Home » Kolom SMILOKUI » KETIKA “MAHADEWA” MENIKAH

KETIKA “MAHADEWA” MENIKAH

MISALKAN saja, Anda mengidolakan Cristiano Ronaldo. Pada suatu ketika, Anda diminta Pak Kepala Desa untuk main sepak bola pada turnamen antarkampung. Pada saat pertandingan, para pemain dibolehkan memakai kaus apa saja. Anda, tentu saja, memilih memakai jersey nomor 7 bertuliskan Ronaldo.
Anda meminta seorang teman untuk membuat video mengenai aksi-aksi Anda di lapangan. Tapi Anda rupanya bukan orang yang piawai bermain. Sebagai pemain sayap, Anda punya kesempatan masuk ke kotak penalti dan siap bikin gol. Beberapa kali Anda punya kesempatan itu, termasuk yang tinggal berhadap-hadapan dengan kiper. Bola yang Anda tendang, kalau tidak melambung, ya meleset ke sisi kiri atau kanan gawang. Anda disoraki pendukung lawan. Anda digerutui pendukung sendiri. Tapi Anda tertawa dengan berkilah, ”Gawangnya kurang tinggi dan kurang lebar. Ronaldo asli saja pernah gagal, apalagi Ronaldo KW 2, hehehe….”
Teman Anda diam-diam mengunggah video itu ke Youtube dengan judul kocak yang bombastis dalam bahasa Inggris Hall of Shame of ”Cristiano Ronaldo” yang kalau diterjemahkan dengan bebas: Prasasti Memalukan ”Cristiano Ronaldo”. Lalu video itu jadi trending topic dunia. Jutaan orang melihatnya, termasuk Ronaldo asli.
Apakah reaksi Ronaldo asli? Apakah dia ingin menuntut Anda yang telah mempermalukan jersey kebanggaannya? Saya membayangkan pemain Real Madrid itu hanya berkata, ”Nao importa. E engracado! (Tak masalah. Lucu, kok!)”
Adik lelaki saya yang sekarang sudah punya dua anak saat itu masih SD. Saat itu televisi menciptakan demam Bollywood termasuk kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana dari India. Jadi, demam kisah dari India, yang di negeri kita dikenal sebagai kisah pewayangan itu, tak hanya berlangsung sekarang, tapi juga pernah terjadi belasan tahun lalu. Ini biasa: muncul tren, hilang, dan muncul kembali suatu waktu.
Selepas Shalat Isya berjamaah, dia dan beberapa temannya keluar dari mushala. Begitu sudah memakai sandal, membentuk barisan ke belakang, mereka berjalan sambil berseru-seru: ”Hidup Ram! Hidup Ram! Hidup Ram!”
Saya yang menyaksikan itu sekejap bertanya-tanya siapakah Ram yang disebut-sebut itu. Saya hanya tersenyum ketika tahu Ram itu Rama yang mereka lihat aksinya dalam drama serial Ramayana. Saya hanya tersenyum melihat anak-anak yang masih bersarung dan berpeci itu, simbol-simbol yang merujuk pada Islam di Indonesia, tengah menyeru-nyerukan nama yang lahir dari kebudayaan Hindu. Adik saya dan teman-temannya itu asyik-asyik saja: mereka mengidolakan Ram dan mereka mengekspresikannya dengan yel-yel. Dan saya tak harus menganggap mereka melecehkan salah salah satu kepercayaan hanya lantaran menyerukan nama yang berasal dari kebudayaan Hindu selepas mereka turun dari mushala, masih bersarung dan berpeci.

***

LAIN soalnya dengan seorang lelaki yang mau melangsungkan upacara perkawinan di suatu tempat (berdasarkan foto-fotonya yang saya lihat di Kaskus) di Jatim, beberapa waktu lalu. Dia memakai kostum Mahadewa, plus beberapa tulisan bernada kocak.
Ya, sejak beberapa bulan lalu hingga sekarang, banyak orang mengalami demam drama serial dari India. Mereka kesengsem dan sebagian mengidolakan tokoh-tokoh semacam Arjuna, Bima, Drupadi, juga Mahadewa atau Parvati. Dan sudah galib, orang suka mengekspresikan pengidolaan itu. Mungkin saja calon mempelai lelaki itu pengidola tokoh Mahadewa dan mengekspresikannya dalam kostum perkawinan.
Ketika berjalan menuju ke tempat pengantin perempuan, orang-orang tertawa melihatnya. Sang pengantin perempuan memakai jilbab sebagai busana upacara perkawinan. Tapi para penganut dan tokoh Hindu di Bali tidak tertawa. Beberapa situs memberitakan kegeraman mereka. Mahadewa adalah sosok yang diagungkan dalam kepercayaan mereka. Si pengantin lelaki itu dianggap melecehkan kepercayaan mereka.
Saya tak ingin terlibat dalam soal sensitif yang bisa kontroversial seperti itu. Saya pernah mengalaminya semasa kuliah. Saya menyutradarai pementasan teater yang mengambil kebudayaan Bali sebagai pendekatan artistik. Biar klop dengan itu, kata pengantar dalam buklet pertunjukan, saya buka dan tutup dengan ”Om swasti astu” dan ”Om santi santi.” Beberapa dosen mengatakan pada saya bahwa beberapa penganut Hindu geram dan mengganggap yang tertulis dalam buklet itu pelecehan terhadap kepercayaan mereka. Alhamdulillah, kegeraman itu luruh setelah saya menjelaskan ketiadaan maksud pelecehan dan bahkan kami ”memuliakannya” sebagai bagian dari proses pertunjukan.
Secara individual, kisah itu menyadarkan saya bahwa kita harus superhati-hati dan supercerdas bila berkaitan dengan simbol-simbol agama dan kepercayaan. Arswendo Atmowiloto dan banyak yang lain pernah merasakan penderitaan akibat dianggap melecehkan simbol-simbol itu.

Ronaldo mungkin hanya tertawa bila seseorang yang memakai kaus dengan namanya tak becus menendang bola. Tapi Ronaldo mungkin geram bila bertemu orang yang sengaja meludahi logo Real Madrid. Padahal Real Madrid bukan agama. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 7 September 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: