Home » Kolom SMILOKUI » TONI BLANK DAN SUAREZ

TONI BLANK DAN SUAREZ

JON Lebay mengatakan bahwa sekarang ini seseorang yang bisa benar-benar dia percayai hanyalah Toni Blank.
”Kau serius, Jon?” tanya saya sambil memegang dahinya kalau-kalau dia sedang demam dan ucapan itu hanya igauan orang demam.
Mantap dia mengangguk. ”Semua ucapan Toni jujur. Apa yang saat itu melintas dalam benaknya, dia ucapkan. Kita mungkin tidak paham kalimat-kalimatnya, tapi kita tidak dituntut memahami ucapannya, bukan? Kita hanya diminta melihat, mendengarnya komentar-komentarnya, dan kalau saat itu kita tidak tertawa, jangan-jangan diri kitalah yang tidak waras. Ucapan Toni yang penghuni panti sosial itu membuat kita merasa tetap menjadi orang yang waras. Aku akan memercayai siapa pun yang bisa membuat diriku tetap waras.”
Tentu saja saya sepakat dengan argumentasi Jon mengenai Toni Blank. Saya juga menyukai Toni. Saya sering menontonnya dari Youtube (atau situs-situs lain yang menempelkan tautan video Toni Blank  Show ketika saya ingin tertawa. Di kolom ini, saya pun beberapa kali menyebut namanya sebagai rujukan.
Meskipun saya yakin banyak pembaca yang sudah tahu siapa Toni Blank, perlu pula saya tuliskan sedikit mengenai jati dirinya. Ia penghuni panti sosial di Yogyakarta yang mengalami skizofrenia, yakni kekacauan jiwa serius yang ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis), halusinasi, pikiran abnormal, dan gangguan fungsi sosial. Namanya dikenal  luas lewat video-video kreasi X-Code Film bertajuk Toni Blank Show yang diunggah di Facebook sebelum  ke Youtube.
Video-video itu menampilkan sosoknya bak narasumber serbabisa yang memberi komentar apa saja, terutama yang berkaitan dengan hal aktual semasa video diproduksi (kali pertama muncul di Youtube pada awal 2010, dan sudah diunggah di Facbook beberapa bulan sebelumnya). Saat itu Toni langsung moncer bak selebritas. Videonya disukai jutaan orang, tapi seperti biasa, namanya pelan-pelan tertelan oleh banyak hal lain.
Lantas kenapa sekarang ini Jon menggaungkan lagi nama Toni Blank, lengkap dengan pernyataannya bahwa hanya Toni seoranglah yang dia percayai?
”Aku muak terhadap propaganda semua pendukung kandidat capres-cawapres kita. Dengan berbagai cara mereka melakukan apa saja, terutama dalam pembentukan opini publik. Mereka memuji-muji kandidat dukungan mereka sembari menghujat-hujat kandidat lawan,” dalih Jon.
”Aduh, Jon, kok serius amat sih? Mereka berkampanye, jadi wajar begitu, kan?”
”Kau bilang itu wajar? Oke, kau tahu Suarez, kan?”
”Suarez? Luis Suarez, maksudmu?”
”Siapa lagi kalau bukan dia? Misalkan saja kau mengidolakan dia, tentu saja kau juga akan membelanya mati-matian bahwa gigitannya pada bahu Chiellini itu bersifat instinktif dan empat bulan hukuman dari FIFA itu keterlaluan. Kau juga bilang bahwa prestasi dan kualitas Luis Suarez sebagai orang yang punya kontribusi bagus dalam persepakbolaan dunia tak boleh dilupakan begitu saja. Oke, itu masih wajar. Tapi bila kau menuding Chiellini mendramatisasi insiden itu, bahwa si pemain Italia itu memprovokasi Suarez sehingga pemain Uruguay itu secara instinktif menggigit bahunya, atau bahwa Chiellini juga bukan pemain jujur karena sering melakukan diving, masih wajarkah?”
”Hmm… kalau begitu sih….”
”Itulah yang terjadi sekarang ini, di sini menjelang pilpres tahun ini. Dahsyatnya, semuanya seolah-olah meyakinkan dengan dukungan data-data. Bila kau menuduh seseorang melakukan sesuatu dengan diikuti pembeberan data-data, siapa yang tak bakal percaya? Tapi ketika tuduhan berikut data-datanya disangkal orang lain dengan data-data yang berbeda, aku yakin yang tadinya percaya, akan mulai ragu-ragu. Begitu selalu, dan salah satunya aku, orang yang setiap hari menjadi konsumen entah itu berita, entah itu fitnah tertulis, entah itu aksi setting-an, pada akhirnya termehek-mehek, dan bertanya-tanya siapakah yang benar, siapakah yang bisa dipercaya.”
”Tapi Jon, apa kaitannya dengan Suarez-Chiellini?”
”Begini, kalau ada yang memberi informasi bahwa Suarez itu tukang gigit dengan memberi bukti foto atau video ketika dirinya menggigit Otmar Bakal, Branislav Ivanovic, dan Giorgio Chiellini, kau tak bisa menyangkal bahwa itu fakta. Tapi bila kau menggambarkan Suarez sebagai vampir bengis dan jahat dan meminta orang lain untuk tidak berdekat-dekat dengannya kalau tidak ingin jadi korban gigitannya, dan menyarankan semua klub di dunia untuk tidak lagi memakai jasanya, kau sudah tidak lagi mengabarkan fakta. Kau menjadikan fakta sebagai materi propaganda. Lebih-lebih bila kau menuliskan bahwa korban gigitan Suarez tidak hanya tiga orang tapi puluhan bahkan ratusan orang. Kau menuliskan pernyataan korban lain yang sengaja kamu cari. Itu bagus, itu investigatif. Tapi ternyata diketahui bahwa narasumber yang dikutip pernyataannya itu bohong-bohongan. Pada tahap itu, kau sudah melangkah terlalu jauh: fitnah. Yang seperti itulah konsumsi kita selama beberapa waktu ini. Dan aku muak!”
”Jadi, karena kau tak memercayai kedua pasangan itu, kau tak akan menggunakan hak pilihmu? Ingat, Jon, kau dulu yang menyarankan aku untuk tidak golput.”
Alih-alih menjawab, Jon malah ngakak menonton Toni Blank Show.” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 29 Juni 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: