Home » Kolom SMILOKUI » DAN INDONESIA MEMILIH…

DAN INDONESIA MEMILIH…

TAYANGAN televisi pernah membuat Jon Lebay berniat menjalani terapi psikologis pada seorang psikiater.
“Setiap kali menonton televisi bersama orang lain, aku merasa aneh. Aku merasa tidak normal,” ceritanya, beberapa bulan lalu.
“Kok sampai segitunya sih? Tayangan apa?” tanya saya.
“Banyak. Orang menikmati sinetron, mengekspresikan rasa simpati pada tokoh protagonis yang sedang menderita atau sedang dizalimi, marah dengan tokoh antogonis. Eh, aku selalu ribut mempersoalkan tetek-bengek yang kuanggap wagu. Bagaimana tidak wagu ketika ada tokoh anak pemulung yang digambarkan sedang menderita, eh pakai kaus yang siapa pun yang melek gaya tahu bahwa itu kaus branded, mereknya punya kelas.”
“Itu kan sponsor sinetron, wajarlah ikut numpang dipromosikan dalam cerita.”
”Tapi ya cerdas sedikit dong. Yang pakai seharusnya tokoh yang kaya saja.”
”Jon, aku memang bukan psikolog, tapi kupikir reaksi psikologismu itu masih terbilang wajar dan normal. Jadi, kenapa sempat berpikir untuk menjalani terapi psikologis secara khusus?”
”Tayangan lain, nyaris serupa. Dan ketika orang lain baik-baik saja, enjoy-enjoy saja menikmatinya, sementara aku ribut dan galau, kupikir ada yang salah dalam diriku. Bayangkan, orang bisa ngakak ketika menonton OVJ (Opera Van Java), eh aku geregetan menahan marah menyaksikan adegan saling bully dan kekerasan di antara para pemain. Benar, ada tulisan yang mengatakan properti yang dipakai terbuat dari material tak berbahaya lengkap dengan imbauan untuk tidak meniru adegan tersebut. Itu kan sama main-mainnya dengan bungkus rokok berisi peringatan bahaya merokok. Peringatan seperti itu kalau Arek Suroboyo bilang itu mbujuki. Tipu-tipu.”
Jon berhenti sebentar, mengunjal napas, lalu menyedot rokoknya sambil memperlihatkan bunyi peringatan di bungkus rokok. (Oya, saat Jon menyinggung ihwal bungkus rokok itu belum muncul desain yang memunculkan gambar para penderita akibat rokok).
”Paling sebal,” lanjut Jon, ”menonton acara reality show. Kontes-kontesan, idol-idolan, chef-chefan, dan lain-lain. Bukannya aku benci pada para peserta, melainkan pada cara penyajian yang dibikin seolah-olah mereka, ya para peserta itu, adalah kita sendiri, atau bagian dari diri kita. Seolah-olah kalau tidak peduli terhadap mereka, kita bukan orang yang berhati. Kita patut dipertanyakan solidaritas sosialnya. Maka, seorang anak tukang becak yang nyanyinya lebih sember ketimbang pengamen di bus, bisa menang kontes hanya lantaran kehidupan pribadinya diekspose besar-besaran dengan tujuan tunggal: pemirsa jatuh ke dalam simpati yang besar dan memilihnya sebagai sang jawara. Jadi, dia juara karena kita yang menjadikannya juara, entah itu lewat polling SMS atau apa pun. Karena itu pula, siapa pun juaranya, sejelek apa pun kualitasnya, kita ”harus bertanggung jawab” karena telah ikut memilihnya. Kau tentu ingat kan bagaimana dulu ada satu idol-idolan yang memiliki ungkapan khas ‘Dan Indonesia memilih….? Indonesia mana?”
”Sebentar, Jon! Itu kan gaya bahasa. Tunggu, aku buka buku dulu…. Ya itu gaya bahasa totem pro parte. Menyebut keseluruhan padahal sebenarnya hanya sebagian saja. Menyebut Indonesia, padahal ya hanya sebagian orang Indonesia, malah mungkin ada orang asing yang ikut memberi dukungan lewat SMS. Jadi, biasa aja kali ungkapan ‘Dan Indonesia memilih….”’
Mbuh, ah!”
Kalau sudah begitu, seperti biasa ketika berhadapan dengan Jon lebay, saya harus tahu diri untuk tidak membantahnya. Tapi saya masih menganggap reaksi Jon Lebay terhadap tayangan televisi bukan sesuatu yang akut secara psikologis. Karena itu, saya bilang, ”Solusi termudah untukmu, Jon, hanyalah mematikan televisimu. Ngirit listrik dan kau bisa melakukan sesuatu yang lain yang kau anggap lebih bermanfaat ketimbang menonton televisi tapi marah-marah melulu.”
Sejak itu, Jon hanya menyalakan televisi untuk menonton tayangan berita dan, tentu saja, sepak bola. Dan ketika ada televisi, setidak-tidaknya dua stasiun, untuk hampir 24 jam menayangkan berita yang ”miring ke satu sisi” dan sisi itu salah seorang calon presiden, apa kira-kira reaksi Jon?
”Aku tak lagi menonton berita di televisi. Memuakkan!”
”Berarti tinggal sepak bola dong yang kautonton?”
Dia mengangguk, dan dengan lirih bilang, ”Untuk pilpres kali ini aku malah merindukan gaya tayangan reality show.”
”Lo kok?”
”Kita boleh termehek-mehek. Kita boleh ikut nangis ketika menyaksikan peserta yang kita dukung dikeluarkan. Tapi setelah host bilang, ‘Dan Indonesia memilih…, dan juara diperoleh, para peserta itu bisa saling berpelukan lengkap dengan pemberian selamat. Sangat simpel memilih juara, bukan?”
Saya tak akan berbalah kata dengan Jon. Tapi membandingkan pemilihan presiden dengan hiburan berupa kontes-kontesan? Apakah Jon sadar bahwa setelah tanggal 9 Juli mendatang, kita tak bisa melupakan begitu saja presiden terpilih seperti halnya kita enteng saja melupakan Fery AFI, Tia AFI, Joy Idol, dan lain-lain?
Saya tentu tak ingin lupa untuk menagih janji-janji yang telah diumbar presiden terpilih ketika masih calon. Caranya? Kita pikirkan lagi nanti ya. Yang penting siapa pun yang jadi, dia tak terkena imsomnia. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 6 Juli 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: