Home » Kolom SMILOKUI » BILA SUDAH BENCI…

BILA SUDAH BENCI…

SAAT itu Nazi sudah menduduki Roma, juga seluruh Italia. Di tempat-tempat umum, banyak poster dan plakat provokatif mengenai kebencian kepada orang Yahudi. Salah satunya yang tertempel di pintu sebuah toko berbunyi: Vietato l’ingresso agli ebrei e ai cani (Yahudi dan anjing dilarang masuk).
Joshua Orefice membaca plakat itu dan bertanya pada Guido Orefice, ayahnya, ”Kenapa anjing dan Yahudi tidak boleh masuk, Yah?”
”Mereka tidak menginginkan keduanya. Orang-orang melakukan apa yang mereka kehendaki. Ayah kasih contoh, ada toko perabotan yang melarang orang Spanyol dan kuda masuk ke situ. Kemarin Ayah pergi ke apotek dengan seorang teman dari Tiongkok yang membawa kangguru. Orang di apotek bilang Ayah boleh masuk tapi tidak untuk orang Tiongkok dan kangguru.”
”Tapi kita mengizinkan semua orang masuk ke toko buku kita, Yah.”
”Kalau begitu, besok kita juga menuliskan tanda larangan. Apa yang kau benci?”
”Laba-laba. Ayah?”
”Orang Visigoth. Jadi, mulai besok toko kita akan ditempeli tulisan larangan masuk untuk laba-laba dan orang Visigoth.”
Ayah dan anak berdarah Yahudi itu tak pernah mewujudkan penempelan plakat larangan itu. Pada hari itu, keduanya dibawa perwira SS sebelum diangkut kendaraan menuju sebuah kamp konsentrasi bikinan Nazi. Mereka korban kebencian dan dendam. Informan yang membocorkan keyahudian mereka adalah lmantan tunangan Dora, perempuan yang ketika itu sudah jadi istri Guido dan ibu Joshua.
Tapi bila keduanya tak keburu dibawa ke kamp konsentrasi, apakah larangan itu bakal ditempelkan di toko buku kecil mereka? Siapa pun yang menonton La Vita E Bella (1997), film yang mengisahkan cerita itu, kemungkinan akan sepakat mengatakan: Tidak mungkin!
Guido adalah lelaki yang menjadikan segala sesuatunya sebagai humor. Kemarahan, kebencian, rasa cinta, dan lain-lain dia kemas sebagai materi humor. Bahkan ketika dia dan anaknya berlarat-larat di kamp konsentrasi, penderitaan itu dia jadikan humor dengan meyakinkan sang anak bahwa yang sedang mereka lakukan di tempat tersebut adalah bermain. Sebuah permainan serius yang hadiah utamanya berupa tank. Dia tahu, Joshua sangat menyukai mainan replika tank. Ya, bahkan ketika laras senapan seorang tentara Nazi mengarah ke kepalanya akibat dia tertangkap setelah menyelundup ke ruang kaum perempuan di kamp yang sama untuk mencari istrinya, mukanya lucu dan ekspresinya riang.
Bagi Guido, hidup itu indah, seperti yang jadi tajuk film, bila kita mampu menghumorkan semuanya. Contoh paling jelas adalah orang Visigoth yang dia katakan pada anaknya. Kaum Visigoth pada masa itu memang sudah tidak ada. Tapi nama itu yang dia pakai untuk membalas pelarangan dan kebencian terhadap kaum Yahudi oleh Nazi. Sebab, salah satu wangsa turunan bangsa Visigoth adalah Jerman. Dia menghumori Nazi yang kebanyakan orang Jerman sebagai bangsa yang sudah tak dikenal lagi.

***

KALAU kita punya rasa suka dan cinta, kita juga punya rasa benci. Kita membenci sesuatu atau seseorang. Atau, diri kita inilah sasaran kebencian itu. Terhadap sesuatu atau seseorang yang kita benci, mungkin tak akan pernah kita jumpai sesuatu yang beres padanya. Bahkan bila pun yang ia atau dia lakukan sesuatu yang baik, benar, dan mulia, mungkin kita akan memandang sebaliknya. Tak ada bagus-bagusnya pada sesuatu atau seseorang yang kita benci. Cara pandang kita tertutup oleh kebencian. Intinya, bila seseorang membenci saya, maka kemungkinan dia tak pernah melihat sesuatu yang benar pada diri saya. Itulah daya brutal sebuah kebencian.
Teman saya menjadi salah seorang dari beberapa juri lomba baca puisi berskala nasional di Kota Semarang. Bersama semua juri, para juara diputuskan. Peraih juara pertama juga salah seorang teman saya. Antara juri yang teman saya dan peraih juara pertama itu, sebelum lomba berlangsung telah terjalin sebuah konflik yang boleh dibilang serius. Berdasarkan pengakuan salah satu dari mereka, ada kebencian yang lama terpendam di antara mereka.
Di luar persoalan lain seturut lomba itu, yaitu kekecewaan banyak peserta mengenai ketidakberesan lomba sampai-sampai muncul banyak provokasi di jejaring sosial yang menyebut-nyebut soal ”mafia sastra menyerang Semarang”, dan juri yang teman saya itu jadi sasaran ”amuk” itu, saya menghargainya sebagai orang yang tidak menjadikan kebencian personalnya ketika memilih juara, hal yang bisa saja dia lakukan dalam lomba baca puisi. Sekali lagi, di luar persoalan yang demikian hiruk-pikuk soal kecurangan lomba sebab saya tidak tahu persis mengenai hal itu, saya patut memberikan apresiasi bagus untuk teman saya yang juri itu. Dia sepakat kepada keputusan dewan juri tanpa membantah sedikit pun sebab juara pertama, juga para juara lain, berdasarkan penilaiannya memang layak.
Bahkan sang teman yang juara pertama itu mengirim BBM seusai pengumuman: ”Oom, kita patut memberi apresiasi pada (nama juri yang teman saya-Red). Betapapun berseberangan denganku, dia tetap profesional sebagai juri.”
Jadi, ini ihwal mengelola kebencian yang tak termungkiri sering menyelinap ke hati kita. Sudah bisakah kita melihat sesuatu yang bagus dan beres pada orang yang kita benci? Bukalah jejaring sosial, dan mungkin kita membaca yang sebaliknya. Satu contoh, tak ada yang beres pada apa pun yang dilakukan Presiden Jokowi bagi orang-orang yang dulu tidak memilihnya. Sama juga saat pilpres lalu, tak ada yang bagus pada Prabowo bagi yang tak memilihnya.
Kita mungkin perlu belajar dari Guido yang menghumorkan kebencian. Dan semoga hidup yang terbebas dari kebencian adalah hidup yang indah. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 16 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: