Home » Kolom SMILOKUI » ARJUNA & TELEVISI KITA

ARJUNA & TELEVISI KITA

SAYA menulis kolom ini sebelum tahu siapa di antara Rizky, Gebit, Imay, Yana, Diah, dan Barbie yang ”terkena” panah asmara Shaheer Sheikh… eh Arjuna ding, pada Grand Final Panah Asmara Arjuna yang ditayangkan Antv, Sabtu (20/12) malam. Tapi, siapa pun pemenangnya yang berhak memperoleh hadiah uang Rp 250 juta dan pergi bareng Shaheer ke India tak akan berpengaruh terhadap saya, juga (mungkin) sebagian besar dari Anda.
Lantas, kenapa saya menulis hal ini? Itu karena Jon Lebay, seperti biasa, bertanya dengan nyinyir, ”Apa Arjuna itu jones, toh?”
”Jones? Bukankah yang Jones itu Indiana yang banyak dimainkan oleh Harrison Ford? Atau maksudmu, Jones itu para pengikut Jon, ya kamu itu?”
Jon mencablek bahu saya sebelum menepuk dahinya sendiri. ”Ngaku banyak bergaul dengan anak muda, tapi istilah khas mereka saja engkau tidak tahu. Jones itu ‘jomblo ngenes’. Karena dia yang jomblo itu galau tingkat dewa, dia jadi ngenes.”
Saya tertawa. ”Jomblo bagaimana maksud eloh? Kata para dalang, istrinya banyak. Bahkan ada yang bilang, sejuta kurang satu. Sultan di Turki pada zaman baheula yang punya ratusan harem itu jelas tidak ada apa-apanya bila dibandingkan Arjuna. Ssst… Jon, ini omong-omong di antara diri kita berdua saja (pembaca kalau bisa tidak perlu mendengar, tapi perlu membaca, hehehe….), kalau jumlah istri Arjuna itu 999.999 perempuan, bagaimana….”
”Cukup! Humormu krik-krik dan menjurus. Kata anak muda, itu basi!” sergah Jon.
”Ya, bersabarlah sedikit. Maksudku, bagaimana cara sang sultan mengingat nama mereka satu per satu? Baiklah, sekarang kau harus bertanggung jawab menjelaskan kenapa Arjuna itu jones. Jangan bikin kontroversi. Tokoh yang selalu jadi ikon lelalaning jagat kok dibilang jomblo, ngenes lagi.”
”Kalau tidak jomblo yang ngenes, dia masih bisa cari pasangan sendiri. Eh, ini malah dicarikan banyak orang, diumumkan secara nasional lagi. Lewat televisi pula. Seharusnya tayangan itu bertajuk Arjuna Jones Minta Pacar,” ujar Jon, lalu ngakak.
Saya ikutan ngakak. ”Wah, nanti saingan dengan film Mama Minta Pulsa, dong.”
”Para gadis itu juga disebut dewi. Bahkan ada yang disebut mahadewi. Aku sungguh meragukan,” ujar Jon keras setelah tawa terbahaknya hilang.
”Serius amat engkau, Kawan. Meragukan apanya? Bukankah yang ikut kontes Panah Asmara Arjuna itu cantik-cantik?”
”Mungkin. Tapi benarkah mereka manusia?”
Waduh, perbincangan dengan Jon Lebay, bahkan bila itu perbincangan angin lalu, hampir selalu bikin saya pusing. Omongannya selalu mirip pertanyaan dalam teka-teki silang.
”Ah, engkau mengada-ada, Jon. Jelas-jelas mereka manusia, cantik-cantik pula.”
”Kamu menonton Graha Cinta Panah Asmara Arjuna yang jadi bagian tayangan itu?”
”Pernah melihat sekilasan, tapi tak pernah menontonnya.”
”Graha Cinta itu maksudnya tempat isolasi para kontestan. Tapi cek kata ‘graha’ di kamus. Itu artinya ‘buaya’. Kita kan sejak lama kaprah mengira itu artinya ‘rumah’, bahkan ada yang menyebutnya ‘rumah mewah’. Yang rumah itu ‘grha’ atau ‘gerha’.”
”Wah, engkau jadi munsyi sekarang, Jon?”
Jon terkikik. Pujian sebagai pakar bahasa alias munsyi itu membuat mukanya merona.
”Jadi, jangan-jangan para kontestan yang mencari cinta Arjuna itu bukan makhluk seperti kita….”
”Sudah ah, Jon, itu kan hanya tayangan televisi. Hanya pengisi waktu luang. Hanya hiburan. Kalau engkau tidak suka, ya pindah saluran saja.”
”Gayamu, Bro, kayak Anang saja….”
”Lo, kok ganti soal Anang?”
”Waktu ada yang protes tayangan langsung mengenai kelahiran anak Anang dari rahim Ashanti, enteng sekali kawanku dari Jember itu bilang, ‘Aku terima banyak pihak yang enggak suka. Buat aku, ini dinamika. Buat yang senang, aku terima kasih sudah ikut doain. Dan, buat yang enggak suka, tinggal ganti channel‘. Ganti saluran sih gampang-gampang saja. Tapi bila setiap memencet pengendali jarak jauh (remote control) hanya menjumpai tayangan lain yang sama saja, itu berarti ada persoalan serius dalam pertelevisian kita. Hak publik mendapat tayangan bermutu itulah yang harus diperjuangkan,” ujar Jon sembari mendelik dan mengacungkan telunjuk ke arah saya.
”Loh, jangan protes kepadaku dong. Sana protes ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).”
”Ah, sama saja. Sudah tak terbilang tayangan yang disemprit KPI. Begitu tajuknya diganti dengan yang baru, tayang lagi deh. Empat Mata disemprit, ganti deh dengan Bukan Empat Mata. Jangankan cuma tayangan, partai yang tidak melewati electoral threshold yang artinya tidak boleh ikut pemilu lagi, cukup ganti nama, daftar lagi, ikut lagi. Misalkan partaimu Partai Ganda tidak lolos electoral threshold, kau cukup ganti dengan Partai Ganda Campuran atau Partai Ganda Sejahtera, atau apalah. Nah, andaikan kolom Smilokui-mu ini disemprit, kau cukup ganti nama Kuismilo….”
”Wah, kok kayak produk minuman saja…. Tapi kalau menurutmu lebih banyak tayangan televisi yang tidak bermutu ketimbang yang sebaliknya, aku harus nonton apa?”
”Siapa yang mewajibkanmu menonton televisi? Banyak membaca atau berzikir jelas lebih jos, kan?”
Hehehe, janur gunung alias tumben, saran Jon begitu bijak. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 21 Desember 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: