Home » Kolom SMILOKUI » BERSYUKUR

BERSYUKUR

INSYAALLAH (bila Tuhan mengizinkan) beberapa hari lagi tahun 2015. Sebagian besar di antara kita bakal menyambut kehadirannya dengan penuh kegembiraan, juga rasa syukur, juga gaung harapan: semoga setahun mendatang segalanya lebih baik.
Dan pada setiap malam menjelang pergantian tahun, akan ada perayaan massal, bahkan mundial (mendunia). Agaknya memang perayaan malam Tahun Baru menjadi satu-satunya perayaan orang seluruh dunia, dari kota megapolitan seperti New York hingga pelosok di Kepulauan Salomon yang ada di sebelah timur Papua Nugini. Ya, sebuah perayaan tanpa batas-batas negara, kelompok etnis, agama, dan lain-lain.
Saya tidak tahu sejak kapan perayaan Tahun Baru itu menjadi mundial. Saya juga tidak tahu sejak kapan malam pergantian tahun dirayakan dengan pesta pora, meniup terompet, dan membakar kembang api. Aktivitas serupa itu sudah tak terhindarkan lagi dan seolah-olah menjadi tradisi atau ritus wajib dalam perayaan.
Nah, bila Anda adalah orang yang akan merayakan pergantian tahun dengan berpesta pora, meniup terompet, membakar kembang api, atau hanya menjadi penonton pesta kembang api itu, tolong tidak mengajak teman saya Jon Lebay. Tentu saja saya tidak bermaksud melakukan kampanye hitam atau pembunuhan karakter terhadapnya. Aksi seperti itu selain tidak keren juga sudah kedaluwarsa. Warsa 2014 yang penuh ketermehek-mehekan seperti kampanye hitam dan pembunuhan karakter seturut pemilihan presiden itu sudah hampir berlalu, bukan?
Sekali lagi, tolong tidak menyertakan Jon Lebay bila Anda ingin bergembira, meniup terompet dengan suara prat-pret yang membuat geli kuping, atau berteriak histeris melihat percik-percik api berhampuran di udara dalam beragam konfigurasi. Apa pasal? Dalam suasana seperti itu Jon akan merepet-merepet dan suara perepetnya itu sungguh bakal mengganggu kenikmatan dan kesyahduan Anda.
Pada malam pergantian tahun lalu saat menyaksikan pesta kembang api di lapangan pusat kota, saya adalah ”korban” Jon.
”Duit kok dibuang-buang hanya untuk membuat percikan api dan suara prat-pret yang sangat tidak merdu itu,” begitu ujar Jon memulai repetannya.
Saya tidak menanggapinya.
”Hedonis! Mau-maunya ditipu kapitalisme. Kita ini aneh, apa saja dibuat perayaan. Pindah kerja, pesta. Ulang tanggal kelahiran, pesta. Ulang tanggal pacaran, pesta. Ulang tanggal kawin, pesta. Lebaran, pesta. Natal, pesta. Imlek, pesta. Tahun berganti, pesta. Dapat hadiah bahkan bila nilainya kecil, juga pesta. Coba kauhitung berapa kali dalam setahun kita membuang-buang uang hanya untuk pesta?”
Saya masih belum menanggapinya, tapi itu kali saya tawari dia sebatang rokok. Ya, siapa tahu bila mulutnya menjepit rokok, repetannya berhenti.
”Siapa yang diuntungkan, coba? Pedagang. Kapitalis.”
Ketika menyulut rokok dan menyulutkan rokok yang dengan sengaja saya selipkan di bibir Jon, saya tergoda juga untuk menyergah omongan Jon. ”Ssst, Jon, hati-hati. Kapitalis, kapitalis. Pada masa Orde Baru, kau akan dianggap sebagai golongan kiri. Kau akan dicap sosialis atau bahkan lebih buruk lagi, komunis. Bahaya.”
”Pret! Ini bukan Orde Baru lagi.”
”Eh, iya ding. Tapi kau mau mengakui bahwa percik-percik api yang berhamburan di udara itu indah, bukan?”
”Pret!”
”Jon, aku tahu kenapa kau tidak suka bunyi terompet pada malam Tahun Baru.”
Jon mendelik dan tampak penasaran.
”Dari tadi kaubilang prat-pret terus. Tanpa terompet pun kau… ah lupakan. Ayolah Jon yang baik, nikmatilah suasana dan bergembiralah.”
”Aku punya cara tersendiri untuk bergembira.”
Hmm, memang Jon benar, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk bergembira. Cara seseorang itu bisa jadi berbeda-beda. Karena itu, akan lebih afdal bila kita tidak menilai cara orang meluapkan atau mengekspresikan kegembiraan. Selagi ekspresi itu tidak mengganggu kenyamanan orang lain, seyogianya kita menghormati ekspresi tersebut.
Ups, kok jadi serius dan sok bijak? Ya, sekali-sekali boleh dong, mumpung Jon sudah berhenti prat-pret. Nah, giliran Anda, silakan bila ingin meniup terompet. Tiuplah terompet Anda atau apa pun bentuk ekspresi penyambutan Tahun Baru yang Anda lakukan, dan lebih afdal sembari membatinkan doa bahwa kita akan menjadi sosok yang lebih baik setahun mendatang, juga menggaungkan rasa syukur bahwa kita masih diberi waktu, bahwa tahun masih juga berganti dan Israfil meniup terompetnya.
Selamat menyongsong (insyaallah) tahun 2015. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 28 Desember 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: