Home » Kolom SMILOKUI » OH GELAR, OH STATUS

OH GELAR, OH STATUS

SUATU ketika saya diminta mengisi dialog di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Beberapa hari sebelum acara, seorang panitia menelepon dan menanyakan gelar akademik saya.
Dengan bergurau, saya menjawab, ”Untuk lulusan S-4 itu gelarnya apa, Mas?”
Si panitia tertawa. Siapa pun tahu, jenjang pendidikan tertinggi hanya sampai S-3. ”Ini hanya untuk bikin rilis dan tulisan di back drop,” katanya.
Saya sebutkan gelar akademik saya sembari meminta (bila diperbolehkan) untuk tidak mencantumkannya. Dia sepakat. Dan dari empat pengisi dialog, saya seorang yang dicantumkan namanya tanpa gelar.
Saat itu Jon Lebay menyindir saya, ”Itu lantaran kau malu terhadap gelar akademikmu.”
Dia tahu, bersama saya ada profesor doktor, insinyur plus magister, dan satu orang yang sarjana hukum punya gelar istimewa kiai haji (KH). Apakah saya malu mencantumkan nama saya plus sarjana pendidikan (SPd)?
”Tentu saja tidak, Jon. Kau tahu sendiri, untuk gelar itu aku mencapainya tujuh tahun, kan? Hehehe…. Kalau saat itu ada peraturan yang serupa dengan Permendikbud 49/2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) yang memberi batas pada mahasiswa untuk memenuhi beban SKS selama empat-lima tahun, tamatlah riwayatku di tengah jalan. Jadi wahai Jon Lebay yang baik, aku tak pernah malu hanya menyandang SPd, tapi aku juga berhak tidak mencantumkannya, kan?”

***

ADAKALANYA, begitu tahu ada SPd di belakang nama saya, orang bertanya, ”Lo kok tidak jadi guru?”
Saya tertawa dan menjawab, ”Saya tidak punya potongan jadi guru.”
Bila si penanya belum puas dan bertanya lagi, ”Sebagai SPd, Anda kan punya Akta Mengajar untuk jadi seorang guru. Apa bidang studi Anda?”
Nah, ini dia! Jawaban saya sering ditafsirkan sebagai alasan saya tidak menjadi guru. Saya SPd dengan bidang studi bahasa Prancis. Idealnya, saya mengajar bahasa tersebut. Dengan jenjang studi saya yang S-4(-3) utawa S-1, setidak-tidaknya saya bisa mengajar di SMA. Di Indonesia, tidak banyak SMA yang mengikutkan mata pelajaran bahasa Prancis sebagai materi ajar untuk murid. Padahal, orang seperti saya banyak sekali. Jadi?
Ya, tidak banyak teman saya yang ”beruntung” mengikuti ”jalan yang lurus” sebagai karier mereka. Ada banyak yang jadi guru, tetapi mereka mengajar mata pelajaran lain. Yang lebih banyak adalah orang-orang seperti saya: ”tidak memberdayakan” gelar akademiknya.
Tapi kita sama-sama tahu, sarjana bidang studi lain pun sangat banyak yang tak menempuh ”jalan lurus”. Sarjana hukum menjadi salesman/salesgirl parfum atau sarjana sastra jadi pengusaha properti. Apakah ketika menawarkan parfum, si sarjana hukum bilang bila Anda tak membeli parfum ini, Anda akan dianggap melanggar pasal sekian dengan pidana sekian tahun?  Apakah sarjana sastra itu memakai pendekatan teori kesusastraan ketika menawarkan sebuah rumah?

***

DI sebuah grup tertutup di Facebook, seseorang mengunggah status mengenai posisinya yang terancam sebagai guru mata pelajaran Bahasa Prancis. Di sekolahnya, mata pelajaran itu sudah hilang.
Berbagai testimoni muncul, juga pertanyaan, juga saran-saran. Salah satu pertanyaannya: bila tidak ada jaminan menjadi guru mata pelajaran bahasa Prancis, kenapa banyak perguruan tinggi masih membuka jurusan tersebut? Kenapa setiap ganti menteri, ganti pula konsep pendidikannya?
Ada juga yang memberi saran: ”Mending tidak melihat ke belakang saja. Tatap masa depan lebih optimistis toh banyak jalan menuju sukses.” Saran lainnya: ”Ayo gali potensi diri! Saya lulus 1994, tapi sejak 1999, bahasa Prancis saya nggak terpakai. Alhamdulillah, masih bisa makan sampai saat ini….”
Semester ini saya diminta mengajar satu mata kuliah di tempat saya dulu berkuliah di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis Unnes. Para mahasiswa itu selulus nanti akan punya gelar sama dengan saya. Saya goda mereka dengan pertanyaan: ”Bagaimana bila kalian lulus nanti, tak ada lagi SMA yang membuka mata pelajaran bahasa yang kalian pelajari?”
Jawaban mereka beragam. Tapi saya menangkap kesan mereka tidak parno bila nanti kenyataannya seperti pertanyaan saya. Mereka terlihat optimistis dan penuh renjana (passion) untuk mengeksplorasi ilmu tentang bahasa Prancis.
”Tuhan sudah memberi kalian jatah penghidupan. Lagi pula, kita tak pernah rugi menguasai suatu ilmu,” kata saya.
Saya juga tahu, dibandingkan ketika saya berkuliah, pihak jurusan sudah membuka beberapa mata kuliah terapan seperti bahasa Prancis untuk perhotelan, pariwisata, penerjemahan, juga jurnalistik.
Saya tak pernah menyesali pilihan bidang studi saya ketika berkuliah betapapun itu tidak menjadi wahana penghidupan saya. Kita bisa menjadi apa saja, syukur-syukur sesuai dengan keinginan kita. Dan yakinlah pembaca, saya tak akan menolak bila presiden terpilih meminta saya untuk menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga. Setidak-tidaknya, ketika bertemu Presiden UEFA Michel Platini yang orang Prancis itu, saya bisa mengobrol tentang sepak bola dengannya, tentu dengan bahasa si Monsieur tersebut, hehehe….
”Menteri? Emang eloh siape?” rutuk Jon Lebay.
”Ya, nasib orang, Jon. Siapa tahu? Yang penting kan usaha….” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 14 September 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: