Home » Kolom SMILOKUI » IDENTIFIKASI

IDENTIFIKASI

BEBERAPA waktu belakangan, ada kegandrungan terhadap cerita wayang, khususnya setelah sebuah stasiun televisi menayangkan serial dari India bertajuk Mahabharata. Kita tentu sudah akrab dengan kisah itu. Tapi kegandrungan banyak anak kecil, remaja, dan orang yang lebih tua terhadap kisah pewayangan pada sekarang ini buat saya adalah hal yang sangat menggembirakan. Tak perlu dipersoalkan bila kegandrungan itu semata karena ketampanan dan kecantikan para pemainnya atau kisah-kisah fantastis di dalamnya.
Saya jadi ingat seorang pembaca yang telah lama menggandrungi cerita pewayangan meminta saya saya mengidentifikasi para elite politik dengan tokoh-tokoh wayang, lalu menuliskannya di kolom ini. Saat dia meminta, wacana tentang calon presiden masih dipenuhi banyak nama. Sayang sekali, saya yang juga gandrung wayang sejak lama, tak mampu meluluskan permintaannya.
Begitu sulit buat saya yang tak suka menilai karakter satu sosok dalam pewayangan secara hitam-putih. Saya tak bisa begitu saja menerima justifikasi bahwa Duryudana tak lebih dari sosok berkarakter jahat semata tanpa punya kebaikan sama sekali. Pasalnya, saya juga mengagumi karakternya sebagai suami yang setia, setidak-tidaknya kesetiaannya terhadap Banowati, meskipun dalam wayang versi Jawa, istrinya itu digambarkan berselingkuh dengan Arjuna.
Teman-teman juga sering menertawakan saya ketika saya menjawab Dursasana sebagai tokoh wayang yang paling saya sukai dan paling saya belas kasihani.
”Dia itu kan jahat, dari Kurawa lagi,” begitu kata orang-orang.
”Mungkin,” jawab saya, ”Tapi saya suka Dursasana versi Ki Anom Suroto. Ia tokoh macam Togog yang oleh si pencipta kisah wayang diposisikan di tempat yang salah, di tempat para sosok jahat, tapi selalu menjadi pengingat raja atau penguasa yang sedang merencanakan kejahatan. Dursasana selalu membantah dan berusaha menyadarkan Sengkuni yang berniat melakukan kejahatan tertentu meskipun pada akhirnya ia tak berdaya melawan kuasa atasan, dalam hal ini pamannya sendiri yang juga Mahapatih Kurawa.”
Ya, saya tak bisa membuat identifikasi elite politik kita dengan tokoh wayang. Lebih-lebih ketika pertarungan ke tampuk RI-1 mengerucut ke dua pasangan capres-cawapres, saya tentu akan ”dikeroyok” lebih dari 230 juta penduduk Indonesia (berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2010) bila saya menulis bahwa pilpres tahun ini bak Perang Baratayuda. Wah, ngayawara banget! Membaca atau mendengar kisah perang para keturunan Barata itu dari para dalang saja saya sudah merasa ngeri, apalagi bila ikut mengalaminya. Tak hanya itu, saya juga bakal dicecar siapa yang Pandawa dan siapa yang Kurawa. Bila saya sampai menyebut satu pasangan itu identifikasi Pandawa dan satunya Kurawa, tak tahulah nasib saya dan koran yang memuat tulisan saya ini…. Anda sudah tahu bagaimana sengitnya baku hujat yang terjadi di jejaring sosial, juga di media massa (khususnya) yang elektronik dan daring.

***

SAYA tentu saja tak seberani Amien Rais yang sembari menggalang dukungan untuk pasangan yang dia dukung itu memunculkan opini Perang Badar. Maksudnya sih bagus, yakni mengajak semua saja yang mendukung Prabowo-Hatta untuk memiliki semangat berperang kaum muslim zaman Rasulullah yang hanya berjumlah 313 itu mampu mengalahkan 1.000 orang Quraisy yang dalam terminologi Islam disebut kaum kafir.
Maksud bagus ternyata tak selalu berefek bagus. Reaksi keras atas ucapan itu bermunculan, juga dari tokoh-tokoh agama.
Benar, mengidentifikasi atau menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang sudah populer sering dianggap efektif dalam proses komunikasi sosial, lewat medium apa pun. Bahkan bila seseorang itu nyata-nyata kriminal, ia bisa mengidentifikasi diri atau tindakannya dengan sesuatu yang bisa membuat dirinya bak pahlawan. Contohnya kisah perampok bank bernama John Wojtowicz dan Salvatore Naturale, yang kisahnya secara apik ditulis PF Kluge di majalah Life bertajuk ”The Boys in the Bank” dan difilmkan dengan judul Dog Day Afternoon (1975) yang ciamik menampilkan akting Al Pacino.
John dan Salvatore merampok Chase Manhattan Bank di Brooklyn, New York pada 22 Agustus 1972. Belum sempat kabur, gedung bank sudah dikepung polisi sehingga keduanya harus menyandera para petugas di bank tersebut. Dalam proses negosiasi dengan polisi yang disaksikan ratusan orang, John sempat melontarkan nama ”Attica”. Lontaran itu disambut positif oleh orang-orang. Attica adalah kisah kegagalan negosiasi dengan pihak keamanan seturut kerusuhan di penjara Attica Correctional Facility, New York, AS setahun sebelum perampokan itu. Kegagalan itu menyebabkan kematian 43 orang dan membuat marah publik. Dengan hanya mengingatkan publik pada Kisah Attica, John yang kriminal saat itu dianggap pahlawan oleh orang yang menyaksikan proses negosiasinya dengan pihak keamanan.
John Wojtowicz tentu bukan Jon Lebay, tokoh kita yang mengaku selalu ”rapopo” meski raisopopo” tapi kalau ada yang mau mencalonkannya sebagai presiden, dia punya identifikasi diri yang bakal dia gembor-gemborkan: dirinya adalah campuran dari tokoh Krisna yang bijak dan ahli politik, Semar yang waskita dan mengayomi, Arjuna yang kesatria dan rupawan, Yudistira yang penyabar… Ah pokoknya sosok yang selama ini dianggap jos.
Wuih, bila Jon benar seperti sesumbarnya, saya ikhlas seikhlas-ikhlasnya memilih dia. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 22 Juni 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: