Home » Kolom SMILOKUI » ALL IZZ WELL

ALL IZZ WELL

DI bidang jurnalistik, konflik diyakini memiliki nilai berita yang tinggi. Perseteruan dua pihak dijadikan produk berita yang dibayangkan akan dikonsumsi secara lahap oleh publik (pembaca, pendengar, pemirsa). Itu sebabnya jelang dan beberapa waktu setelah Pilpres 2014 lalu, kita dibanjiri oleh berita perseteruan dua pendukung capres-cawapres.
Tak hanya dari media massa yang sudah ada sebelumnya, badai berita perseteruan itu juga datang media massa baru yang mendadak muncul bak cendawan pada musim hujan itu . Bejibun. Itu belum dengan jejaring sosial yang tak kalah ramainya membuat suasana seolah-olah mau ada Baratayuda. Walhasil, berita mengenai perseteruan tak pelak jadi konsumsi kita sehari-hari.
Sebagai jurnalis, kadangkala saya bertanya-tanya: benarkah publik menyukai berita tentang konflik? Lagi-lagi saya harus terantuk pada adagium yang jadi mitos orang media massa bahwa bad news is good news. Konflik adalah berita buruk, dengan begitu ia bagus diberitakan. Saya pribadi lebih suka good news is good news dan saya yakin publik juga meyakini hal serupa. Itu sebabnya perdamaian dua pihak yang berseteru, alhamdulillah juga disukai publik. Dan perdamaian itu tentu saja good news. Istilah islah yang berasal dari bahasa Arab ikut populer seturut kesukaan publik pada berita mengenai perdamaian dua pihak yang berseteru.
Jadi, wajar saja publik pun menyukai berita mengenai ”perdamaian” Jokowi dan Prabowo, dua pihak yang jadi ikon ”perseteruan” beberapa waktu lalu. Kita suka melihat mereka saling berbicara, saling melempar senyum, dan berpelukan, berjanji saling berkunjung. Kenapa yang seperti itu tidak dari dulu?
”Ya tidak bakal ramai. Koranmu kurang sedap dibaca. Ibarat rujak, tak sedap bila tidak pedas. Lagi pula, kalau kau mau jujur, orang-orang sepertimu ikut membuat rujak yang memang pedas bertambah kepedasannya,” komentar Jon Lebay, nyinyir seperti biasa.
”Oke, oke, Jon. Tapi kau juga suka berita perdamaian, bukan?”
”Jangan khawatir, Bro, aku orang yang cinta perdamaian. Karena itu, aku berharap saling senyum dan saling rangkul Jokowi-Prabowo itu tak semata jadi konsumsi berita sesaat. Aku tak ingin perdamaian itu hanya semata soal kepentingan politik.”
”Maksudmu?”
”Halah, kau kan juga tahu, dalam politik tidak ada hubungan dua orang atau pihak yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan.”
”Ya iya sih. Lalu kau punya resep agar hubungan keduanya tak sekadar hubungan kepentingan politik?”
”Besanan.”
What?
”Pak Prabowo punya anak lelaki dan Pak Jokowi punya anak perempuan. Sudah besanan saja,” tandas Jon, ngakak.
”Alah, nanti orang-orang bilang, ‘Itu perkawinan politik. Tujuannya hanya ini, ini, ini. Dan orang-orang sepertiku, terpaksa juga menuliskan juga omongan seperti itu.
Jon masih tertawa. ”Sebagai warga negara, aku sih berharap orang-orang seperti Pak Jokowi, Pak Prabowo, dan yang lainnya bisa bersikap seperti para pemain Timnas Spanyol….”
”Jon, yang jadi Juara Dunia Jerman, bukan Spanyol yang kemarin lolos grup pun tidak. Bahkan Spanyol dihajar 1-5 oleh Belanda.”
”Kalimat saya belum selesai. Maksud saya saat Spanyol Juara Eropa dan Juara Dunia. Kau lihat para penggawanya dari Barcelona dan Real Madrid. Kau tahu sendiri bagaimana dahsyatnya media massa memberitakan pertandingan yang disebut El Clasico itu. Saat pertandingan pun, kesan ‘perang’ betul-betul sungguh tak terelakkan. Tapi saat berada di Timnas, mereka bisa bekerja sama dengan baik, bukan? Suporter Barcelona pun bisa duduk bersandingan dengan suporter Real Madrid dan sama-sama berteriak, ‘Vamos, El Furia Roja!’ dan saling berpelukan ketika Spanyol cetak gol.”
Lumayan juga analisis Jon kali ini.
”Indah sekali bila seperti itu. Kalau itu yang terjadi pada pemerintahan Jokowi-JK lima tahun mendatang, pasti keduanya bisa mewujudkan apa yang mereka janjikan saat kampanye dulu.”
”Itu dia. Tak mudah memang. Sekali saja keduanya salah langkah, mereka harus siap, tak hanya menerima kritik, tapi hujatan. Diakui atau tidak, Jokowi jadi presiden salah satunya adalah imbas dari kebudayaan populer. Budaya Pop. Siapa yang jadi selebriti, ia akan memegang podium. Tapi di dunia pop, tak akan ada yang bertahan lama bila selebriti bersangkutan tak punya kualitas yang dicitrakan sebelumnya. Dan untuk menjadi selebriti, seseorang punya senjata berupa dukungan netizen. Netizen ini sangat ekspresif. Ia bisa memuja dengan pujian sundul langit. Tapi ia juga bisa menghujat dengan kutukan paling bengis. Diakui atau tidak, Jokowi diantar ke puncak kekuasaan oleh para netizen ini. Kau….”
”Jon, Jon kok serius amat sih?”
Jon tidak peduli dan melanjutkan perkataannya, ”Kau tahu soal Shame on You untuk SBY, bukan? Lihat, seorang presiden pun tak sanggup mencegah ekspresi spontan dari para netizen.”
”Kalau, begitu apa saranmu untuk Jokowi agar kuat dan bisa menjawab semua kritik dan ungkapan ekspresi spontan itu sehingga bisa istikamah menjalankan pemerintahan secara baik?”
Jon tertawa. ”Tontonlah film 3 Idiots dan dengarkan saran Ranchodas Shyamaldas Chanchad. Bila kau sedang galau dan merasa sedang tertekan, letakkan tangan di dada dan ucapkan, ‘All izz well’.”
Giliran saya yang tertawa dan kalau masih memungkinkan, saya ingin mengusulkan Jon Lebay sebagai penasihat presiden. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka 19 oktober 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: