam fabel, dalam dongeng dunia binatang. Aku sudah baca fabel dari zaman Aesop di Yunani kuno, dari cerita Seribu Satu Malam, fabel La Fontaine di Prancis, dari Tiongkok klasik, tak ada pertarungan cicak melawan buaya. Kalau kancil mencuri timun atau kancil memperdaya buaya, nah itu baru ada.”
”Sebentar, Jon, itu kan cara kita….”
Masih dengan ”kejam” memutus kalimat saya, Jon terus meracau, ”Kalau ada pertarungan cicak dan buaya, siapa yang lebih dulu bikin perkara? Siapa yang menantang duluan? Apa kamu pikir si cicak merayapi banyak dinding rumah, turun ke jalan menuju kali atau rawa tempat buaya bertakhta lalu dengan mengibas-ngibaskan ekornya yang gampang patah itu ia berkoar-koar, ‘Hei buaya, sini kalau berani! Badanmu saja yang gede dan mukamu seram, tapi nyalimu cemen. Kalau berani, ayo duel!’ Setelah itu si cicak mengeluarkan bunyi decakannya yang bikin si buaya tertawa.”
”Jon, imajinasimu….”
”Atau yang menantang duluan itu si buaya. Ia keluar dari lumpur rawa menuju jalanan dan mencari rumah-rumah atau pohonan yang bercicak, lalu saat bertemu salah seekor cicak, dengan memukul-mukulkan ekornya ke tanah, ia sesumbar, ‘Cak, ayo turun! Jangan nangkring di atas mulu. Eloh emang bisanya cuman jauh dari bumi. Nangkring di atas doang pekerjaan eloh. Kayak penguasa aja lagak eloh. Ayo kalau nggak cemen, turun kamu, hadapi guweh si buaya rawa yang sakti mandraguna ini.’ Dan si cicak cuma berdecak-decak, mungkin kagum ada jenis ‘cicak’ kok gede banget dan mengaku bernama buaya.”
”Jon Lebay yang berbudi dan berguna atau bolehlah disebut yang orang ‘budigunawan’, kau sudah keluar dari….”
”Yakinlah, si buaya tak pernah bakal selamat. Bukan lantaran kalah oleh si cicak yang ekornya saja gampang patah, melainkan dipermak orang-orang. Yakinlah seyakin-yakinnya, bila buaya meninggalkan ekosistemnya dan pergi ke darat, ia hanya bakal jadi sasaran permak yang ciamik dan jadilah ia tas atau sepatu. Tak ada orang yang suka pada buaya darat, bukan?”
Haduh, imajinasi Jon Lebay kata Bang Haji Rhoma ini sungguh ter-la-lu, dan itu harus dihentikan. Sepakat, hai Pembaca?
”Jon, aku akui imajinasimu itu dahsyat. Baguslah kautulis sebagai novel. Mungkin bakal lebih bagus dari kisah Animal Farm karya George Orwell. Bisa diterbitkan dan berpeluang laku keras dan kau kaya raya. Tapi harus kusetop dahulu omonganmu itu lantaran ungkapan cicak versus buaya itu hanya metafora. Tahu kamu metafora itu apa?”
Bukannya reda, Jon malah melotot dan semakin keras nada kalimatnya. ”Memang hanya kamu yang tahu soal gaya bahasa? Dan inilah letak kekeliruannya. Kalian, ya kamu dan koran-koran termasuk koranmu juga, mempersamakan KPK sebagai cicak dan Polri sebagai buaya. Sudah tepatkah?  Hanya lantaran sama-sama reptil dan bentuknya hampir serupa, kalian bikin metafora seperti itu. Menurutku, tolong dicatat ini menurut Jon Lebay, cicak hanya bisa mendecak-decak, dengan ekor yang gampang patah pula. Sungguh perumpamaan yang jauh dari KPK yang berdaya, sangat kuat, dan sangat kita harapkan banyak melakukan sesuatu. Apa yang bisa kamu harapkan dari seekor cicak? Lalu para polisi itu kalian sebut buaya. Bisa tidak terima mereka itu, lo. Istilah yang ada kata ‘buaya’ hampir selalu juga negatif: air mata buaya, buaya darat, dan lain-lain.”
”Sudah telanjur jadi perumpamaan keren, lalu bagaimana?”
”Itu urusanmu dan orang-orang pers. Aku tegaskan: aku, Jon Lebay, tak pernah ingin mendengar ada cicak bertarung dengan buaya. Tidak realistis, dan yang tidak realistis itu mengada-ada. Yang mengada-ada selalu bikin hidup tak keruan. Wassalam.” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 25 Januari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: