Home » Kolom SMILOKUI » PENGIDOLA

PENGIDOLA

MUMPUNG lagi ramai Piala Dunia 2014 di Brasil, saya mau menulis tentang sepak bola, ah. Tapi tentu ini bukan catatan analisis mengenai sepak bola. Ini hanya tulisan seseorang yang gemar menonton pertandingan televisi, itu pun hanya lewat layar kaca.

Seperti banyak penggemar sepak bola, saya juga punya klub dan pemain idola. Mungkin pula, sama seperti yang lainnya, saya akan kesulitan menjawab ketika ditanya mengapa menyukai klub atau pemain bersangkutan. Barangkali saja ada orang yang bisa menjawab dengan pelbagai argumentasi dan rasionalisasi mengapa menyukai suatu klub atau seorang pemain, dan itu bukan saya orangnya.
Saya menyukai AC Milan dan Manchester United. Kenapa? Kenapa bukan Inter Milan yang juga punya kata ”Milan” dan bukan Manchester City yang juga ada kata ”Manchester”-nya? Kenapa bukan Juventus, Napoli, Liverpool, Chelsea, Arsenal, Real Madrid atau Barcelona?
Entahlah. Cinta, kalau boleh disebut demikian, seolah datang tiba-tiba. Mungkin seperti ketika seorang lelaki bertemu dengan beberapa perempuan, lalu dia merasa jatuh cinta hanya dengan yang bernama Siska, sebut saja begitu. Padahal, bersamanya ada Laura, Dewi, dan Monica yang bila dilihat secara fisik lebih bling-bling.
Saat itu awal 1990-an ketika RCTI menayangkan Liga Italia. Pemain yang paling saya ingat pada masa itu adalah Fabrizio Ravanelli hanya lantaranĀ  rambutnya yang putih kayak salju. Dan dia bermain untuk Juventus. Tapi kenyataannya bukan Juventus yang saya sukai melainkan AC Milan, salah satu pesaing abadi dalam perebutan scudetto. Jadi, jujur saja saya lupa kenapa bisa jatuh cinta pada AC Milan. Dan itu bertahan hingga sekarang.
Lalu saya mendua ketika Liga Inggris ditayangkan salah satu televisi kita beberapa tahun berikutnya. Sama seperti terhadap AC Milan, pilihan kecintaan saya pada Manchester United juga seperti dalam istilah Inggris out of the blue alias muncul begitu saja. Saya yakin itu bukan lantaran Class of 92 atau sosok David Beckham atau Ryan Giggs. Saat itu saya tak banyak membaca koran, apalagi kok internet yang belum masuk ke tradisi sehari-hari saya.

***

SINGKAT cerita, punyalah saya dua klub kesukaan yang selalu saya bela dalam setiap pertandingan mereka, hingga saya menuliskan ini. Kalau Anda tanya, dari keduanya, mana yang paling saya sukai? Saya bisa menjawab: cinta pertama sebelum diduakan yaitu AC Milan. Repotnya ketika mereka bertemu dalam suatu pertandingan knock-out seperti beberapa kali terjadi pada laga Liga Champion, saya menontonnya tanpa renjana, tanpa antusiasme. Maklum, siapa yang menang adalah kecintaan saya, meskipun saya selalu berharap AC Milan-lah yang menang. Itu terpenuhi pada semifinal Liga Champion 2007.
Lain soalnya ketika dalam final tahun itu AC Milan berhadapan dengan Liverpool. Pilihan saya sudah jelas, dan selama pertandingan, saya mengalami ketegangan. Ketika menontonnya, tentu saja saya punya ”lawan” yaitu teman-teman yang mendukung Liverpool. Saling ejek tentu saja tak terelakkan, tetapi masih dengan senyum yang lebar. Dan ketika AC milan yang menang, saya bergembira, mereka tidak. Tapi kami tak lantas tidak berteman lagi.
Kisah lain, pada 1999 saya tinggal di Surabaya dan menonton final Liga Indonesia antara Persebaya dan PSIS. Sebagai orang yang pernah tinggal di Semarang (sebelum kembali tinggal di kota itu), saya mendukung PSIS. Saat menonton di salah satu rumah tetangga di Surabaya, saya satu-satunya yang bukan pendukung Persebaya. Sepanjang pertandingan, pinjam istilah remaja, saya di-bully. Tapi itu bikin suasana menonton jadi ramai. Dan ketika Tugiyo mencetak gol tunggal untuk PSIS sekaligus menjadikan klub dari Kota Semarang itu juara, para tetangga itu kecewa. Tapi mereka tidak kehilangan adab pergaulan. Mereka sportif dan memberi selamat kepada saya.
Saya yakin sekali, sportivitas itu masih hidup pada setiap aspek kehidupan. Karena itu, saya yakin Pilpres 2014 yang kebetulan hanya ”mempertandingkan” dua pasang kandidat mirip sebuah pertandingan sepak bola, juga punya sportivitas.
Tentu saja ada banyak orang yang berada pada posisi saya ketika AC Milan versus Liverpool atau Persebaya versus PSIS. Ada klub yang dipilih dan diinginkan untuk menang. Tentu juga, baku ejek atau baku hujat dan saling menonjolkan di antara para pengidola dari masing-masing pasangan kandidat bisa saja muncul selama ”pertandingan” berlangsung.
Dan itu sudah kita temukan lewat pelbagai medium: jejaring sosial, televisi, koran daring, dan sebagainya. Dilihat dari sisi positif, ”pertandingan” jadi ramai. Sebut saja, ada antusiasme untuk Pilpres 2014 ini.
Saya hanya berharap antuasiasme itu tetap disemangati oleh sportivitas. Para pendukung Persebaya yang menyalami saya sebagai pendukung klub lawan mereka seusai pertandingan patut benar ditiru.
Dan bagi yang pada posisi saya ketika AC Milan harus berhadapan dengan Manchester United, silakan memilih salah satu tanpa harus merasa berdosa kepada satunya. Toh ketika sudah punya AC Milan, saya tak merasa berselingkuh dengan Manchester United. Saya juga merasa tetap sportif dengan tetap mencintai keduanya bahkan ketika musim lalu dua klub itu tak sekadar nirprestasi tapi benar-benar terpuruk. Kata para pakar psikologi, itulah konsekuensi orang mencintai.
”Bagaimana bila yang tengah bertanding bukan kesebelasan kecintaan kita?” tanya Jon Lebay.
”Wah, itu juga mungkin, Jon. Tapi saya sedang menulis tentang para pengidola, bukan?” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 15 Juni 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: