Home » Kolom SMILOKUI » TOLERANSI ALA NADINE LEBAKI

TOLERANSI ALA NADINE LEBAKI

”KISAH yang kuceritakan ini untuk siapapun yang ingin mendengar. Kisah tentang mereka yang berpuasa, kisah tentang mereka yang berdoa. Kisah tentang sebuah kota terpencil yang dikitari ranjau. Terperangkap dalam peperangan antara dua kelompok yang sama-sama sakit hati di bawah terik matahari. Tangan mereka berlumuran darah atas nama salib dan bulan sabit. Dan dari kota terpencil ini, yang telah memilih saling berdamai dari sejarah mereka yang hanya dirajut oleh pagar kawat berduri dan senapan. Ini sebuah kisah panjang mengenai para perempuan berpakaian hitam. Tak ada pijar gemintang, tak ada pesona bunga-bunga. Mata mereka kelabu. Mereka para perempuan yang memilih untuk menunjukkan keberanian.”
Narasi di atas adalah prolog film Et Maintenant On Va Ou? (Sekarang Kita Mau ke Mana?) (2011) karya Nadine Lebaki, sineas perempuan Lebanon yang sukses secara internasional untuk film debutnya, Caramel (2007). Saya teringat film itu dan menontonnya kembali ketika membaca bahwa kekerasan atas nama agama masih saja terjadi seperti yang baru dialami sekelompok orang yang tengah beribadat rosario di rumah Julius Felicianus, Direktur Penerbitan Buku Galang Press, di Kabupaten Sleman, DIY.
Kota, atau lebih tepatnya desa, dalam film itu berada di Lebanon, pada masa negeri itu terperangkap Perang Sipil antara orang Islam dan Katolik (1975-1990). Penghuninya terbagi ke dalam dua pemeluk agama tersebut. Bahkan, kompleks pemakaman di desa itu pun terbagi dua, dibatasi sebuah jalan tanah sempit. Satu bagian untuk makam orang Islam, satunya untuk yang Katolik. Desa itu dikitari ranjau dan satu-satunya akses aman hanyalah jalan yang mengarah ke sebuah jembatan sebelum memasuki jalan desa.
Di tengah konflik perang yang berkecamuk, penduduk yang berbeda agama di desa itu memilih berdamai. Tapi para perempuannya tahu, perdamaian itu bagaikan bara dalam sekam. Mereka tahu, para lelaki di desa itu bisa setiap kali mengambil senapan dan saling membunuh. Dan merekalah yang dalam film tersebut yang memilih melakukan berbagai macam cara untuk mencegah perang di negeri mereka terjadi juga di desa mereka. Bahkan, akses informasi yang mengabarkan peperangan pun harus mereka ”sabotase”.

***

SEJAUH itu semua konflik berhasil mereka redam sebelum Nassim terbunuh ketika melintasi wilayah perang di antara dua kubu. Ya, Nassim dan Roukoz adalah dua pemuda yang bisa setiap kali keluar desa untuk mencari barang kebutuhan hidup penduduk di desa. Nassim dan keluarganya adalah pemeluk Katolik. Ibu si pemuda malang sadar, kematian anaknya bakal membuat perang di desanya. Orang Katolik akan beranggapan bahwa Nassim dibunuh orang Islam. Dengan dibantu Roukoz, jenazah Nassim disembunyikan di sebuah sumur tak terpakai. Dan ketika ada yang menanyakan kabar Nassim, si ibu selalu menjawab bahwa anaknya sakit cacar sehingga harus dikarantina di kamar.
Setelah beberapa hari, kakak Nassim tak percaya bahwa adiknya sakit. Ia merasa adiknya mengalami peristiwa buruk dan itu perbuatan orang Islam. Dan ketika menjumpai kamar sang adik kosong, ia semakin yakin. Tapi sontak sang ibu mengarahkan senapan ke dirinya dan meminta anak lelaki tertua itu tetap di rumah. Dia tidak ingin kakak Nassim itu mengabarkan kematian Nassim ke orang-orang Katolik lainnya.
Selanjutnya para perempuan membuat roti yang diberi hashish dan mengundang semua lelaki. Hashish itu membuat para lelaki mabuk dan tertidur sementara para perempuan mengumpulkan senapan di setiap rumah. Dan yang lebih ekstrem, ketika para lelaki itu bangun, mereka menjumpai istri mereka melakukan ritus agama yang berbeda. Yang tadinya Islam mulai membawa salib dan menggenggam Injil, sementara yang tadinya Katolik melakukan shalat.
”Aku sekarang bagian dari mereka. Apa yang akan kaulakukan?” ujar Yvonne, istri Kepala Desa yang sebelumnya Katolik, ketika suaminya menjumpai dia baru saja shalat.
Film itu ditutup oleh pemakaman Nassim yang kerandanya dibawa oleh orang yang berbeda agama. Di jalan pembatas kedua bagian makam, para pembawa keranda berputar-putar. Harus dikubur di mana? Ke bagian yang Katolik ataukah yang Islam? Film berakhir.
Apakah film tersebut berkaitan dengan kisah-kisah kekerasan atas nama agama? Saya tidak tahu. Dalam beberapa bagian, idealisme Nadine Lebaki itu agak bombastis seperti misalnya dengan mudahnya para perempuan itu melakukan ritus agama yang berbeda. Tapi saya menghargai idealisme seutopis apa pun. Itu sebabnya saya menonton film tersebut beberapa kali dan sangat yakin bahwa Indonesia masih menjadi surga bagi kehidupan saling bertoleransi di antara pemeluk agama yang berbeda.
Film itu juga mengingatkan saya pada cerita seorang teman dari Ambon. Dia bercerita bahwa dulu setiap orang Islam hendak mengadakan acara Mauludan, orang-orang Nasrani yang membantu menyiapkan panggung, menata kursi, dan keperluan acara lainnya. Begitu pula ketika orang Nasrani hendak merayakan Natal, orang-orang Islam yang mencarikan cemara. Dulu, dan saya yakin itu bisa diupayakan kembali. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 1 Juni 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: