Home » Kolom SMILOKUI » HARGA UMPATAN

HARGA UMPATAN

BEBERAPA hari ini, banyak dari kita yang mengantre di SPBU. Tentu saja itu bukan pengalaman baru buat kita. Sudah beberapa kali kita ”terpaksa” antre untuk memperoleh beberapa liter bensin, petramax, atau solar. Mengantre, lebih-lebih bila kita melakukannya dalam antrean yang panjang, sering sekali membikin kita galau, atau bahkan stres.
Kegalauan dan stres atau ketertekanan secara psikologis memunculkan beberapa reaksi. Marah, mungkin yang paling banyak jadi pilihan. Perwujudan rasa marah itulah yang berbeda-beda dari diri kita. Ada yang hanya memendam dalam-dalam di hati, tapi berkonsekuensi dadanya mbededeg. Sesak. Ada yang mengumpat-umpat, juga dengan ragam umpatan yang berbeda-beda.
Dan di SPBU seperti halnya di tempat-tempat lain yang menjadi wahana antrean, kita sering mendengar orang mengumpat. Mungkin umpatan itu memunculkan ketegangan atau konflik yang bisa segera diselesaikan pada saat itu juga. Tapi mungkin pula kata-kata kasar yang keluar dari pengantre itu segera tertiup angin dan terbang entah ke arah mana. Tak ada efek. Tak ada konsekuensi lanjutan.
Tapi Florence Sihombing marah di sebuah SPBU. Dia memendam kemarahan itu lalu mengeluarkannya dengan mengumpat-umpat di Path, salah satu jejaring sosial yang bisa diakses banyak orang. Dan umpatannya itu lalu diterima sebagai penghinaan. Lebih dahsyat lagi, penghinaan itu terbaca sebagai tak tertuju pada satu orang, tapi orang satu daerah: orang Jogja.
Konsekuensinya? Florence di-bully di jejaring sosial, didemo, dilaporkan ke polisi, dan diancam dikeluarkan dari tempatnya berstudi di UGM. Betapa mahal harga yang harus dia bayar untuk beberapa kalimat umpatan yang dia unggah di akun jejaring sosialnya.

***

”AKU kan sudah sering bilang, di dunia maya kita tidak boleh asal tulis, asal curhat, lebih-lebih kok asal umpat. Bahaya. Di-bully saja sudah menyesakkan apalagi dibui,” komentar Jon Lebay soal kasus Florence.
”Apa itu indikasi bahwa banyak dari kita yang belum melek internet?” tanya saya.
”Wah, aku bukan pakar dunia maya. Soal sudah melek atau masih merem internet, tanya saja pada Pak Roy Suryo atau sekalian pada Pak Tifatul Sembiring,” jawab Jon.
”Tapi kasus Florence ini kan bukan yang pertama, Jon.”
”Itulah, maka kau harus selalu hati-hati. Sekali kau menuliskan atau mengunggah sesuatu yang menyakiti orang atau lembaga tertentu, kau bakal dikeroyok banyak orang. Kau akan jadi musuh bersama. Dan ketika kau sudah jadi musuh bersama, kehidupan pribadimu bakal dikupas habis, bahkan bila itu tak berkaitan sama sekali dengan isi tulisan atau unggahanmu di jejaring sosial.”
”Maksudmu?”
”Apakah saat mengumpat-umpat Florence mengatasnamakan dirinya sebagai mahasiswa S2 di UGM?”
”Kalau lihat tulisannya dalam screenshot yang banyak beredar, dia tak menyebutkan status kemahasiswaannya.”
”Itulah. Tapi apa yang muncul sebagai serangan balik untuknya? Tak hanya di jejaring sosial, tapi juga di media massa daring dan cetak, semua mengembel-embeli dirinya sebagai mahasiswa S2 yang menghina orang Jogja. Itu seperti yang kukatakan, sekali kau jadi musuh bersama di dunia maya, semua yang menyangkut dirimu bakal dibuka, dan kadang kurang fair.”
”Jon, hati-hati, omonganmu bisa ditafsir bahwa kau membela Florence, lo.”
”Aku kan hanya bilang kurang fair, dan itu sering tak bisa dihindarkan.   Aku hanya bersimpati padanya bila nantinya benar-benar dia dikeluarkan dari tempatnya berstudi. Menurutku, apa permintaan maaf lewat kuasa hukumnya itu tidak cukup?”
Jon lalu bercerita mengenai temannya yang mengalami nasib hampir serupa dengan Florence. Bedanya, teman Jon itu tidak mengeluarkan umpatan yang menghina di akun Facebook-nya. Dia malah menajuki tulisannya sebagai ”Surat Cinta”, yang kalimat-kalimatnya mendayu-dayu dan agak puitis. Lembut dibaca.
Tapi kelembutan itu bernada satire dan ”menampar” pihak-pihak yang diceritakan. Dia memang menuliskan sikap dan tindakan beberapa koleganya yang dia nggap tidak manusiawi, otoriter, dan banyak lagi lainnya. Pada akhirnya, ”Surat Cinta” itu berbuah surat pemecatan dirinya sebagai salah seorang pengajar.
Isi dari ”Surat Cinta” itu sudah sering dicurhatkan ke Jon Lebay dan beberapa orang lain. Tak ada konsekuensi selain nasihat untuk bersabar dan beberapa saran tindakan yang bisa dia lakukan. Tapi begitu ”Surat Cinta” itu diunggah ke akun Facebook, ramailah reaksinya. Tak hanya berhenti di dunia maya, konsekuensi itu berlangsung pula di dunia nyata. Dia ”diserang balik” dan dikupas beberapa sikap dan perbuatannya yang dijadikan rasionalisasi atas pemecatan dirinya.
”Jadi, sekali lagi hati-hatilah di dunia maya, lebih-lebih di jejaring sosial,” ujar Jon bergaya seorang resi dari pertapaan di kaki gunung.
”Jangan-jangan Florence dan teman yang tak kausebutkan namanya itu hanya orang yang kebetulan saja sedang nahas. Mereka curhat di jejaring sosial dan mengalami penderitaan.”
“Maksudmu bagaimana?”
”Jelang Pilpres lalu, bukankah jejaring sosial dipenuhi oleh hujatan, umpatan, fitnah dari dua pendukung?”
”Itulah enaknya punya sekutu yang akan membela. Florence dan temanku tak punya pembela. Tapi ssst… sudahlah, presidennya sudah jelas kok kamu ungkit-ungkit hal itu lagi sih?”
Jon ngacir. Sikap Jon itu bikin saya ingin mengumpat, dan alhamdulillah, bisa saya tahan.(*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 31 Agustus 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: