Home » Kolom SMILOKUI » PELUKAN UNTUK DANTE

PELUKAN UNTUK DANTE

USAI pertandingan, Bastian Schweinsteiger dan Thomas Muller mendekati Dante. Lelaki berambut kribo-jabrik yang disebut terakhir itu berdiri dan terus menundukkan kepala. Romannya yang berkulit gelap tampak lelah dan muram. Dia seolah-olah tidak percaya, timnya, Juara Dunia lima kali, negeri yang rakyatnya sering disebut sebagai orang-orang yang mencintai sepak bola selayaknya agama itu baru saja dikalahkan, ah tidak, lebih tepatnya dipermalukan.
Kekalahan Brasil, timnya, dari Jerman dengan skor 1-7 dalam pertandingan seakbar semifinal dalam putaran final Piala Dunia 2014 itu, tak semata sebuah kegagalan ke partai final, tapi juga mimpi buruk. Mimpi buruk buat Dante dan juga untuk sekitar 200 juta orang Brasil.
Ya, Dante terus berdiri dengan perasaan tengah bermimpi buruk ketika melihat dua orang yang punya andil mempermalukan diri dan negerinya itu mendekat. Dia tetap menundukkan muka ketika dua orang yang selama sekitar 90 menit menjadi ”musuh”-nya itu memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya, dan membisikkan kata-kata.
Tak ada yang tahu apa yang dibisikkan Schweinsteiger dan Muller dengan tanpa kesan jumawa pada wajah keduanya, kesan yang bakal dimaklumi siapa pun sebab saat itu keduanya adalah pemenang. Tapi kita tahu pasti yang keluar dari mulut keduanya adalah kata-kata pelipur lara. Kata-kata yang memang sedang sangat dibutuhkan Dante.
Saya membayangkan Schweinsteiger atau Muller atau keduanya berbisik lirih, ”Ayolah, Dante, kami tahu kesedihanmu pasti tak terelakkan. Tapi jangan berlarut-larut. Ini hanya permainan. Kali ini kami memang menang, tapi sangat mungkin kali lain kau yang menang. Dan ingat lo, Bro, kami masih temanmu. Ayo bangkit, dan kami benar-benar menunggumu di Munich. Banyak orang di sana yang menanti kedatanganmu.”
Dante dan dua teman yang melipurnya itu bagian dari Bayern Munich. Saat berlaga di lapangan itu, dia memang seperti ”dikeroyok” banyak kompatriotnya di klub. Selain Schweinsteiger dan Muller, masih ada Philip Lahm, Toni Kroos, Jerome Boateng, Manuel Nauer, plus Mario Goetze yang tak dimainkan. Dan ketika semua pemain Jerman yang satu klub dengannya bergembira, dialah satu-satunya yang merana.
Ketika merana, seseorang butuh pelipuran, dan itu sudah dia dapatkan. Karena itu, dengan lirih kemungkinan Dante membisikkan ucapan terima kasih, ”Obrigado, Bastian. Danke, Thomas. Aku berada di pihak kalian untuk memenangkan laga final.”
Ya, orang-orang yang baru saja ”saling bermusuhan” itu saling berpelukan, saling memberi pelipuran. Dan adegan itu hanyalah bagian kecil di dalam histeria kemenangan dan juga ratapan pilu yang berlangsung di ”panggung” bernama Estadio Mineirao di Kota Belo Horizonte, Selasa (8/7/2014) sore.
Saya selalu menyukai adegan seperti itu. Bahkan saya yakin, kesukaan saya menonton pertandingan sepak bola tak semata pada apa yang disebut permainan, tapi juga pada cara mereka saling berinteraksi sebagai manusia. Selama pertandingan, mereka memang berada pada situasi konflik, saling berinterasi sebagai manusia. Selama pertandingan, mereka memang berada pada situasi konflik, saling bersitegang, sama-sama berkeinginan mengalahkan lawan, saling jegal, dan sebagainya. Tapi begitu permainan selesai, mereka saling bercanda, tertawa bersama, saling curhat.
Ada hakikat yang jauh lebih tinggi dari sekadar peran sebagai pemain sepak bola: manusia. Anda yang menyaksikan pertandingan Brasil versus Jerman itu pasti tahu berapa kali Dante dan Muller beradu tubuh, bahu, dan kaki. Tapi ketika pertandingan usai, mereka berpelukan.

***

BEBERAPA jam setelah pelukan dan pelipuran Schweinsteiger dan Muller untuk Dante, sebagian besar dari kita terlibat dalam ”pertandingan” yang lain: pencoblosan untuk Pilpres 2014.
Menjelang laga Brasil-Jerman, tak terelakkan terjadi perang urat syaraf di antara dua tim dan para pendukung masing-masing. Itu sangat galib.
Dan lantaran pilpres tahun ini hanya diikuti dua pasangan kandidat, suasana seperti itu pun terjadi sebelum 9 Juli 2014, tanggal ketika ”pertandingan” Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK itu dilangsungkan. Ada kesibukan dan kehirukpikukan tak terperi, termasuk saling melempar kampanye negatif. Bagaimana kesudahannya?
Hasil ”pertandingan” itu baru akan kita ketahui bersama pada 22 Juli saat KPU, penyelenggara pemilu, menentukan sang pemenang. Tapi lantaran semakin canggih dalam berteknologi, kita sudah tahu atau setidak-tidaknya sudah memprediksi siapa yang bakal menang lewat medium yang namanya quick count atau hitung cepat.
Dari banyak pengalaman sebelumnya, kita sudah diyakinkan mengenai akurasi prediksi ”ahli nujum” baru bernama hitung cepat itu. Dan bila yang kali ini pun tak meleset, tak sampai separuh hari dari saat Dante yang kalah dipeluk Schweinsteiger dan Muller yang menang, kita sudah tahu siapa pemenang ”pertandingan” paling heboh selama proses pemilu di Indonesia itu.
Jadi, bolehlah dibayangkan, sudah ada kubu yang bergembira, dan ada yang bersiap-siap merana (atau bahkan sudah merana?). Pada saat itulah saya berharap adegan kecil di Estadio Mineirao dengan aktor Dante, Schweinsteiger, dan Muller di mainkan juga di sini. Lebih-lebih lagi, sudah sejak lama kita meyakini ajaran menang tan ngasorake (menang tanpa merendahkan yang kalah) dari RM Sosrokartono sebagai nilai moral kita.
Saya tak yakin Schweinsteiger dan Muller pernah membaca ajaran Sosrokartono itu. Tapi mereka telah mempraktikkannya untuk Dante. Kita? (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 13 Juli 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: