Home » Kolom SMILOKUI » MARI BERSALAMAN

MARI BERSALAMAN

INSYA ALLAH, sebentar lagi kita merayakan Lebaran. Sebagian besar dari kita akan saling berkunjung, mengukuhkan tali silaturahmi, saling bermaafan, dan lain-lain. Sungkem dan bersalam-salaman, tentu saja.
Nah, setiap Lebaran pernahkah kita menghitung jumlah tangan yang bersalaman dengan tangan kita? Tanpa bermaksud mengecilkan Anda, saya yakin kita akan mengerutkan kening dan menjawab, ”Berapa, ya?”
Oke, mungkin saking banyaknya jadi kita lupa menghitung. Kalau begitu, berapa dari yang ”saking banyaknya” itu yang kita ingat sebagai salaman istimewa, salaman yang seolah-olah masih terasa kehalusan atau kekasaran tangan itu, keeratan atau kerenggangan genggaman telapak tangan itu, plus suasana batin kita saat mengucapkan, ”Maafkan saya, ya.” atau ”Minal aizin walfaizin, ya?”
”Halah, nggaya! Salaman saja dibahas!” celetuk Jon Lebay. ”Maksudmu apa, sih? Kehilangan bahan bahasan, ya?”
”Jon, meminta maaf dan memaafkan itu kan harus datang dari hati. Harus tulus. Sentuhan tangan dalam ujud salaman itu hanya sebagai penguat. Kayak ketika kamu mendukung Jerman dengan hatimu, kau perlu berteriak dan mengacung-acungkan tangan saat Mario Goetze bikin gol ke gawang Argentina. Iya, kan?”
”Betul. Lantas ada persoalan apa dengan saling bersalaman saat Lebaran? Kenapa pula kita harus menghitung jumlah salaman tangan kita? Kau mau jadi tukang hitung agar nanti kalau ada pemilu atau pilihan kepala daerah kau diikutkan dalam lembaga survei? Kau mau bikin quick count, bikin real count?”
Waduh, bicara dengan Jon adalah ujian kesabaran itu sendiri. Kenapa pula dia selalu menyerempet-nyerempetkan sesuatu ke ihwal yang ada kaitannya dengan dunia politik?
”Jon, jangan-jangan salaman kita saat Lebaran semata salaman mekanis. Tangan kita yang terulur, menggenggam tangan orang lain, dan mulut kita yang berucap kata maaf dan memaafkan itu seperti kerja mesin semata. Belum dari hati kita meminta maaf dan belum dari hati pula kita memaafkan. Itu sebabnya kita tidak ingat siapa saja yang kita ajak bersalaman pada saat Lebaran. Omong ekstremnya, kita banyak melakukan salaman sambil lalu, salaman formalitas.”
”Lantas itu masbuloh?”
”Mas Buloh? Orang mana dia? Seingatku, aku tak punya teman bernama Mas Buloh?”
”Wuh, katanya suka bahasa? Katanya pembela pemakai bahasa gaul? Dasar kamseupay! Gaullah sedikit, jadi kau tahu masbuloh itu akronim ‘masalah buat loh’. Yang salaman formalitas itu jadi masalah buatmu?”
”E, e… ya tidak juga sih, tapi lebih afdal kan bila kita bersalaman sepenuh hati, bukan sambil lalu….”
”Begini saja,” ujar Jon memotong kalimat saya, ”Berapa sekarang ini yang tidak mekanis pada tindakan kita? Tak hanya gerakan tubuh, ucapan kita sekarang pun cenderung seperti mesin. Kau begitu mudah berjanji, tapi begitu gampang pula melupakannya. Kau enteng berkomitmen, tapi enteng pula melanggarnya. Sudah berapa kali kita diberi janji-janji manis oleh para calon pemimpin kita, tapi mana….”
”Jon!” terpaksa saya harus memotong kalimat Jon yang, lagi-lagi, bakal berbuih-buih bila sudah masuk ke wilayah politik. ”Jon, plis… jangan bicara politik dulu. Sungguh aku bersedia mencium tanganmu kalau itu bisa menghentikanmu untuk kali ini saja tidak ngomong politik. Mana tanganmu, sini aku cium….”
Jon terkekeh sambil menyembunyikan tangannya ke belakang. ”Halah, ciumanmu itu ya sudah tidak murni, tidak dari hati. Ciumanmu itu hanya kau pakai sebagai alat untuk merayuku. Sama saja, ciumanmu tak lain juga alat atau mesin yang kau pakai untuk mencapai tujuanmu. Sudahlah, terima saja bahwa banyak tindakan kita yang masih sebagai tindakan mekanis semata. Lebaran nanti, formalitas atau tidak, ya sudah salaman saja. Saya kok masih percaya bahwa yang sepenuh hati bisa dimulai dari yang sambil lalu.”
Wuih, bijak sekali si Jon Lebay ini. Saya sepakat dengannya. Tidak mudah selalu melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Saya akui, sekian puluh Lebaran yang telah saya lalui, yang saya lakukan lebih banyak salaman formalitas termasuk ucapan maaf-memaafkan yang semata di lidah. Setiap kalinya saya berusaha meminta maaf secara tulus dari dalam hati, pun sebaliknya memaafkan seikhlas-ikhlasnya. Hasilnya, belum banyak yang berhasil. Bila saya membenci seseorang, dan saat Lebaran, saya bersalaman dengannya, lengkap dengan saling bermaafan, tapi selepas Lebaran kebencian itu rupanya betah mengendap.
Tapi bagaimanapun juga kita tetap harus mengupayakannya agar setiap tindakan kita tak selalu hanya seperti mesin belaka. Betapa pun misalnya kebencian yang saya rasakan itu masih tak mau pergi, setidak-tidaknya saya telah berusaha mengusirnya lewat ritus bersalaman saat Lebaran.
Semoga Lebaran tahun ini, saya, juga Anda, bisa kembali belajar untuk meminta maaf dan memaafkan ”dengan hati” bila kita tak ingin menjadi mesin. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 20 Juli 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: